Perjalanan ke Sembilan Tahun Pernikahan

 

Ketika kita menghabiskan waktu untuk hidup bersama orang yang tepat, maka waktu yang panjang akan terasa sangat singkat. Alhamdulillah, tahun ini kami telah melewati delapan tahun pernikahan. Nggak terasa! MasyaaAllah… 🙂 Teringat ketika kami menikah dulu, kami sama-sama berusia 22 tahun. Usia yang tergolong muda di zaman itu untuk memutuskan membentuk sebuah ikatan di dunia akherat. Berbekal doa dan dukungan dari orang-orang yang menyayangi kami, alhamdulillah pernikahan berjalan lancar.  baca selanjutnya

Advertisements

Saya Tidak Sempurna, denganmu Menjadi Sempurna

1

Menemukan pasangan hidup, lantas menikah adalah suatu hal dalam hidup yang harus disyukuri. Mengapa? Karena tidak semua orang ditakdirkan menikah (memiliki pasangan) di dunia. Satu hal yang pasti, orang yang kita nikahi bukanlah manusia sempurna. Begitupun dengan kita. Bukan hal mudah untuk hidup dengan orang yang sama, sepanjang umur. Apalagi dengan segenap kekurangan yang ia miliki. Tentu tidak mudah menyatukan pandangan hidup, pola pikir, dan segala perbedaan lainnya. Tidak ada manusia di dunia ini yang `se-iya sekata` karena sejak awal sudah berbeda banyak hal (keluarga, latar belakang, pendidikan, dan lainnya), hal itu harus kita sadari. baca selanjutnya

Pernikahan Tahun Kelima

Tahun ini pernikahan kami menggenapkan angka lima tahun. Tidak ada yang istimewa, tidak ada perayaan khusus, dan tidak ada ulang tahun. Ini hanyalah gugusan angka cantik yang inshaAllah akan terus bertambah sepajang umur kami. Tidak lagi berdua, namun bertiga. Ada kehadiran batita cerdas dan sehat di antara kami. Itulah harta yang paling berharga selama lima tahun ini. Alhamdulillah Allah memberikan keluarga yang sempurna. Bukan sempurna di mata orang lain, tapi sempurna bagi saya. 🙂

Pondasi kehidupan paling awal adalah pondasi dalam keluarga. Semoga keluarga ini mendapat ridho Allah dan terus bersama hingga Jannah-Nya. Aamiin.. 🙂

-RN-

Suami Romantis!

Saya pernah cerita kalo suami bukanlah tipe laki-laki romantis! hihihi… Ya memang bawaan lairnya udah begitu, diterima sepaket doongg yaaa. 😉 Betewe, barulah ketahuan bahwa si kakanda itu sangat romantis ternyata! Huah, ada apa ini? Iya, begitulah. Muncullah konsep romantis yang baru di kepala. Romantis tak sekedar banyak mengucapkan kata cinta, memberi hadiah, membawakan lagu cinta, memberi bunga, atau apapun barangnya. Bagi saya, romantis adalah menjadi sosok suami siaga. 😉  baca selanjutnya

Kualitas Waktu: Romantisme Pernikahan

Sering mendapat sms dari bapak mertua bahwa “abah-mama” (panggilan untuk bapak-ibu) lagi jalan-jalan buat belanja ato sekedar menghabiskan waktu malam berdua. Apalagi jalan-jalan berdua di malam hari, duuuhhh romantis banget! Seneng dengernya! 😀 Tau kan Ciwalk Bandung? abah-mama juga jalan-jalan ke sana di malam hari, tentu sangat romantis! 😀 Di rumah tinggal berdua, semua anak sudah menikah, dan semua tinggal jauh dari orangtua, baik di luar kota maupun luar negeri. Saat ini beliau berdua sudah pensiun, tinggal menikmati masa-masa romantisme tersebut. 😉 baca selanjutnya

Pernikahan Tak Sekedar Cinta

Merpati tak pernah ingkar janji.

Pernikahan adalah sebuah ikatan suci yang menyatukan dua orang, sah secara agama dan hukum. Dalam penyatuan ini tentu saja memiliki berbagai konsekuensi, karena kita ketahui tidak ada satu pun manusia di dunia ini memiliki pemikiran yang sama. Setiap orang memiliki berbagai perbedaan: sifat, latar belakang, pola asuh, kebiasaan, lingkungan. Semua itu akan mempengaruhi bagaimana kepribadiannya. Sebelum menikah harus benar-benar disadari bahwa perbedaan pemikiran, minat, ego antara dua orang bukanlah hal yang sederhana. 😉  baca selanjutnya