Gempa Jepang 11 Maret 2011: Catatan Harian 1

Gempa Jepang 11 Maret 2011: Catatan Harian 1

Jum’at, 11 Maret 2011 

Pusat gempa Miyagi 11 Maret 2011

Pagi itu adalah hari pertama suami kembali bekerja di kampus setelah semalam mendarat di bandara Sendai. Seperti biasa, kami bergegas dengan aktivitas masing-masing, suami berangkat ke lab sedangkan saya pergi ke tempat kursus bahasa karena hari itu merupakan hari kelulusan dan perpisahan dengan teman-teman kursus.

Acara kelulusan dimulai pukul 10.00-12.00 JST. Saya dan bu Dhina adalah dua orang dari Indonesia, sedangkan teman-teman kami berasal dari berbagai negara. Acaranya meliputi penyerahan ijazah kelulusan, presentasi/penampilan berbagai negara, kuis, dan diakhiri makan bersama. Seluruh peserta membawa makanan khas negara masing-masing. Kami dari Indonesia memutuskan untuk membuat wajik. Wajik inilah kami promosikan sebagai “mochi”nya orang Indonesia. Ya tidak terlalu mirip sih dengan mochi nya orang Jepang, tapi bahan dasarnya sama-sama dari beras ketan kan.. 😀

Kami saling bertukar makanan dan cerita, tentu saja kami memakan yang halal untuk kami makan. Kebetulan para sensei kami telah banyak bertanya dan mengerti tentang apa saja yang boleh dan tidak boleh kami makan, maka para sensei kami menyajikan makanan yang berbahan halal. 🙂

Tepat pukul 12.00 JST acara selesai.

Sesuai rencana hari sebelumnya, saya ada janji dengan bu Dewi untuk berbelanja beberapa barang di daerah Clissroad sekitar Sendai eki. Saya pun meluncur ke rumah bu Dewi dan sholat dzuhur di sana. Selesai sholat, kami bertiga (saya, bu Dewi, dan Akira *putra bungsu bu Dewi*) berangkat dengan menggunakan sepeda. Hari itu cuaca lumayan cerah lebih hangat dari biasanya jadi cukup mengenakan jaket 1 lapis.

Sesampainya di Clissroad, kami menyusuri toko-toko dan berharap mendapatkan barang yang dibutuhkan. Sebagai gambaran, toko-toko sepanjang clissroad kebayakan bertingkat dan kami harus menyusuri lantai-lantai di sana.

Terakhir kami mencari barang di toko sejuta umat “Daiso” karena telah janji ke Akira (3th) bahwa akan dibelikan mobil-mobilan.

Setelah itu kami mampir ke toko di seberang Daiso. Kami sempat masuk ke dalam toko tersebut, namun karena baju yang dicari tidak ada maka kami keluar lagi tetapi masih di bagian toko yang paling depan (emperan) dekat jalanan Clissroad. Bu Dewi sedang memilih baju, sedangkan Akira mengikuti saya karena kami biasa main bersama. Posisinya saya di emperan bagian kiri toko, Akira berjarak 1 meter di sebelah kanan saya, dan bu Dewi berada di bagian tengah emperan sekitar 2 meter dari Akira.

Tiba-tiba saya merasa kedua alas kaki digoyang (seperti berdiri di atas karpet yang ditarik), saya pun spontan berteriak kepada bu Dewi: “Bu Dewi, GEMPA!!”.

Bu Dewi melihat saya dengan keheranan dan belum merasa kalau ada gempa. Bapak petugas toko pun masih nampak santai. Beberapa detik kemudian, goyangan besar membuat kami tidak sanggup berdiri tegak. Bu Dewi berteriak mencari Akira, Akira nampak kebingungan saya gandeng menuju bu Dewi. Goyangan gempa yang sangat kuat membuat kami oleng akhirnya kami terjatuh dan berusaha melindungi Akira (saat itu sudah dipeluk bu Dewi). Si bapak petugas toko berusaha melindungi kami dari barang-barang yang berjatuhan. Ketika gempa semakin kencang, kami disuruh berlari menuju jalan raya. Sambil berlari sempoyongan, atap clissroad berbunyi “kretek kretek..” semakin keras seperti mau runtuh. Kami harus berlari sambil menundukkan badan karena badan oleng oleh kekuatan gempa.

Rasanya seperti berjalan di atas karpet yang dihentakkan kuat-kuat, atau seperti berlari naik berbalik arah di atas eskalator yang turun. Tidak ada yang terpikir selain menyebut asma Allah dan menyelamatkan diri.

Suasana clissroad sangat kacau, semua orang berduyun-duyun menuju jalan raya. Orang Jepang yang biasanya tenang ketika gempa, saat itu pun mereka berteriak-teriak bahkan menangis. Bahkan karena begitu keras goyangan gempa, mobil-mobilan Akira terlempar entah kemana.

Saat itu saya sempat melihat jam di Clissroad menunjukkan pukul 14.46 JST (12.46 WIB). Kami berkumpul di tengah jalan raya sambil jongkok menyaksikan gedung-gedung tinggi di sebelah kanan-kiri meliuk-liuk seperti pohon kelapa tertiup angin, Akira tetap dalam pelukan bu Dewi dan melihat ke bawah. Mobil-mobil otomatis berhenti dan kami melihat mobil bergerak sendiri seperti dimainkan oleh remote control mobil-mobilan anak-anak. Semua gedung bertingkat saat itu melambai-lambai dan kami hanya bisa pasrah terus berdoa semoga gedung-gedung itu tidak runtuh. Bagaimana keadaan kami jika kami berada di tengah jalan dimana sebelah kanan dan kiri jalan penuh dengan gedung bertingkat? Tentu saja hanya bisa pasrah dan berdoa. 

Semua bangunan di Jepang memang didesain tahan gempa sekian richter, tapi bagaimanapun juga nilai 9 SR dengan epicenter dekat Sendai tentu saja goyangannya membuat berdiri tidak stabil.

Setelah gempa besar pertama reda, kami pun menyebrang ke arah kanan jalan. Beberapa detik kemudian gempa besar kedua datang lagi. Kami melihat di bagian kanan tempat kami berdiri adalah gedung tua yang sedang direnovasi, tentu saja langsung terpikir gedung tersebut lebih beresiko ambruk. Akhirnya kami kembali berlari ke tengah jalan dan duduk di tengah trotoar pembatas jalan. Gedung-gedung menjulang itu kembali menari-nari, kami menyaksikannya dengan berpelukan erat.

Rasanya begitu dekat dengan kematian, tidak ada usaha lain selain terus berdoa memohon ampunan dan pertolongan Allah.

Orang-orang Jepang terus berteriak dan panik, ada seorang nenek kira-kira 80 tahun di dekat kami yang nampak diam berdoa dan menengadahkan tangannya.

Ketika gempa reda, polisi menyuruh kami untuk menuju ke Kotodai-koen (taman kota), tempatnya luas dan lebih aman dari resiko gedung-gedung besar. Dalam perjalanan ke sana, kami bertemu dengan Bu Fajar dan Pak Tri. Bu Fajar saat itu sedang berbelanja kebutuhan sekolah anak-anak namun belum sempat membayar jadi semua barang ditinggalkan di Daiso. Kami pun berjalan bersama menuju Kotodai-koen.

Sepanjang perjalanan ditemani oleh gempa-gempa susulan yang cukup kuat namun tidak sekuat gempa besar sebelumnya. Langit berubah menjadi gelap dan turunlah bulir-bulir salju. Sesampainya di koen, kami menunaikan shalat Asar dengan merasakan beberapa gempa kecil.

Selesai shalat kami memutuskan untuk pulang ke rumah, sepeda kami tinggalkan di dekat Clissroad sampai hari ini entah bagaimana kabarnya. Kami tidak kebagian taxi karena semua taxi penuh dengan penumpang. Sepanjang perjalanan pulang,  salju turun semakin deras. Bu Fajar dan Pak Tri menjemput putra-putri mereka, saya-Akira-bu Dewi melanjutkan jalan kaki ke rumah. Jarak antara rumah kami dengan daerah Clissroad kurang lebih 30 menit dengan naik sepeda. Entah berapa menit ketika ditempuh dengan jalan kaki.

Selama perjalanan kami melihat beberapa bangunan retak, kaca-kaca showroom mobil pecah, hotel di dekat Kotodai-koen mengeluarkan asap, seorang nenek tua bisa lari dari kursi rodanya untuk menyelamatkan diri, orang-orang menangis, dan berbagai pemandangan pilu lainnya.

Saat itu salju turun sangat lebat, karena ingin segera tahu kabar di rumah, kami tidak merasakan cape’ ataupun kedinginan. Padahal pada kondisi biasanya jaket satu lapis tidak akan cukup bagi saya jika sedang turun salju. Namun dorongan menyelamatkan diri membuat segala sakit dan dingin menjadi tidak terasa. Saya memikirkan bagaimana keadaan suami, dimana tempat bekerja beliau ada di lantai 9. Terus berdoa agar semuanya diberi keselamatan.

Sesampainya di rumah, saya tidak langsung melihat rumah saya, saya ke tempat bu Dewi agar lebih mudah ketika mencari maupun dicari oleh teman-teman lainnya. Ketika memasuki rumah bu Dewi, semua barang pecah belah keluar dari tempatnya. Semua berjatuhan dan berserakan di lantai. Akira turun dari gendongan ibunya dan menyaksikan isi rumah yang berantakan. Akira langsung terdiam dengan detak antung yang kedengaran kuat dan kembali dipeluk bu Dewi. Akira yang biasanya ceriwis dan lincah, ketika di Daiso ia masih berlari ke sana kemari, namun sesampainya di rumah menjadi diam tak bersuara apapun.

Saat ditanya ibunya: “Akira kowai (takut) ?”

Akira menjawab sangat pelan: “kowaiii..”

Sejak gempa semua alat komunikasi terputus, saya tidak bisa menghubungi maupun dihubungi suami. Sekitar pukul 16.30 JST, seluruh anggota keluarga bu Dewi sudah terkumpul. Saya masih mencari-cari di mana suami saya.

Kami mendapatkan kabar bahwa gempa 9 SR tersebut mengakibatkan tsunami 10 meter di daerah Sendai.

Sendai merupakan tempat tinggal kami, namun kami tinggal di pusat kota Sendai (kecamatan Aoba-ku) yang daerahnya lebih tinggi sehingga tidak terkena tsunami, Alhamdulillah. Sedangkan beberapa kecamatan lainnya di kota Sendai terletak di pinggiran/bibir pantai, tersapu tsunami sepanjang 5 km dari bibir pantai. Ada 5 kecamatan di kota Sendai, antara lain:

  • Aoba-ku (青葉区) – pusat kota
  • Izumi-ku (泉区)
  • Miyagino-ku (宮城野区)
  • Taihaku-ku (太白区)
  • Wakabayashi-ku (若林区)

Hari mulai gelap, saya belum bertemu dengan suami. Kami harus segera ke tempat pengungsian di SMP Sanjoumachi. Jarak SMP Sanjoumachi dengan rumah saya sekitar 50 meter, cukup dekat. Namun hati tetap tidak tenang karena belum tahu kabar suami. Sebelum ke SMP Sanjoumachi, kami kembali menuju rumah bu Dewi untuk mengambil beberapa barang. Saat itulah saya bertemu suami yang sejak tadi berkeliling ke beberapa keluarga Indonesia untuk mencari saya. Alhamdulillah kami bertemu di tengah lapangan kaikan depan rumah bu Dewi diiringi salju yang masih turun.

Ternyata suami sudah sempat ke rumah untuk menyelamatkan beberapa dokumen penting yang memang sudah saya simpan di tas evakuasi sejak saya meresakan gempa pertama kali di Jepang. Jadi tas evakuasi tersebut sudah saya persiapkan dari tahun lalu. Tapi ya namanya manusia, seharusnya selalu siap sedia membawa tas punggung itu namun karena saya pikir gempanya seperti sebelum-sebelumnya (yang tidak sampai evakuasi), jadi lah tas itu nongkrong di ruang tamu. Beruntunglah isinya tidak saya pindahkan.

Suami berhasil menyelamatkan isi tas itu.

“Saya tanya bagaimana caranya masuk rumah sedangkan kunci rumah saya bawa?”

Beliau menjawab:

“tadi pakai cara maling”

“Loh loh???”

“Kebetulan, karena gempa jendela rumah kita terbuka.. jadilah masuk lewat jendela ruang tamu.”

Selain itu, jika kepulangan beliau dari Nagoya ditunda entah kapan kami bertemu. Tepat siang hari Jum’at bandara Sendai habis tersapu tsunami dan pada malam Jum’at suami saya baru saja mendarat dari Nagoya.

Alhamdulillah, Allah memberi banyak jalan dan kemudahan bagi kami.

bersambung ke sini.

-RN-

2 thoughts on “Gempa Jepang 11 Maret 2011: Catatan Harian 1

  1. Alhamdulilah mba n keluarga selamat,, smg sll dilindungi allah..
    Ya allah,, mba baca nya aja deg2an..
    Jd muhasabah
    Sungguh allah maha kuasa,, manusia ini kecil, tdk ada kekuatan, kepintaran kcuali atas kehendak allah.
    Setiap yg bernyawa pst mati, bukan nya mempersiapkan bekal akhirat malah sibuk menabung didunia.
    Mdh2n qt termasuk golongan orang sholeh, masuk syurga tanpa hisab.. Aamiin allohuma aamiin..
    (maaf mba tyas malah jd baper..)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s