Celoteh Anak: Bapak nya Tante

Percakapan dengan anak usia 4 tahun (sebaya dengan yang kemarin). Ada bunyi bel.
Anak (A): Itu bapak-nya tante ya?
Tante (T): *bingung* bapaknya tante? Wah, tante udah ga punya bapak. 😀
A: bukan, maksudnya bapak-nya tante di sini. *pandangan serius*

Setelah tamunya masuk, kelihatan-lah siapa yang dimaksud “bapak-nya tante.”

A: itu bapak-nya tante datang.
T: oalaaahh…. ini toh bapak-nya tante? 😀 *maksudnya suami tante*

-RN-

Celoteh Anak: Laki-laki nya Tante

Percakapan dengan anak usia 4 tahun.
Anak (A): Tante, ini punya siapa? (sambil nunjuk barang)
Tante (T): punya Om
A: Om nya tante itu laki-laki nya tante?
T: Kok laki-laki nya tante? 😀 maksudnya, itu punya suami tante.
A: Apa sih suami? (ga paham kata suami)
T: Suami itu gini contohnya: “ayah suaminya ibu” (Tante juga bingung ngejelasin, kalo bilang tentang pernikahan khawatir si anak tambah bingung) 😀
A: Ooh suami, itu laki-laki? (muka polos)
Tante: zzzttttzz 😀 ketawa *ga tau gimana jawaban selanjutnya*

Pertanyaan polos anak-anak yang selalu di luar dugaan, selalu membuat kita menjadi “eng inggg eenggg” merasa lemot sedunia 😀

-RN-

Celoteh Anak: Bohong

Obrolan anak-anak saat menggambar:
A (SD): Kita ga boleh bohong, kamu tau ga bohong?
B (TK): Tau. (jawaban meyakinkan)
A: Apa itu bohong?
B: Itu lho.. itu, yang berkaki empat.
A: Bukaaaan… itu bukan bohong, kalo kamu janjiin mau kasih permen terus kamu ga jadi ngasih, itu namanya bohong.

Tante (mendengarkan obrolan): *inget pernah menjelaskan konsep “bohong” dengan contoh sama persis dengan yang dikatakan A.

B: Oooo…. *sambil mengangguk.

Tante: nahan ketawa! 😀

-RN-

Celoteh Anak: Tempat Tinggal

Anak: Tante, tante rumahnya deket Indonesia kan?
Tante: *ketawa* Kalo adek di mana?
Anak: Hmm, aku lupa rumahnya di mana. -> belum bisa menyebutkan nama daerah karena saat pindah masih kecil.
Tante: Setelah pulang dari sini, nanti adek mau tinggal di mana?
Anak: Aku ga mau ditinggaaaalll!!
Tante: ??!?? *nahan ketawa di depan si anak* 😀

Kata “tinggal” yang dipahami si anak adalah “ditinggalkan”, sedangkan “tinggal” untuk tempat tinggal (sesuai pemahamannya) adalah “rumah”. Cermatlah memilih kosa kata saat berbicara dengan anak-anak, jangan sampai berbeda makna dengan yang mereka pahami. 😀

-RN-