Persiapan Eiji dan Mama Menyambut Adik Baru

Khusyuk melihat foto USG akachan. :D

Khusyuk melihat foto USG akachan.😀

Alhamdulillah, perjalanan kehamilan sudah menginjak pekan ke 30. Tidak terasa ya! Bedanya dengan hamil pertama dulu, setiap hari membuka kalender, rasanya lama banget. Haha… Anak pertama!😀 Kehamilan kedua rasanya sangat cepat, mungkin karena sibuk dengan si kakak Eiji.😉

Persiapan packing koper buat dibawa saat melahirkan udah beres. Jaman Eiji dulu umur 28 minggu, yang sekarang pas menuju 30 minggu. Kalo ditunda lagi takut lebih repot karena perut makin gendut.😀 Dalam proses packing, Eiji sangat semangat bantu mama. Sambil terus ngoceh dan tanya ini itu, dia sibuk memasukkan barang-barang ke koper`mana lagi, mama?` beberapa kali kalimat itu muncul.😀 Sambil sibuk packing tiba-tiba dia bilang:

Nanti kalo mama bobok di byouin (rumah sakit), Eiji enggak nangis, nggak nyariin mama ya… Nanti ketemu mama lagi.

Sweet banget ya! Dia memberi afirmasi dan sugesti positif untuk dirinya sendiri.😉

Packing koper adek. :)

Packing koper adek.🙂

Alhamdulillah, kami sangat bersyukur karena diberikan amanah kehamilan kedua saat Eiji berasa di usia dan pemikiran yang sudah lumayan matang. Terkadang dia mengungkapkan hal-hal yang rasanya lebih dewasa dari umurnya.😀 Dia tau apa yang harus diperbuat dan itu sangat membantu saya. Seringkali saat menemani saya belanja, tentu saja membawa banyak barang sendiri, tanpa diminta oleh ibunyam Eiji menawarkan bantuannya.

Eiji mau bawa, ya Mama… Eiji bantuin Mama, kasian Mama capek.😀

Bocah umur tiga tahun ini membawakan dua kantong tisu di tangan kanan kirinya  dan perjalan di jalanan nanjak menuju rumah. Duuuh… saya sangat terharu melihat hal ini. Sangat-sangat bersyukur diberikan kemudahan dan anak seperti Eiji. SEmoga Allah merahmatimu, Nak….🙂

Bantu mama!

Bantu mama!

Saya selalu wanti-wanti kalo cape harus bilang mama dan kita istirahat dulu. Dia pun melakukannya, berhenti sebentar lantas jalan lagi sambil membawakan barang sampe ke rumah.

Apa nggak ada edisi nyebelin?

Ya tentu aja ADA! hihihi… namanya juga anak-anak, lagi umur tiga tahun, lagi pinter-pinternya berargumen dan negosiasi. Hahaha…. Terkadang bikin berkerut juga jidat bapak ibunya! Tapi kalo diingat lagi, sampai sekarang alhamdulillah lebih banyak kebaikannya daripada kenakalannya.😀 Bapak ibunya yang harus lebih sabar dalam mendidik. Hihihi

Eiji rasanya seperti partner sehari-hari yang selalu ingin bantu mama dan terlibat apapun. Seringkali saat saya akan membelikannya barang, ini yang terjadi:

Mama: Eiji mau yang mana?

Eiji: Enggak, kan Eiji sudah punya… Ini buat adek aja!

gitu jawabnya😀

Dia selalu ingat adeknya. Beda banget dengan saya dulu saat kecil, saya dan adek saya cuma beda 14 bulan. Jadi orangtua selalu membeli dua benda untuk kami agar nggak rebutan.😀 Kematangan dan usia sangat mempengaruhi kesiapan anak menerima adik baru. Meski ada juga sibling rivalry walaupun jarak kelahiran sudah lumayan bagus. Tetap ada kemungkinan cemburu, namun berusaha diminimalkan dengan program terencana.

Namun sejauh ini saya merasakan jarak usia tiga tahun sangat optimal bagi kami, baik saya sebagai ibu yang menjalani kehamilan, ayahnya yang akan mempunyai anak lagi, dan Eiji yang akan menerima adik baru.

Sebagai ibu, setelah menyusui sempurna selama 25 bulan, ada jeda bagi saya untuk mengembalikan kondisi kesehatan dan hormon selama beberapa bulan bersitirahat (tidak hamil dan tidak menyusui), saat itulah semua konsentrasi terpusat merawat Eiji. Saya merasakan kesiapan untuk hamil lagi, sama halnya saat hamil pertama dulu. Siap baik secara fisik maupun psikis.🙂

Bagi Eiji, kehadiran calon adiknya dirasa tidak mengganggu eksistensinya sebagai anak pertama. Dia merasa kenyang main dan perhatian dari orangtua, tanpa diinterupsi si anggota keluarga baru. Nampak dalam sikap dan penerimaannya saat tahu bahwa di perut mama ada adek. Dia kerap kali menciumi perut saya, katanya untuk cium adek.😀

Saran WHO tentang jarak kelahiran.

Saran WHO tentang jarak kelahiran.

Manusia wajib berusaha dan Allah yang Maha mengetahui saat terbaik. Alhamdulillah, insyaaAllah ketika kehamilan terprogram (sebagai bagian dari usaha manusia), InsyaAllah kita akan menjalani kehamilan secara sehat fisik dan sehat mental. Memperhatikan kondisi kesiapan anak yang lebih besar tak kalah penting. Bonusnya, bahagia maksimal! InsyaaAllah. 🙂

-RN-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s