Hidup Sawang Sinawang: Jomblowati Beberapa Hari

img_0476

Bekal perjalanan dinas suami ke negeri minim makanan halal.

“Hidup di Jepang itu semua harus sendiri. Aku pilih kamu jadi istri karena aku yakin kamu bisa! Aku tau hidup di sini itu nggak mudah. Apalagi kalo jadi istriku, NGGAK MUDAH. Aku tau nggak bisa banyak waktu untuk sama kamu. Banyak ditinggal, banyak sendiri, harus mandiri. Aku yakin kamu bisa. Kamu harus seperti ibu Jepang dan kamu bisa!”

Keadaan dan pembiasaan, Pak…  yang mengharuskan aku BISA. Sejak awal kamu mendidik aku agar bisa hidup seperti ini. Dari awal, aku belajar. Belajar banyak  untuk bisa hidup di sini, termasuk belajar bagaimana menjadi istri kamu. Tentunya berbeda dari istri-istri orang lain. Meski masih jauh dari sempurna, tapi aku berusaha terus belajar. Dijalani saja ya Pak, alhamdulillah aku bisa menjalani dengan sehat selamat selama 9 tahun ini. Terus doakan aku! 🙂

Kerapkali saya dengar yang intinya sama, kurang lebih begini:

Enak ya Mbak, tinggal di luar negeri. Di Jepang semua bersih, sedikit polusinya, tertib. Segalanya mudah. Mba Tyas banyak jalan-jalan, banyak piknik. Sering travelling ke luar negeri. Aahh… mupeng! Aku pengen kayak mba Tyas.

Jika orang-orang yang melihat dari kejauhan, sepertinya hidup di luar negeri itu ENAK. Iya enak! Tergantung bagian mana kita mencicipinya. 😀 Sebenarnya sama saja sih di mana pun kita hidup, harus ada usaha/kerja keras untuk bisa beradaptasi dan hidup di mana pun. Yang pasti konsep rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri itu masih banyak dipakai orang-orang untuk melihat kehidupan orang lain. 🙂 Hidup itu sawang sinawang saling melihat dan memperhatikan kehidupan orang. Sejatinya, setiap kehidupan pasti punya bahagia, duka, dan perjuangan sendiri-sendiri. Semuanya sesuai porsi masing-masing.

Belum tentu aku bisa hidup ala hidupmu dan belum tentu kamu juga bisa hidup seperti kehidupanku.

Itulah konsep sawang sinawang yang harus kita renungkan dalam hidup masing-masing. Disyukuri, dijalani, dan didoani. 🙂

Toh ini singkat, baik yang bahagia maupun yang duka… Sangat singkat! 

Banyak cerita gimana hidup kami di sini, kalo yang mengikuti blog ini kurang lebih tau sebagian cerita-cerita sejak saya belum punya anak sampe anak dua hari ini. Baik suka maupun dukanya. 🙂

Cerita selanjutnya,

Pak suami sedang dinas ke luar negeri untuk beberapa hari ke depan. Singkat atau lama, itu relatif. Kali ini lebih singkat dari dua pekan. 🙂 Mengurus anak-anak dan rumah sendiri, sering ditinggal, banyak menghabiskan waktu dengan kesibukan masing-masing; ya beginilah hari-hari kami. Paling terasa ketika anak sedang nggak enak badan, sebenarnya biasa diurus sendiri. Tapi saat jomblowati begini, rasanya benar-benar berdikari. Apalagi jika pergi ke negara yang tidak akomodatif dengan media sosial. Ahh itu rasanya seperti kembali 20 tahun yang lalu: susah komunikasi! Haha…

Tapi paling sedih lagi, kalo saya yang sakit! Eh pernah kami bertiga semuanya sakit dan ayahnya sedang dinas ke luar, ke negara yang susah komunikasi. Itu rasanya… Apa ya? Cuma bisa pasrah, berdoa, dan berobat ke dokter. Ibu dan anak-anak butuh ke klinik, pasien merawat pasien lainnya. 😀 Mau kasih kabar ke keluarga di Indonesia, nanti malah jadi khawatir, jadi tambahan pikiran; ya sudah lebih baik menahan diri sampai kondisi sudah lebih baik, baru kasih kabar. Haha… Biasanya saya begitu. Nggak pengen jadi beban pikiran orang lain. 😀

Salah satu anak sedang nggak enak badan, lanjutan dari sakit sebelumnya. Masih dalam proses pemulihan, tidur malam belum benar-benar nyenyak. Masih sering terbangun. Hari-hari saya masih banyak begadang. Kabar jerawat alhamdulillah ada progress lebih baik. Sudah tidak perih dan kemerahan, masih dalam proses pemulihan. 🙂 Cerita tentang jerawat ada di sini. Semoga malam ini lebih baik, semoga boboknya nyenyak, semoga Bunda bisa ngerjain hal lain yang lebih bermanfaat.

Oya, di foto awal adalah bekal mie instan untuk pak suami. Sedih ya! Tapi mau gimana lagi, tujuannya adalah negara yang sangat susah untuk cari makanan halal. Minimal ada mie instan untuk ganjel perut sementara, sambil cari nasi sayur. Kalo bepergian ke Eropa malah lebih  banyak yang bisa dimakan, meski di sana muslim adalah minoritas. Tapi tetap banyak alternatif pilihan makanan dan restoran halal sepanjang daratan Eropa. Ya begitulah hidup… Di mana pun harus berusaha bertahan hidup! Haha… yuk ah semangat!

Salam penuh cinta dari Sendai,

-RN-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s