Sembilan Tahun Pernikahan: Saling Berpesan jika Berpisah

Oh iya ya… sembilan tahun ya kita bareng.

img_0159

Sembilan tahun pernikahan sudah terlewati. Nggak terasa! Kalimat itu muncul saat tiba-tiba teringat bahwa kami menikah. Sudah menikah. Telah menikah. Sudah berjalan sembilan tahun lamanya. Memang biasanya nggak ngerasa menikah? Kami merasa seperti berteman, jadi kalo nggak mengingat-ingat bahwa berteman dalam pernikahan; ya kadang lupa kalo menikah. Perasaan yang aneh, bukan aneh ding! Unik.

Melanjutkan cerita tentang pernikahan, perjalanan tahun kesembilan tentu berbeda dengan isi tahun pertama. Jika tahun pertama obrolannya lebih banyak berisi tentang pengenalan dan adaptasi masing-masing, saling bertukar password untuk saling kepo akun dunia maya masing-masing, dan serupa hal itu. Di tahun ini kami lebih banyak membicarakan hal-hal tentang perpisahan. Perpisahan karena kematian, yang bisa datang kapan saja dan di mana saja.

Tahun pertama menikah, kami sama sekali tidak pernah membahas tentang hal ini. Tahun kedua, membahas hal-hal jika kami terpisah karena hal darurat maka ada kesepakatan yang harus dilakukan. Ternyata benar, terjadi gempa dan tsunami tahun 2011. Kesepakatan yang telah kami buat memudahkan kami untuk bertemu kembali. Tahun ketiga, masih seputar itu, dan seterusnya. Tahun kelima ke atas, mulai membahas perpisahan dengan lebih serius.

Ntah siapa yang akan meninggalkan dan ditinggalkan terlebih dulu, itu pasti akan terjadi. Cepat atau lambat datangnya, namun pasti akan berpisah suatu saat nanti. Hal ini yang lebih banyak kami bicarakan. Iya! Perpisahan. 🙂

Dulu tahun-tahun awal menikah, kami seperti tidak berani membahasnya. Terasa banyak ketakutan ketika salah satu mulai membahas tentang perpisahan ini, akhirnya mengganti topik lain. Namun di tahun kesembilan ini kami lebih serius, lebih mendetailkan dari semua yang ada di obrolan tahun-tahun sebelumnya. Rasanya sudah berbeda, ada ketakutan tapi juga ada keberanian. Karena yang dipikirkan bukan sekedar diri sendri, tapi ada dua anak saat ini. Sepertinya memang anak-anak yang membuat kami lebih berani untuk menyiapkan segala hal sedih yang sangat mungkin terjadi. InsyaaAllah.

Saat ini, membahas perpisahan menjadi sangat penting. Saling tahu semua password di dunia maya, bukan lagi untuk kepo dan posesif, atau pun cek ricek isi dunia maya pasangan seperti tahun pertama dulu. Namun kunci ini kami gunakan jika nanti terjadi kematian salah satu di antara kami. Terkait mengurus segala urusan di dunia maya, baik suami ataupun istri. Saya sendiri sudah tidak minat lagi untuk kepo ke akun-akun suami, apalagi kepo HP. Nggak tau ya, pokoknya nggak minat aja! Beda banget dengan jaman tahun pertama dulu. :))

Saya mikirnya simpel: hidup kita semua sudah didampingi malaikat. Jadi biarkan malaikat Atid dan Rakib menjalankan tugasnya masing-masing. Saya nggak perlu nimbrung apalagi curiga, itu kerjaan malaikat untuk banyak kepo ke suami. :)) Cukup tahu seperlunya, apa yang dikabarkan ke saya, yang diminta pendapat, yang ingin saya tanyakan, dan serupa dengan itu. Terkait hal-hal pribadi lainnya, semisal ada teman yang curhat ke suami tentang masalah pribadi; kemudian tidak diceritakan ke saya karena menjaga amanah dari yang curhat, ya gapapa. Menjaga privasi orang lain bagian dari menjaga amanah. 🙂 Saya nggak perlu tahu lebih banyak apa yang nggak perlu saya ketahui. Karena jika wanita semakin banyak tahu, maka mulut akan semakin berat dijaga. Khawatirnya saya nggak bisa menjaga mulut sendiri. Begitu sih… Kalo ada yang nampak perlu diperbaiki, ya saling mengingatkan. Pokoknya bukan jaman lagi nambah kerjaan dan pikiran untuk kepo maksimal seperti dulu. 😀

Namun hal-hal penting terkait nomor kontak, urusan administrasi, urusan janji-janji yang telah dibuat dengan orang lain baik di dunia nyata maupun dunia maya, hutang piutang, dan amanah; kami saling menginfokan secara detail. Hal ini bagian dari menyiapkan jika suatu saat terjadi perpisahan itu.

Saat membahasnya memang ada perasaan berbeda, tapi harus tetap dilakukan. Ngomongin kematian, sapa sih yang nggak takut? Tapi tetap harus dibahas sedetail mungkin. Kalo saya yang meninggal duluan, urusannya simpel. Saya bilang, saya punya janji masak buat teman-teman di grup PASMA; kalo saya meninggal sebelum menepati janji, tolong infokan di grup tentang hal ini. Menginfokan di semua grup yang saya aktif di dalamnya dan mengontak teman-teman yang biasa kontak dengan saya. Selebihnya, saya nggak punya janji dengan orang lain. Namun jika suami yang meninggal terlebih dulu, urusannya lebih kompleks. Urusan pekerjaan, organisasi, amanah, urusan rumah, dan perjanjian-perjanjian lainnya dengan pihak lain. Itulah mengapa kami membicarakan hal-hal yang harus dilakukan secara teknis dan menyiapkan mental. Siap nggak siap, harus disiapkan! 🙂 Jangan sampai saling tidak tahu janji masing-masing kepada pihak lain, utang piutang, tanggungan amanah, dan hal-hal serupa dengan itu. Suami dan istri harus saling terbuka tentang hal ini.

Menyiapkan diri itu bukan berarti harus terjadi dalam waktu dekat, hanya menyiapkan. Segala hal yang dipersiapkan, harapannya lebih siap secara mental ketika kita mengalaminya. Jika sama sekali tidak pernah ngobrolin tentang perpisahan ini, bagaimana jika suatu hari terjadi. Nggak tahu apa yang harus dilakukan, nggak paham janji-janji mana yang harus dipenuhi dengan pihak lain. Apalagi kalo terkait utang piutang, sangat berbahaya.

Seiring bertambahnya usia dan perjalanan pernikahan, sepertinya kami lebih berani untuk membahas hal-hal besar. Bukan lagi tentang kepo-kepoan, cemburu ecek-ecek, dan segala yang terjadi di tahun-tahun awal dulu. :)) Nambah umur memang seharusnya nambah matang berpikirnya, nambah dewasa mentalnya, dan nambah baik amal ibadahnya. Semoga demikian! Kalo tidak ada perubahan positif, bisa jadi ada yang salah dalam pernikahan tersebut. Selamat pagi!

Salam,

-RN-

 

 

4 thoughts on “Sembilan Tahun Pernikahan: Saling Berpesan jika Berpisah

  1. Masyallah..
    ‘Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’
    Semoga diberikan kenikmatan memandang wajah allah, juga kerinduan bertemu dgn allah.

    Btw mba dari bandung ? Salam kenal saya obi dari bandung juga, suami lg ada training ke jepang 1 tahun, baru 2 bulan berjalan.. Insyallah agustus mw berkunjung ke sana seminggu..
    Pengen nya 1 bulan, apadaya penginepan di sana mahal 1 hari 600rb..

    • Iya… Salam kenal ya Mba. Alhamdulillah… Agustus pas musim panas, banyak minum dan pake baju bahan katun ya Mba. Di sini panas banget, insyaaAllah. Selamat jalan2! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s