Tentang Mamah

Semarang, 14 September 2018.

“Mamah” begitu kami memanggil beliau. Mamah adalah ibu mertua saya, ibu dari suami, nenek Eiji dan Yoshi. 😊

Lewat tulisan ini, saya ingin sedikit menceritakan tentang beliau. Sebelum masuk menjadi anggota keluarga, pertemuan kami sangat singkat, bahkan hanya dalam hitungan jari. Seingat saya, hanya 3x saya bertemu beliau. Pertama, ketika dikenalkan saat di Bandung. Kedua, saat saya hanya jalan dan ngobrol berdua dengan beliau. Ketiga, saat lamaran ke keluarga. Pertemuan singkat, tidak lebih dari 3x, kemudian saya menjadi anggota keluarga di Bandung.

Menantu beliau tidak hanya saya, ada menantu kakak perempuan dan laki-laki. Mamah sangat perhatian dengan kami, terutama kami berdua sebagai menantu perempuan beliau. Hubungan kami (saya, mamah, dan kakak menantu perempuan) sangat dekat. Beliau sosok mertua yang sangat baik kepada semua menantunya. Jika ditanya kepada kedua kakak saya, pasti jawabannya sama dengan saya. 😊 Tidak hanya perhatian kepada anak-anaknya, tapi kepada semua menantunya.

Meski pertemuan kami sebelum saya menikah hanya 3x, itu cukup bagi beliau menerima saya menjadi bagian keluarga. Sangat terasa perhatian beliau sejak awal proses menyiapkan pernikahan sampai hari ini. Sejak awal proses akan menikah, suami saya tidak ada di Indonesia. Jadi semua persiapan berjalan antara komunikasi saya dan mamah. Tidak banyak melibatkan suami saya saat itu.

Hal sederhana yang kerap Mamah lakukan untuk kami, misalnya: meski saya nggak tinggal di Indonesia, tapi seringkali dibelikan atau dibuatkan barang-barang. Bahkan beberapa kali Mamah membuatkan baju sendiri untuk saya. Membuatkan dengan menjahit sendiri. Kebayang nggak sih gimana rasanya…. Dibuatkan baju dengan tangan Mamah sendiri. Kemudian disimpan dan baru diberikan ketika kami mudik ke Indonesia. Tidak hanya itu, seringkali memberikan berbagai barang, sama seperti baju… Barang-barang itu disimpan dulu sampe saya datang. Itu nggak cuma ke saya, ke menantu (kakak ipar perempuan) lainnya juga demikian. Bukan soal barangnya, tapi saya merasa sangat diperhatikan. Ini yang bikin sering terharu.

Bisa nggak ya nanti saya bersikap sebaik itu ke menantu perempuan saya? Kebetulan dua anak saya adalah laki-laki.

Kami sempat juga menitipkan anak-anak ke Mamah selama satu bulan. Mamah yang menjaga, mamah yang direpotkan, mamah yang ngurus cucu-cucunya sendiri. Tanpa pembantu. Cucu mamah ada 8 orang, semuanya dekat kepada beliau.

Sampai hari ini saya berusaha banyak belajar dari beliau bagaimana cara memperlakukan menantu perempuan, karena kedua anak saya adalah laki-laki. Sebagai menantu, saya merasa disayangi, diperhatikan, dan dekat kepada beliau. Nggak dibedakan antara anak sendiri dan menantu. Alhamdulillah…

Mamah yang sangat perhatian ke menantu-menantunya, ke cucu-cucunya. Bisa menjalin hubungan dekat dengan kami semua, kami nggak merasa asing sejak menjadi bagian keluarga di sana. Banyak hal sederhana yang beliau lakukan ke kami sehingga kami merasa dekat, merasa diterima, disayangi, dan diperhatikan. Nggak ngerti lagi apa yang harus saya tulis tentang kebaikan-kebaikan beliau. Semoga Allah merahmati beliau. Barakallahu fiik Mamah… 😊 Kami nggak akan pernah bisa membalas kebaikan Mamah selama ini, hanya bisa mendoakan semoga Allah memberi balasan yang sempurna untuk Mamah.

Allohummaghfirli Waliwaalidayya War Hamhumaa Kama Robbayaanii Shaghiira

Mamah menjalin komunikasi dengan sangat baik kepada kami. Meski jarak memisahkan, tapi saling bertukar pesan selalu kami lakukan. Bahkan, untuk hal-hal sederhana kebutuhan kami pun, beliau masih menyiapkan. Saat itu saya butuh barang tertentu, kemudian kami ngobrol lewat ceting. Sesampainya di Indonesia, yang saya butuhkan sudah disiapkan komplit oleh Mamah, bahkan beberapa dibuatkan sendiri. MasyaaAllah…. Rasanya nggak ngerti lagi gimana ngucapin makasih ke Mamah. Mamah repot dengan membuatkannya sendiri untuk saya. 😢

Kalo dalam perintah agama: anak laki-laki itu milik ibunya. Memang benar, anak laki-laki harus lebih mengutamakan ibunya daripada istrinya. Suami adalah hasil didikan tangan beliau, menjadi laki-laki yang sekarang hidup bersama saya. Mamah yang merawat dan mendidik sejak bayi, kemudian saat dewasa hidupnya dengan saya. Hak mamah atas anak laki-lakinya lebih besar daripada hak saya sebagai istrinya. Dan saya sangat mengingat hal itu. Bagi saya, selamanya Mamah harus selalu diutamakan dari apapun oleh suami. Apapun kata Mamah harus didulukan. 😊

Barakallahu fiik Mah… ❤️

-RN-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s