Syukur dan Sabar atas Pencapaian

Membaca postingan ucapan selamat untuk suami saya, dari pembimbing di almamaternya setelah beliau menerima pesan langsung dari Sensei (profesor) suami di sini. Terjemahan isinya kurang lebih:

Pembimbing ITB: “Pencapaian yang membanggakan dari Ahmad Ridwan:

“(mengutip dari pembimbing di Tohoku:) Nugraha memperoleh beasiswa JSPS tahun ini tanpa perlu wawancara. Beberapa tahun lalu hanya Mr. X yang bisa mendapatkannya di grup kami. Saya tidak pernah tahu mahasiswa asing lainnya yang bisa mendapatkan beasiswa ini. Sebanyak 150 mahasiswa dari sekitar 20,000 mahasiswa doktor/tahun dalam bidang riset fisika di Jepang terpilih untuk mendapatkan beasiswa ini. Dengan  demikian, tingkat penerimaannya kurang dari 1%.”

Kami bersyukur dan juga harus lebih banyak bersabar atas kesempatan tersebut. Dengan demikian, tentu saja tuntutan dan tekanan pekerjaan akan “lebih” daripada sebelumnya. Eiji yang selalu menantikan saat maen bersama ayah, harus semakin bersabar karena ayahnya makin sibuk.

Yap, beginilah hidup. Tidak ada bersantai ria, berleha-leha, dan harus makin sabar atas kesempatan ini. Alhamdulillah. 🙂

InsyaAllah, masih akan ada di Jepang untuk beberapa tahun ke depan.

Duhai cuaca, bersahabatlah…

Mudah-mudahan cuaca cerah, jadi Eiji dan Mommy bisa banyak maen berduaan di luar rumah. 😉

-RN-

Advertisements

Galau Gendongan vs Stroller

Kegalauan saya antara gendongan atau stroller sebulan lalu, yang tertulis di sini telah berakhir. Cara saya agar segera keluar dari galau adalah dengan segera memutuskan! 😀

Yang pertama adalah gendongan. Saya memilih Aprica seri Easy Touch Fitta warna hitam.

Kenapa hitam?

Sebenernya saya pengen ungu tapi bapaknya kan yang bakal banyak ngegendong tuh, jadi terpilihlah hitam sesuai rikues si bapak. 😀

Pengennya ungu yang ini tapi enggak jadi.

baca selanjutnya

Eiji 2 bulan

Tepat hari ini Eiji genap 2 bulan. Beberapa hari yang lalu udah bikin janji dengan dokter anak untuk cek up rutin pas umur 2 bulan. Alhamdulillah cuaca cerah plusss angin musim gugur yang super kuenceeeng, sayang kalo enggak dipake jalan-jalan. Jadi sekalian ke dokter dan menikmati suasana, kami pun pergi jalan kaki ke sana. Eiji sepertinya menikmati perjalanan, bobok anteng di stroller, hahaha. 😀

Hasil cek semuanya normal, sehat, dan pastinya makin panjang dan berat! Alhamdulillah! 😉

Eiji usia 2 bulan kurang 1 hari.

Sekarang pun tidurnya bisa ditaruh, lebih anteng, ga banyak nangis, banyak senyum, bangun malamnya juga berkurang. Beda banget pas jaman new born. Eiji juga udah banyak ngoceh “oo ao eh eh aa ao ao” entah apa artinya. 😀

Eiji ngerti waktu, kapan ayahnya pulang, kapan ada di rumah. Biasanya dia nungguin, enggak mau bobok, meski nguantuuukk (jam 11 malem gitu), tetep nahan sampe ayah maen bareng dia. Waktu maen Eiji bareng ayah memang malam hari, pagi biasanya enggak ketemu karena ayah udah berangkat, sedangkan Eiji masih bobok. Jadi dia menantikan waktu ketemu ayahnya di malam hari. 😀 Kayak kemaren malem, ayah pulang larut Eiji pun enggak mau bobok, mulai nangis cari-cari ayahnya. Memang jam segitu biasanya udah anteng di pangkuan ayah. Kebetulan ayah harus pulang malam, Eiji tetep nungguin, karena lama jadi agak rewel *plus nahan ngantuk*. Pas ayah pulang, denger suara ayah, terus dipangku… bobok deh! 😀

Intinya bayi pun tau siapa yang merawatnya, tau jadwal kesehariannya, tau kapan waktu main dengan ibu, dan kapan maen dengan ayah. 😉

Ngerasain langsung ngurus bayi, mandiin bayi dengan tangan sendiri, sejak masih bayi bangeeettt. Rasanya bener-bener “sesuatu!” *syahrini modeON*.

Yap, prinsip kami… kami berdua berkomitmen untuk bersama merawat dan membesarkan anak. Tidak ada pembedaan, ayah juga harus bisa gendong dan gantiin popok. Mudah-mudahan si anak bisa dekat dengan kedua orangtuanya, enggak cuma dekat dengan ibunya. Jadi sesibuk apapun, diusahakan ada waktu bersama anak. 😉

-RN-

Dedikasi Ibu Jepang

Stok cerita lama, baru sempat posting. Berkesempatan ngobrol dengan seorang teman Jepang, saya mendapatkan cerita ini. Wanita Jepang kebanyakan memutuskan menikah pada usia di atas 30-35 tahun. Alasannya, selepas kuliah adalah saatnya berkarir, mendapatkan gaji, bersenang-senang, atau pun jalan-jalan keliling dunia. Karena mereka menyadari bahwa ketika menikah maka kebebasan tersebut tidak akan mereka dapatkan. Tak jarang juga memilih untuk tidak menikah. Mereka tahu betul bahwa ketika sudah menikah maka ada banyak konsekwensi atas pilihan tersebut, bisa dibaca di sini.

Ia menuturkan, pilihan menikah adalah ketika seorang wanita menyadari bahwa ia ingin hamil dan memiliki anak.  Didasari pemikiran bahwa wanita memiliki umur biologis di mana ada batasan tidak bisa melahirkan lagi. Saat itulah ia mulai menghitung usianya, merencanakan kapan menikah, kapan punya anak, dan jumlah anak yang diinginkan.  baca selanjutnya

Pengen Punya Anak Berapa

Alhamdulillah! Allah memberi kami anugrah terbaik, disaat paling baik. Baby Eiji lahir pada bulan yang sama, tahun ketiga pernikahan kami. 🙂 Oya, seperti cerita di sini, Allah juga memperkenankan harapan saya untuk memiliki baby boy. 😉 Pokoknya diberi paket komplit plit! Alhamdulillah… 😀

Teringat obrolan jaman bahula, bukan obrolan serius:

Pengen punya anak berapa?

Berapa ya?!? tiga? ato empat? hahaha… Padahal saat itu belum hamil. Ga mao kalah sama Angelina Jolie yang anaknya banyak, huehehe… Ga ding! 😀  baca selanjutnya