Sikap Orangtua dan Panduan Makanan Anak

Bunda, anak saya (8 bulan) diberi minuman soda oleh salah satu kerabat saya. Sekarang rewel, tidak bisa tidur, dan perutnya sakit. Apa yang harus saya lakukan?

Demikian kurang lebih pertanyaan seorang ibu yang dilontarkan di sebuah grup. Seketika saya kaget saat membacanya. Setelah obrolan ke bawah, ternyata yang ngasih soda itu bukan anak kecil usia di bawah sepuluh tahun, tapi orangtua yang umurnya sudah berpuluh tahun. Dan alasannya karena ingin melihat ekspresi bayi tersebut mengecap minuman soda. Hey! Benar-benar keterlaluan, menurut saya. Oke, sebenernya bukan masalah umur siapa yang memberi makanan/minuman itu, tapi tentang bagaimana etika `meminjam` anak orang lain dan apa yang harus orangtua lakukan saat anaknya (bayi/balita) sedang dipegang orang lain.

Hubungan kekerabatan di Indonesia memang sangat erat, apalagi di daerah pedesaan atau perumahan yang hubungan sosialnya sangat dekat antara satu dengan yang lain. Jadi menjadi hal yang wajar, lumrah, dan biasa ketika kita jumpai anak-anak saat main ke tetangga ketika pulang sudah wangi, di wajahnya sudah ada sisa bedak, dan perutnya sudah kenyang. Ya, hal tersebut salah satu wujud dari eratnya hubungan kekerabatan antar tetangga di daerah tersebut. Di bagian ini (hubungan erat) saya setuju. Di sisi lain, saking eratnya hubungan itu maka hampir semua orang menganggap anak orang lain seperti anaknya sendiri. Saat anak-anaknya sedang disuapin makan, di sana pula ada anak tetangga, maka anak tetangga tersebut juga disuapin bersama dengan sendok yang sama. Nah ini yang perlu kita cermati. Ada beberapa orangtua yang tidak keberatan dengan hal ini, namun perlu kita ketahui bahwa media yang sama, misalnya sendok/gelas/alat makan oranglain tidak semestinya dipakai bersama. Hal ini bisa menjadi media penularan penyakit, dll. Permasalahannya, banyak ibu yang kesulitan untuk menyampaikan rasa keberatannya.

Mari kita bahas beberapa keadaan terkait hal di atas:

  1. Tetangga/kerabat memberi makanan/minuman harus seizin orangtua. Jika posisi kita sebagai orangtua dan keberatan dengan hal tersebut, maka kita harus menyampaikan (tentu saja dengan bahasa sebaik mungkin) bahwa anak kita tidak/belum boleh untuk mengkonsumsi bahan-bahan tersebut. Ketika kita di posisi sebagai orang yang akan memberi makanan/minuman kepada anak orang lain (terutama bayi dan balita), semestinya kita bertanya dan meminta izin kepada orangtuanya terlebih dahulu, apakah anak ini boleh mengkonsumsi ini dan itu. Ada anak yang memiliki alergi terhadap jenis bahan tertentu, ada yang memang belum waktunya mengkonsumsi, ada juga yang tidak diperbolehkan dengan alasan tertentu. Kita harus menghargai hal tersebut, mengikuti aturan orangtua si anak. Misalnya si anak memang tidak diizinkan orangtuanya makan permen, maka kita tidak boleh memberinya permen sesuai aturan orangtuanya.
  2. Prinsip yang tua lebih berpengalaman. Untuk beberapa hal bisa diterima, namun ada hal-hal lain di mana prinsip ini belum tentu benar. Misalnya: `kasian tuh dia nangis terus, ASI nya nggak cukup. Kasih pisang aja, biar kenyang. Dulu semua anak saya umur 3 bulan udah makan pisang, nggak papa tuh.` -> saran pemberian MPASI dini. Kita tidak perlu sungkan untuk tidak mengikuti saran/perintah itu, tentu saja disampaikan dengan kalimat yang baik bahwa MPASI dimulai usia 6 bulan.
  3. Memeluk/mencium anak orang lain harus seizin orangtuanya.
  4. dll

Ketika menyampaikan pemahaman kita tentang sebuah konsep baru untuk lingkungan, tentu saja kita harus belajar terlebih dahulu. Berbekal ilmu yang cukup, kita bisa menyampaikannya dengan baik. Jangan sampai kita menjadi tidak PD manakala lingkungan menyatakan ini dan itu karena menang pengalaman, dll. Itu pentingnya kita harus selalu belajar dengan memanfaatkan segala media yang ada.🙂

1

Beberapa panduan tentang pemberian makanan dan minuman kepada bayi/anak:

  1. ASI eksklusif selama 6 bulan
  2. Susu formula diberikan jika ada indikasi medis dan sesuai resep dokter
  3. MPASI diberikan saat usia tepat 6 bulan (tidak terlalu dini dan tidak terlambat), ASI tetap dilanjutkan
  4. Membiasakan cuci tangan sejak dini
  5. Makanan yang diberikan dalam porsi kecil dan gizi seimbang
  6. Tes alergi untuk bahan makanan selama 3-4 hari
  7. Waktu pemberian makan maksimal 30 menit. Jika 15 menit bayi menolak makan, mengemut, hentikan pemberian makan
  8. Tidak dipaksa meskipun hanya makan 1-2 suap
  9. Jangan memberikan makanan sebagai hadiah
  10. Makan di dalam rumah, tidak sambil jalan-jalan keliling rumah
  11. Tidak makan sambil nonton televisi
  12. Membersihkan mulut dan tangan setelah makan
  13. Gula, garam, susu UHT, kecap, dan madu diberikan setelah anak berumur 1 tahun. Gula dan garam bukan soal rasa, melainkan akan memperberat kerja ginjal dan pankreas bayi. Kebutuhan yodium sudah terpenuhi dari ASI, ikan laut, rumput laut sehingga tidak perlu khawatir. Rasa manis alami bisa didapatkan dari buah-buahan segar. Sedangkan madu bisa menyebabkan botulism jika diberikan di bawah 1 tahun.
  14. Tidak menggunakan vetsin/msg pada makanan anak
  15. Makanan instan bayi (mengandung gula, pengawet, perasa) tidak dianjurkan. Sebaiknya dibiasakan dengan makanan rumah, lebih higienis, sehat, dan terjamin nutrisinya.
  16. Pemberian permen, coklat, es krim, dan jajanan kemasan sebaiknya ditunda atau dibatasi pemberiannya pada anak
  17. Membiasakan anak untuk menyukai buah dan sayur sebagai cemilan sehat.

Fiuh, banyak ya! Ketika kita membuat aturan untuk anak kita, jangan heran saat kita mendengar kalimat:

  1. Kasian anaknya nggak boleh makan ini-itu, nggak kenal rasa
  2. Itu ASI nya nggak berkualitas, jadi anaknya kurus
  3. Kasian makanannya tawar, nggak kenal gula-garam
  4. Anak saya baik-baik aja tuh makan ini dan itu
  5. Kasian anaknya banyak dilarang, nggak kenal makanan enak
  6. Tuh banyak dilarang, jadinya susah makan
  7. dll

Oke! Mungkin menyakitkan, kita harus tebal telinga, tetap berada pada aturan yang telah kita buat. Pengenalan rasa dilakukan secara bertahap, karena lidah bayi itu polos. Rasa tawar pun tetap enak untuknya, biarkan ia kenal rasa asli dari setiap jenis bahan makanan. Meskipun mungkin kelihatan repot saat ini, misalnya anak susah makan dengan menu sehat yang kita buat, mudah-mudahan hasilnya terlihat dalam jangka panjang. Kebiasaan sehat harus dibangun sejak dini dan makanan enak belum tentu sehat. 😉 Contohnya: permen, coklat itu enak dan pasti disukai anak-anak, akibatnya risiko gigi rusak lebih besar daripada yang tidak banyak mengkonsumsinya. Jika tidak dibatasi, maka berpotensi membentuk pola makan `penyuka manis` sampai dewasa.

Oya, jangan segan-segan untuk menegur orang lain ketika anak diberi makanan/minuman `junk` yang tidak kita perbolehkan tanpa izin. Seperti kisah di awal (bayi diberi soda), itu anak kita! Anak kita bukan bahan eksperimen oranglain, sehingga bebas diberi ini dan itu tanpa seizin orangtuanya.

Kalau terjadi sesuatu dengan anak kita, apakah mereka akan peduli? Siapa yang akan repot?

Baiklah para ibu, mari kita konsisten dengan aturan yang kita buat, PD menjalankannya, dan tegas (dengan bahasa santun) ketika berada pada situasi seperti di atas.🙂

-RN-

2 thoughts on “Sikap Orangtua dan Panduan Makanan Anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s