Merenungi Pernikahan

Sendai, 18 Juli 2018

83aaea17-5080-4159-a473-45fc6af61151

Sepanjang hari kemarin di benak saya terlintas tentang topik pernikahan. Sekian waktu direnungi, ternyata makna pernikahan itu sangat kompleks. Jika dulu saat menikah, saya belum mempelajari banyak hal mendetail dalam pernikahan secara mendalam. Seiring berjalannya waktu, tahun 2018 baru terpikirkan banyak hal lagi yang lebih kompleks. 

Pernikahan bukan hanya menyatukan dua orang, melainkan menyatukan dua keluarga besar. Tak hanya sampe di situ, juga menetapkan status hukum-hukum baru yang berlaku tidak hanya di dunia tapi sampai akherat. Antara lain:

  1. Saat dua orang memutuskan menikah, kemudian mereka punya anak; maka selamanya anak ini akan menjadi anak dari bapak X dan ibu Y. Ketika di dibangkitkan di akherat nanti akan dipanggil dengan nama Bapak-nya masing-masing. Bapak/ibu yang baik atau buruk selamanya akan menjadi bapak/ibunya, tidak bisa direvisi atau diganti. Darahnya mengalir di sana. Karena nggak ada mantan anak.
  2. Hukum tentang mahram. Bapak mertua laki-laki selamanya akan menjadi mahram menantu perempuannya, meskipun terjadi perceraian antara anak laki-lakinya dengan menantu perempuannya. Demikian untuk menantu laki-laki. Jadi tidak ada mantan mertua meski terjadi perceraian atau meninggal di antara pasangan tersebut.
  3. Anak perempuan saat menikah akan berwali pada deretan keluarga ayahnya (wali nasab): Ayahnya, kakeknya, saudara laki-lakinya, pamannya dari pihak ayah. Berlaku selamanya. Jadi jika kita memiliki anak perempuan, maka selamanya akan terhubung pada ikatan keluarga ayahnya.

Jadi pernikahan harus dilakukan terang-terangan, diketahui banyak orang, dan status anak yang dilahirkan jelas diumumkan kepada banyak orang. Pernikahan siri, meskipun sah menurut agama namun bisa memunculkan banyak masalah di belakang. Jika si bapak tersebut meninggal/bercerai dari ibunya dan sudah menghasilkan anak dalam pernikahan tersebut. Status anaknya secara agama sah, berhak mendapatkan waris. Statusnya sama dengan anak hasil pernikahan resmi yang tercatat negara. Namun karena siri, tidak disebarkan dan tidak diketahui oleh keluarga ayahnya; nantinya akan menimbulkan masalah baru soal wali nasab.

Mau bernasab ke keluarga ayahnya, tapi di sana nggak diakui karena bapak ibunya tidak memiliki buku nikah KUA dan tidak mengabarkan telah terjadi pernikahan pada keluarga besarnya. Njur piye? Sedih ya. Masalah pernasaban menjadi kacau padahal sah.

Bagi yang pengen nikah siri, coba dipikirkan sekali lagi. Pikirkan nasib anak-anakmu, kalo bapaknya masih ada dan menemani sampe menikahkan mungkin nggak akan terlalu bermasalah. Nah kalo Bapaknya sudah nggak ada? Hidup dan umur kita nggak ada yang tau, kasihan anak-anak yang dilahirkan dari pernikahan siri. Mereka memiliki hak yang sama persis seperti anak-anak dari pernikahan resmi; namun statusnya di keluarga besar dan di hadapan masyarakat dipertanyakan, malah mungkin tidak diakui oleh keluarga ayahnya. 😦 Padahal nantinya akan membutuhkan hubungan kekerabatan berdasar nasab dalam urusan menikahkan.

Jadi, baik para suami yang ingin poligami maupun para wanita yang hendak menjadi istri kedua dan seterusnya…. Menikahlah secara resmi, tercatat dalam hukum negara. Pernikahan akan mendatangkan kebaikan lebih banyak jika dilakukan sesuai hukum agama dan negara.

Hai Bapak-bapak, berikan hak yang sama pada istri kedua dan anak-anaknya seperti pada status istri pertama dan anak-anaknya. Kalo istri pertama punya buku garuda dari KUA, istri kedua pun harus punya. Itu namanya ADIL. Kalo sejak awal nggak bisa ngasih buku nikah ke istri kedua, ya ngapain nikah lagi? Meski siri itu sah, tapi NGGAK ADIL buat istri kedua dan seterusnya. Jangan mau dijadikan istri siri, pikirkan anak-anakmu dalam jangka waktu sekian puluh tahun ke depan. 🙂 Jangan sampe jadi pernikahan yang rumit. Mesakke anak-anakmu, Mbak….

Kalo sama-sama mau gimana? Baik si laki-laki maupun si calon istri baru sama-sama mau untuk nikah siri gimana? Nggih sampun nggih, risiko monggo ditanggung piyambak. *risiko silakan ditanggung sendiri. Jangka panjang lho ya….

Ngobrolin tentang nikah siri, dulu saya biasa aja rasanya pas lihat buku nikah bergambar garuda dari KUA. Meskipun setelah nikah biasanya orang-orang pada berpose di foto dengan menunjukkan buku tersebut. Perasaan saya biasa aja ke dia (ke buku itu).

Mikirnya: emang buat apa sih harus foto nunjukin buku ini??

Setelah menulis ini, muncul perasaan lain saat melihat BUKU IJO BUKU NIKAH ISTRI bergambar garuda. Pantesan aja pada menunjukkan buku nikah saat foto setelah akad, saya baru paham rasanya. Setelah sembilan tahun, baru paham! Ealaahhh… telat banget ya?!? Ternyata buku ini sangat bernilai ya.

Haduuhh selama ini ke mana aja Bu? Kenapa baru kepikiran sekarang?? Wkwkwkw….

Buku ini jadi bukti kalo pernikahan yang dilakukan sah secara agama, sah dan tercatat oleh negara. Dia akan terus dilibatkan dalam ngurus administrasi status anak, ngurus visa ke kedutaan Saudi Arabia saat mau umroh atau haji (sebagai syarat bukti tentang mahram), dipake ngurus administrasi di kerjaan (asuransi kesehatan, pajak), dll.

img_0567

Dia ini tak sekedar buku saku kecil dan tipis, namun harga dan maknanya lebih dari itu.

Ternyata buku nikah ini penting dan berharga bagi orang yang sudah menikah. Karena nggak semua orang yang menikah memiliki buku nikah. 

Yang belum menikah, semoga disegerakan mendapatkan buku ijo ini. Jangan seperti saya yang baru tau rasanya setelah sembilan tahun memiliki dia, semoga sejak awal punya sudah ada getaran kepemilikan saat memiliki dia. 😀 Yang sudah punya, mari bersyukur sebanyak-banyaknya. Sekedar mensyukuri keberadaan buku ijo ini; artinya kamu adalah ISTRI yang sah dan diakui oleh agama dan negara, termasuk anak-anakmu. 🙂

 

If a relationship has to be secret, you shouldn’t be in it.

Selamat pagi!

-RN-

2 thoughts on “Merenungi Pernikahan

  1. Masyallah mba.. Semakin bersyukur pny buku itu,,
    Dulu banyak berdoa , banyakin amal biar cepet di kasih jodoh. Alhamdulilah allah ksh jodoh yg sholeh, smg jodoh sampai syurganya..
    Banyak temen2 aq msh muda udah janda, trs rata2 klo laki yg blm nikah pst carinya yg gadis juga.. Sempet beberapa kali tawaran poligami,tp krn mungkin di indonesia msh agak tabu jd banyak pertentangan dr keluarga..
    Pdhl kasian janda2, punya anak, trs biasanya nafkahnya dr jualan kecil2an..
    Laa haula wa quwwata illa billah..
    Allah maha tau kebutuhan hambanya, dan pemberi jalan keluar.. (maaf panjang koment nya 😁)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s