Travelling dengan Bayi/Balita

14

Membawa bayi/balita saat travelling tentu berbeda dengan anak-anak yang lebih besar, apalagi dengan orang dewasa. Ada banyak hal yang harus disiapkan. Saya biasa menyebut hal ini dengan sebutan harta karun Eiji. ๐Ÿ˜€ Kenapa harta karun? di situ ada segala macam perlengkapan dan kebutuhan Eiji yang harus selalu siap sedia. Jaman dulu, saat saya pindah ke Jepang sendirian, bawaannya cuma tas selempang kecil isi paspor-dompet; tas laptop; dan koper 20kilo. Sekarang, berdua dengan Eiji: koper kuota 30kilo, tas punggung TIDAK BERISI laptop tapi gemuk, plus tas tenteng yang juga gemuk. Ketiganya MAYORITAS berisi harta karun Eiji (1th).

13

Apa saja isinya? Sebenarnya sama seperti isi tas buat jalan-jalan dalam keseharian, cuma ditambah jumlah dan jenisnya. Untuk jalan-jalan ke luar kota atau ke luar negeri, isinya sama saja tinggal menyesuaikan lama perjalanan dan musim di tempat tujuan. baca selanjutnya

Advertisements

Kerja!

Owh! Alhamdulillah… kali pertama ngerasain kerja part time!! hihihi… Seneng banget! Buat saya yang ibu rumah tangga di rumah kantornya selama bertahun-tahun, merasakan `kerja` setelah nikah itu SESUATU banget. ๐Ÿ˜€ Alhamdulillah hari ini bisa ngerasain, berangkat pagi, ketemu orang baru, belajar hal baru. Wow banget rasanya! Terus Eiji juga ikut. Ohh perfecto!!

Kerja impian saya yang macam ini, ya kerja, ya ngasuh anak. ๐Ÿ˜‰ Kalo Eiji nggak ikut, kayaknya masih pikir-pikir 1000 kali buat kerja.

Meski nggak tiap hari tapi lumayan dapat ilmu dan pengalaman baru. ๐Ÿ˜€

-RN-

Pengalaman Naik Garuda Indonesia

12

Garuda Indonesia baru saja menyabet gelar The Worldโ€™s Best Economy Class dari Skytrax dan beberapa penghargaan lain pada tahun sebelumnya. Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan hal-hal semacam ini. Sebagai rutinitas: naik pesawat – duduk manis – tidur – makan – mendarat demikian seterusnya. Pikir saya saat itu, yang penting nyampe tujuan dengan selamat sehat wal afiat. Namun setelah punya anak, membawa anak (bayi satu tahun) naik pesawat, hal-hal detail menjadi perhatian saya. Dulunya, saya nggak terlalu peduli dengan pelayanan pramugari, makanan, dan berbagai kenyamanan yang ditawarkan oleh maskapai penerbangan. Namun sekarang, hal itu menjadi hal utama. *guweh sudah jadi ibu-ibu ๐Ÿ˜€ baca selanjutnya

Jerman 2013: Englischer Garten

Sendai dini hari pukul 1.31: suami istirahat, anak bobok nyenyak, ibu mulai ngetik ngalor-ngidul. Huehehe… inilah yang namanya me time! Yuk aahh lanjut ceritanya.

peta hutan.

peta hutan.

Awal datang ke Munchen, tentunya buahaaagiaaa ketemu ponakan-ponakan nun jauh yang super seru. Ibunya bahagia, apalagi si baby Eiji! ๐Ÿ˜€ *ada teman rame buat heboh* Jadi pertama maen ke Englischer Garten. Apa menariknya? Ini menjadi salah satu lokasi buat syuting film Habibie dan Ainun (ato Ainun dan Habibie?), pasti pada tau kan ya film itu. ๐Ÿ˜‰ Sebuah taman kota (ato hutan? saking luasnya) yang super gedhe buat adegan pak habibie dan bu Ainun jalan-jalan *saya juga lupa yang mana adegannya. Keterangan komplit tentang Englischer garten tentu ada di wikipedia. ๐Ÿ˜€ Waktu kami datang kali pertama, daunnya masih ijo. Di tengah kota besar Munchen tetap terjaga ke-ijo-an hutan itu, bahkan ada sungai besar yang mengalir di tengahnya. Nah pas datang kali kedua, si daun-daun di sana ternyata sudah gundul. ๐Ÿ˜€ Yasudah, nggak jodoh ketemu daun coklat kali ya. baca selanjutnya

Pengalaman Naik Etihad

Setelah suami kembali ke Jepang, saya dan Eiji tinggal di Bandung untuk menunggu perjalanan selanjutnya. Kali ini tujuan kami ke Munich. Saya, Eiji, dan mamah (ene`nya Eiji) berangkat tanggal 3 Oktober 2013 jam 01.45 WIB menuju Abu Dhabi. Saat check in mendapat prioritas tidak ikut antrian karena membawa bayi (dikasih tau bapak-bapak porter Soekarno-Hatta, makasih Pak!), karena sebelumnya kami ngantri juga. Kebetulan antriannya supeeerrr panjang karena bareng dengan rombongan tenaga kerja Indonesia. Saat pemeriksaan sebelum masuk pesawat (nggak tau kenapa diperiksa lagi, apa karena bareng rombongan tenaga kerja?) pun antrian mengular, datang mas-mas yang bilang kalo kami bisa langsung ke depan karena bawa Eiji. Alhamdulillah. ๐Ÿ™‚

6 baca selanjutnya

Mudik 2013: Sendai-Bandung-Semarang

Alhamdulillah kami telah kembali ke Sendai setelah tiga bulan kurilingan. ๐Ÿ˜€ Sesuai janji saya sebelumnya, mumpung sempat curi waktu pengen nerocos di sini. Woaaahh…. sambil ngantuk! sekarang jam 00.05 dini hari, Eiji baru aja bobok. Widiiih jetlag yang tak kunjung usai. ๐Ÿ˜ฆ Oke, sebelum ketiduran lebih baik langsung cerita ya!

Sendai – Bandung

Berawal dari kelahiran Eiji setahun yang lalu kami berencana mudik ke Indonesia setelah Eiji berumur satu tahun. Alhamdulillah, tepat tanggal 26 Agustus 2013 kami bertolak dari Sendai menuju ke Indonesia. Pada mudik-mudik sebelumnya, biasanya suami sendiri ato saya sendiri, kali ini mudiknya rombongan bertiga. ๐Ÿ˜€ Dari Sendai bertolak ke Tokyo menggunakan shinkansen (biar hemat waktu dan tenaga), apalagi bawa bayi umur setahun yang lagi aktif-aktifnya dan baru pertama kalinya ke luar negeri. Beneran efektif lumayan hemat waktu. Sepanjang jalan di Hayabusa (nama shinkansen tercepat saat ini *yang duduknya satu baris tiga kursi) Eiji heboh karena tetangga kursi nyalain laptop. Ohhh… anak ini paling hobi ngoprek laptop bapak-ibunya, jadi lihat laptop orang langsung matanya berbinar. Satu setengah jam rasanya lamaaaa, harus pegangin Eiji yang pengen kenalan dengan tetangga kursi. Sesampainya di stasiun Tokyo, dilanjutkan ke Hamamatsu chuo buat naik monorail ke bandara Haneda. Lumayan terasa cepet karena Eiji nemplok tenang di gendongan ibunya. ๐Ÿ˜€ Check in sudah dibuka, stroller Eiji disimpan dan diganti stroller bandara. Kali ini kami naik Air Asia, biar nggak kapok lagi karena capek duduk, maka kami pesan barisan hotseat. Saya duduk mepet jendela, suami di tengah, dan paling pinggir seorang bapak Jepang. Eiji tetep nemplok ibunya, meski sambil heboh. Saat mau ditidurkan di bassinet, ehh dianya enggak mau. Alhasil sepanjang perjalanan mangku Eiji bergantian dengan bapaknya.

baca selanjutnya