Belajar Sekolah

36

Seminggu sebelum dititipkan “sekolah”: Tas punggung dengan detail gambar shinkansen, hasil pilihan Eiji sendiri.

Jumat, 21 November 2014

Inilah hari pertama Eiji (Royyan) berada pada suatu tempat asing tanpa ibunya/keluarga. Karena ada sebuah keperluan, Eiji harus saya titipkan ke hoikuen (daycare) untuk beberapa jam. Jauh hari sebelumnya dia selalu bilang `kakak mau sekolah`sambil menggendong tas punggungnya saat kami pergi ke luar. Saya pun memutuskan untuk mencoba, memberikan pengalaman baru kepada Eiji, dan mengajarkan bahwa dia bisa/berani untuk jauh dari ibunya dalam beberapa saat. Hari Senin saya pun menghubungi hoikuen tersebut bahwa hari Jumat akan menitipkan Eiji di sana.  baca selanjutnya

Advertisements

Ayah Mana

Eiji telponan dengan si ayah yang beberapa hari nggak pulang ada conference di Tokyo.

Eiji: Yah… Ayah mana? *tidak dilanjutkan

Ayah: Ayah di Tokyo… *belum selesai*

Eiji: Mana… *berhenti sejenak*

Eiji: Mana mainannya?

Ibu: hahaha 😀 😀 😀

Si ayah mungkin udah pe-de dikangenin anaknya, eehhh ternyata lanjutannya nggak enak! Yang ditunggu MANA MAINANNYA. *pisss Yah! 😀

-RN-

Ngomong Jelek

Tante bilang ke anak-anak: “kita ga boleh ngomong jelek, nanti dicatat malaikat sebelah kiri.”

Suatu ketika, ada 2 anak bercengkerama:
A: gambarnya jelek!
B: *spontan teriak* tanteeee, itu si A bilang jelek, kan ga boleh ya…

Tante: *mikir* oalaahh.. ternyata yang ditangkap anak saat dijelasin adalah kata “jelek”. Sedangkan yang dimaksud “jelek” oleh tante adl sekelompok kata-kata buruk yang ga boleh diucapkan. 😀

Yuk mari belajar bahasa/kosa kata anak-anak agar sama dg yang dipersepsikan 😀

-RN-

Celoteh Anak: Bapak nya Tante

Percakapan dengan anak usia 4 tahun (sebaya dengan yang kemarin). Ada bunyi bel.
Anak (A): Itu bapak-nya tante ya?
Tante (T): *bingung* bapaknya tante? Wah, tante udah ga punya bapak. 😀
A: bukan, maksudnya bapak-nya tante di sini. *pandangan serius*

Setelah tamunya masuk, kelihatan-lah siapa yang dimaksud “bapak-nya tante.”

A: itu bapak-nya tante datang.
T: oalaaahh…. ini toh bapak-nya tante? 😀 *maksudnya suami tante*

-RN-

Celoteh Anak: Laki-laki nya Tante

Percakapan dengan anak usia 4 tahun.
Anak (A): Tante, ini punya siapa? (sambil nunjuk barang)
Tante (T): punya Om
A: Om nya tante itu laki-laki nya tante?
T: Kok laki-laki nya tante? 😀 maksudnya, itu punya suami tante.
A: Apa sih suami? (ga paham kata suami)
T: Suami itu gini contohnya: “ayah suaminya ibu” (Tante juga bingung ngejelasin, kalo bilang tentang pernikahan khawatir si anak tambah bingung) 😀
A: Ooh suami, itu laki-laki? (muka polos)
Tante: zzzttttzz 😀 ketawa *ga tau gimana jawaban selanjutnya*

Pertanyaan polos anak-anak yang selalu di luar dugaan, selalu membuat kita menjadi “eng inggg eenggg” merasa lemot sedunia 😀

-RN-

Celoteh Anak: Bohong

Obrolan anak-anak saat menggambar:
A (SD): Kita ga boleh bohong, kamu tau ga bohong?
B (TK): Tau. (jawaban meyakinkan)
A: Apa itu bohong?
B: Itu lho.. itu, yang berkaki empat.
A: Bukaaaan… itu bukan bohong, kalo kamu janjiin mau kasih permen terus kamu ga jadi ngasih, itu namanya bohong.

Tante (mendengarkan obrolan): *inget pernah menjelaskan konsep “bohong” dengan contoh sama persis dengan yang dikatakan A.

B: Oooo…. *sambil mengangguk.

Tante: nahan ketawa! 😀

-RN-

Celoteh Anak: Tempat Tinggal

Anak: Tante, tante rumahnya deket Indonesia kan?
Tante: *ketawa* Kalo adek di mana?
Anak: Hmm, aku lupa rumahnya di mana. -> belum bisa menyebutkan nama daerah karena saat pindah masih kecil.
Tante: Setelah pulang dari sini, nanti adek mau tinggal di mana?
Anak: Aku ga mau ditinggaaaalll!!
Tante: ??!?? *nahan ketawa di depan si anak* 😀

Kata “tinggal” yang dipahami si anak adalah “ditinggalkan”, sedangkan “tinggal” untuk tempat tinggal (sesuai pemahamannya) adalah “rumah”. Cermatlah memilih kosa kata saat berbicara dengan anak-anak, jangan sampai berbeda makna dengan yang mereka pahami. 😀

-RN-