Pengalaman Mengurus Visa Schengen via Jerman

27

Rencana awal saya akan mengurus visa schengen lewat kedutaan Jerman yang berada di Jepang. Saat itu saya berada di Sendai, kebetulan ada perwakilan Konsulat Jenderal (Konjen) Jerman di sini. Untuk memastikan dan mencari keterangan lebih lengkap (selain membaca di website), saya ke sana. Pihak konjen menjelaskan bahwa mengurus visa harus langsung ke kedutaan Jerman di Tokyo, sebelumnya harus membuat jadwal terlebih dahulu. Membuat jadwal harus jauh-jauh hari karena banyak sekali orang yang juga apply visa ke sana. Ternyata jadwal yang saya dapatkan tepat bersamaan tanggal keberangkatan saya ke Indonesia. Akhirnya saya batalkan untuk apply dari Tokyo.

Sebelum ke Indonesia, terlebih dahulu ngecek ketersediaan tanggal untuk membuat janji dengan kedutaan Jerman di Jakarta. Alhamdulillah ketemu tanggal yang pas, langsung deh saya pilih tanggal itu sebelum tidak mendapat termin karena jadwal diisi orang lain. Sesampainya di Indonesia, hal pertama yang dikerjakan tentu urusan kelengkapan untuk apply visa. Setiap negara punya kebijakan masing-masing dan Jerman adalah salah satu negara yang mengharuskan si pemohon visa datang langsung saat apply. Berbeda dengan Jepang, untuk visa turis bisa nitip diurus lewat biro travel. Oke baiklah, kita mulai bahas apa saja yang harus di siapkan.๐Ÿ˜‰

Hal-hal yang harus diperhatikan untuk permohonan visa schengen via Jerman:

  1. Buka website http://www.jakarta.diplo.de/ (kedutaan Jerman di Indonesia)
  2. Pilih jenis visa yang akan di apply (visa schengen/visa nasional karena ketentuannya berbeda). Lihat di sini.
  3. Untuk visa schengen ada beberapa pilihan (visa turis/visa kunjungan/visa bisnis), baca perlahan dan mendetail. Syarat kelengkapan berkas untuk masing-masing berbeda. Lihat di sini.
  4. Buat janji/termin dengan kedutaan. Jangan sampai lupa. Poin ini sangat penting, karena jika tidak bisa menunjukkan print bukti janjian dengan kedutaan, maka tidak diperbolehkan masuk. Masuk website > Lihat Kolom sebelah kanan Agak Bawah > Tuju Kolom Informasi dari Bagian Visa dalam hal penerbitan Visa Schengen, Pilih > Book your appointment here. Pilih > Short term visa (atau sesuai kebutuhan) > continue > Visa for visit (atau sesuai kebutuhan) > continue > continue > View Month > Pilih waktu/jam yang kosong dan sesuai jadwal kita untuk buat janji. > Cek email for confirmation > Print Out Email dan bawa print outnya di hari H. Penentuan jadwal janjian harus dilakukan jauh-jauh hari untuk mendapatkan jadwal yang pas, karena pemohon visa ke Jerman sangat padat. Jika waktunya mepet, bisa jadi tidak mendapat hari yang sesuai dengan jadwal kita.
  5. Lengkapi semua persyaratan. -> Formulir diisi dengan jelas dan komplit, dapat diunduh di website. Pas foto harus sesuai ketentuan kedutaan; jika tidak, hanya karena foto yang kurang kelihatan garis muka maka permohonan visa ditolak.ย Ini cerita salah satu pemohon yang barengan dengan saya, hanya karena bukti surat properti maka dia harus balik ke Bali. Wow?! Jakarta-Bali nggak dekat loh?!? Paspor berlaku 3 bulan terakhir, bukti reservasi tiket, reservasi tempat tinggal, surat undangan dan penjamin (jika ada), kopi buku tabungan, asuransi perjalanan . Semua disusun satu bendel sesuai urutan yang ada dalam ketentuan berkas.
  6. Biaya 60 euro. Baik visa diterima maupun ditolak, kita tetap membayarnya. Biaya dikurskan dalam rupiah saat hari itu. Pada September 2013, kami membayar Rp 910.000,- per satu visa.
  7. Jika ditolak, maka akan mendapat keterangan di secarik kertas tentang alasannya yang disertakan di dalam paspor.
  8. Lama pengambilan visa 3 hari kerja. Saat pengambilan boleh diwakilkan dengan menyertakan fotokopi KTP pemohon visa dan surat kuasa.

Demikian garis besar tentang pembuatan visa di kedutaan Jerman Jakarta.

Berikut ini cerita pengalaman saya pribadi saat mengajukan permohonan visa schengen via kedutaan Jerman di Jakata.๐Ÿ™‚

Kami berangkat dari Bandung sebelum subuh untuk menghindari macet. Waktu itu kami (saya, Eiji, dan ibu mertua) mendapat termin wawancara pukul 10.00-10.15 dan 10.15-10.30. Kami datang sesuai jadwal. Di depan pintu kedutaan (pintunya kecil, hanya muat untuk lewat satu per satu), kami menunjukkan bukti print out janjian kepada satpam. Saat masuk, pemeriksaan seperti biasa dan seluruh alat komunikasi ditinggal di pos satpam. Kami naik ke lantai dua, di sanalah tempat apply visa. Kami antri sejak jam 9.30 bersama pemohon lain. Kami menunggu sangat lama, barulah pukul 11.30 nama saya dipanggil. Wow?! 11.30? Padahal janjiannya jam 10.00. Kasian Eiji๐Ÿ˜ฆ Kesan pertama sudah tidak on-time.

Di loker petugas tidak ada pengeras suara, jadi bisa dibayangkan semua orang menunggu lama, mulai berisik, lapar, dan suara petugas tidak jelas. Hello!! nggak ada speaker. Saat saya dipanggil, saya sedang memangku Eiji yang ngantuk. Jadi mama yang datang duluan, saya di belakang beliau. Ehh.. tau nggak?! Pas yang datang duluan bukan saya, nada omongan si petugas itu langsung naik dan mukanya ketus banget. Biasa aja kan bisa. Widiiih, nggak banget deh. Saya langsung maju ke loker dan menyerahkan semua berkas permohonan. Awalnya kirain wawancara bakal duduk/masuk ruangan tertentu, ternyata wawancaranya di depan loket. Terus, kan nggak ada speaker nya, jadi suara petugas itu nggak jelas karena antara kami berbatas dengan kaca bening yang kedap suara. Hanya bagian bawah ada lubang kecil yang bisa berhubungan dengan luar. Kemudian ditanya standar: apa tujuannya, berapa lama, dll… Itu nggak lihat yang ditanya karena sambil bolak balik baca dokumen. Eh pas baca alamat saya di Jepang, langsung deh… `Anda tinggal di Jepang, alamat anda di Jepang, loh kok bisa apply di Jakarta??` nadanya naik, muka jutek menghadap saya. Widiih.. plis deh mbak, sante aja nape? Saya jawab dengan baik *inget… harus tetap sopan meski kita berhadapan dengan yang begini* Eh kalo bukan urusan apply visa dan saya butuh visa, bisa saya jutekin balik tuh. Whoahaha… Emang ente doang yang bisa galak? Ada aksi, ada reaksi dong! Jangan mau di bully siapapun.๐Ÿ˜€ Saya jelaskan kalo saya nggak dapat termin di Tokyo karena bertepatan dengan tanggal harus pulang ke Indonesia dan bla-bla-bla. Aahh.. pokoknya galak bingits itu petugas.

Akhirnya dia bilang kira-kira gini: `Oke deh ngomong langsung aja sama orang Jermannya.` Terus dia panggil pak bule Jerman, saya dikasih opsi pake bahasa Inggris ato Jerman. Satu-satunya pilihan ya bahasa Inggris toh. Pak bule pun bertanya dengan pertanyaan standar: ngapain ke Jerman, berapa lama, kenapa apply di Jakarta, kapan mau pulang, sama sapa aja, apa pekerjaan suami di Jepang.` *petugas tadi juga mndengarkan saat saya diwawancara pak bule. Pertanyaan standar. BEDANYA… si bule tanya dengan nada santai, baik, dan nggak pake bentak-bentak tuh. Cuma bilang OKE, sambil senyum ke saya. Bersamaan itu diminta berkas mama dan Eiji. Jadi mama nggak perlu wawancara. Naah.. malah simpel.

Saya heran kenapa sih petugas kedutaan yang notabene orang kita/orang Indonesia sendiri, ngomong ke sesama orang Indonesia, pake bahasa Indonesia, kenapa sih harus pake gaya macam gitu?!? Oke, petugas kedutaan memang harus detail, teliti, harus sesuai prosedur, dan tegas. Tapi nggak perlu kan harus pasang mode jutek bin ketus bin nada tinggi; saya pikir itu bukan prosedur di kedutaan manapun. Lagian itu di tanah kampung sendiri, melayani warga sendiri.๐Ÿ™‚

Setelah itu, kami diminta menunggu sekitar 15 menit kemudian dipanggil kembali. Kali ini si petugas jadi ramah ke saya, nggak pake nada tinggi lagi. Saya diminta ngecek berkas, penulisan nama, dan proses akan butuh waktu tiga hari. Wah syukur alhamdulillah, sudah ramah.๐Ÿ™‚

Kadang kita secara nggak sadar memandang sebelah mata untuk sesama warga Indonesia, masih pilih-pilih bagaimana melayani sesuai dengan strata sosialnya. Tapi ketika melayani orang asing, ramahnya kebangetan. Itu sering kita jumpai di toko-toko Indonesia. Kalo yang datang turis, apalagi bule.. pasti full service. Kalo pribumi, apalagi kulit coklat, ya… mungkin semua sudah paham kalimat selanjutnya.๐Ÿ™‚

Ahh sudah panjang curhatannya. Tapi ini nggak berlaku semua petugas begitu lho. Kebetulan aja rejeki saya dan orang-orang sebelum saya di loket itu.๐Ÿ˜‰

Semoga sukses bagi yang apply visa schengen via Jerman.๐Ÿ™‚

-RN-

18 thoughts on “Pengalaman Mengurus Visa Schengen via Jerman

  1. Cerita kayak gini selalu mengingatkan sama pelayanan petugas kasir di konbini Jepang yang gak pernah pandang bulu. Inget pernah ngantri di belakang mas-mas “tukang bangunan” yang bajunya belepotan semen tapi petugas kasir tetep ngasih plastik belanjaan dengan dua tangan sambil nunduk. Smoga Indonesia bisa ngilangin kebiasaan “pandang bulu” ini secepatnya, dan gak galak-galak lagi urusan administrasi๐Ÿ˜€ *amiiin…

    • aamiiin… iya, soal pelayanan, orang Jepang memang TOP banget! sampe kadang bikin sungkan sendiri, karena pelayannya kelamaan nunduk *setengah tiang* sambil bilang arigatou gozaimashita berulang. Kita harus belajar banyak di sini.๐Ÿ˜€

  2. Halo mbak, sy nemu link ini setelah mengalami dijutekin sama petugas visa di kedutaan Jerman. Dengan keywords “petugas jutek di kedutaan jerman” sampe deh sy ke website-nya mbak๐Ÿ™‚

    Betul mbak. ada petugas ky gitu… ajaibnya sy pernah 3x ke kedutaan laen & gak ada yg sejutek di kedutaan jerman spt yg sy temui kemaren.
    Udah jutek gak sopan pula ngelempar2 kertas.

    Aplikasi sy jg ditolak pdhal sy pernah dpt 5 visa schengen sebelumnya (&perna dpt residence permit di europe jg).
    Jd sy lg naek banding nih… bukan apa2… rasanya sy merasa dizolimi aj, sama org indonesia tp bukan sama bule-nya.

    Ternyata stelah sy gooling bnyk juga yg pny pengalaman serupa… sangkain sy aja yg dijutekin…hahaha…

    Salam kenal ya mbak๐Ÿ™‚

  3. Halo mbak, saya mau tanya, saya udh bikin janji untuk tgl 11 Agustus 2014 ini, yg saya mau tanyakan, apakah formulir dr dubes Jerman tentang Asuransi dan lembar pemeriksaan perjalanan juga harus di serahkan, atau hanya formulir apply visa saja ?, lalu bukti reservasi hotelnya boleh dari pihak ketiga seperti booking.com gak ya ?, soalnya banyak yg saya baca dubes Jerman tidak mau menerima reservasi dari pihak ketiga seperti booking.com

    Terima Kasih.

  4. hallo mbak, kebetulan googling eh ktmu blognya, saya mau interview 19agustus di kedutaan jerman trus mereka mengharuskan kartu kredit+tagihan 3bln terakhir jg gk ya? coz saya gk punya nih kartu kredit, saya sdh dpt srt undangan dari sepupu saya yg tinggal di jerman, itu sudah kuat khan ya? jd kemungkinan lolos 100%? trus applynya pake visa kunjungan kan? aduuuh jd deg2an nih, krn denger2 banyak yg ditolak aplikasinya, saya baru 1x nih ke eropa….

  5. siang mbak…
    saya mau tanya. saya apply visa kursus bahasa jerman untuk 1 tahun. saya sudah mempersiapkan dan membayar semuanya mulai dari kursus, tiket penerbangan, asuransi dll. saya sudh menunggu 10 Minggu. dan ternyata visa saya ditolak. Ironisnya visa saya ditolak disaat saya harusnya saya berangkat kemarin tanggal 18 juli. saya sangat sedih karena saya belum pernah menerima penolakan dan saya sudah mengeluarkan uang lebih dari 3000 euro hanya untuk omong kosong. saya sangat kecewa dan saya nangis dari kemarin ga berhenti. saya mau tanya, kalau kita ditolak, apakah Kita bisa mengajukan banding? itu seperti apa? saya ga ngerti pengajuan banding visa seperti apa. Dan apabila saya mau mengajukan visa lain seperti visa kunjungan di kedutaan jerman , apakah visa saya akan ditolak lagi? Terimakasih mohon bantuannya. ๐Ÿ™‚

    • ubtuk pengajuan banding bisa ditanyakan langsung ke pihak kedutaan, saya tidak memiliki info tentang hal ini. Saat visa ditolak biasanya diberi kertas berisi alasan. Bisa saja apply jenis visa yang lain, tapi sebaiknya ada jeda waktu. Visa kunjungan ke negara schengen bisa melalui kedutaan negara lainnya selain Jerman. Semoga sukses.

  6. oh gitu ya mbak. kalau saya apply visa jenis lain apakah visa saya akan ditolak lagi? Kalau visa kunjungan kaya gimana ya mbak? saya berniat apply visa kunjungan kalau pengajuan banding saya tetap ditolak. saya kebetulan ada sponsor disana. surat jaminan dari sponsor boleh tidak dari scan yang ia kirim ke saya misalnya. Karena saya pernah di kirim dokumen visa asli untuk visa kursus tapi sampai sekarang tidak sampai dan saya pakai scan dokumen yang dikirim lewat email tapi menyertakan bukti surat keterangan kehilangan dari kepolisian di jerman. apa haru seperti itu juga atau langsung saja scan dari email. terimakasih mbak..

  7. Mbk mau tanya donk kl isi formulir permohonan visa schengen jerman tentang lama rencana kunjungan itu saya tulis tanggal mulai sy berangkat dari indo dan sampe indo lagi ( sama sperti di asuransi) atau saya cantumkan hanya tanggal kerberangkatan dari indo dan berangkat dari jerman ke indo? Atau hanya selama saya disana?sy berencana berangkat dari jakarta 21 des sampe jerman 22 des. Dari jerman 03 jan dan sampe 04jan di indo. Thanks sebelumnya

  8. Salam kenal mbak.

    Lagi nyari2 info tentang petugas jutek di kedutaan jerman eh pas ada blog mbak. Anw, suami saya baru ngalamain kemarin neh. Sebelumnya pernah apply visa Amerika & Cina gak pernah ada yg seperti itu. Dikira suami saya juga mungkin peraturannya disuruh seperti itu, tapi pas suami saya sedang mengantri sebelumnya ada ibu2 bule yg duluan maju. Eala ternyata dia ramah buanget sama itu ibu2 bule, giliran suami saya jutek, kasar & parahnya tidak sopan.

    Sedih sekali saya dengernya. Kirain dia lagi gak mood aja hari itu sama bapak2 eh pas baca blog mbak ketauan deh kayanya emang begitu sifatnya. Andai bisa protes ke kedutaan yaa atau ngajak bicara petugas tsb mau deh saya sih hehehe.

    Trims banget mbak blognya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s