Dedikasi Ibu Jepang

Stok cerita lama, baru sempat posting. Berkesempatan ngobrol dengan seorang teman Jepang, saya mendapatkan cerita ini. Wanita Jepang kebanyakan memutuskan menikah pada usia di atas 30-35 tahun. Alasannya, selepas kuliah adalah saatnya berkarir, mendapatkan gaji, bersenang-senang, atau pun jalan-jalan keliling dunia. Karena mereka menyadari bahwa ketika menikah maka kebebasan tersebut tidak akan mereka dapatkan. Tak jarang juga memilih untuk tidak menikah. Mereka tahu betul bahwa ketika sudah menikah maka ada banyak konsekwensi atas pilihan tersebut, bisa dibaca di sini.

Ia menuturkan, pilihan menikah adalah ketika seorang wanita menyadari bahwa ia ingin hamil dan memiliki anak.  Didasari pemikiran bahwa wanita memiliki umur biologis di mana ada batasan tidak bisa melahirkan lagi. Saat itulah ia mulai menghitung usianya, merencanakan kapan menikah, kapan punya anak, dan jumlah anak yang diinginkan. 

Ketika ia memutuskan menjadi ibu rumah tangga total, maka akan keluar dari pekerjaannya dan fokus mengurus anak, mengatur semua urusan domestik di rumahnya. Semuanya diurus sendiri, kecuali bila ada orangtua yang mau membantu. Namun kebanyakan para orangtua (kakek-nenek) tidak mau jika harus mengurus cucunya sementara si ibu bekerja di luar rumah, karena para kakek-nenek di sini usia 70 tahun pun masih sangat aktif dan mereka merasa masih muda. Kakek-nenek masih punya segudang aktivitasnya sendiri.

Nah ketika seorang wanita memutuskan untuk menjadi working mom, maka ia harus mengalokasikan sebagian besar gajinya untuk membayar hoikuen *penitipan anak* swasta yang harganya mahal. Hoikuen negeri mendapat subsidi dari pemerintah, namun jumlahnya terbatas dan kuota tidak memenuhi permintaan yang ada.

Kembali ke dedikasi ibu Jepang dalam mengurus keluarganya, benar-benar dedikasi yang besar. Seluruh urusan domestik diserahkan kepada si ibu. Tugas bapak Jepang full mencari nafkah di luar rumah. Urusan rapat sekolah, pendidikan, prestasi anak, dapur, belanja, bayar tagihan, dan printil-printilnya ada di tangan si ibu. Benar-benar pekerjaan berat namun dikerjakan penuh dedikasi.

Negara Jepang menjadi salah satu negara maju dan penduduknya memiliki mental mandiri, tentu saja tak lepas dari peran para ibu dalam mendidik anaknya.

Di sisi lain, karena beban kerja menjadi ibu rumah tangga di sini cukup berat, maka angka post partum blues pun tinggi. Untuk mengurangi beban tersebut, pemerintah Jepang membantu dengan menyediakan fasilitas helper yang datang ke rumah untuk membantu para ibu pasca melahirkan. Tawaran jasa helper tersebut bisa diambil atau tidak.

Pengalaman saya sebelum melahirkan kemarin, saat melaporkan kehamilan ke kuyakusho, petugas kuyakusho mengatakan hal ini:

Kami menyediakan jasa helper untuk datang ke rumah membantu pekerjaan rumah, memasak, dan memandikan bayi sampai 10x datang, sebelum bayi berusia 6 bulan. Anda bisa mengambil jasa tersebut dengan mengajukan aplikasi ke sini. Ini adalah pengalaman kehamilan pertama Anda, di luar negeri, dan tidak ada keluarga yang datang membantu mengurus bayi. Pasti Anda akan kelelahan sekali. Sebaiknya Anda mengambil tawaran ini.

Saya pun menjawab akan memikirkan tawaran tersebut dan melihat keadaan saya setelah melahirkan nanti, apakah saya akan mengambil atau tidak. Apalagi jika melahirkan secara caesar yang membutuhkan pemulihan lebih lama, semakin didukung oleh petugas kuyakusho untuk mengambil jasa helper. Setelah melahirkan, alhamdulillah kondisi saya sehat, bisa langsung memandikan bayi sepulang dari rumah sakit, dan beraktivitas lainnya. Jadi saya tidak mengambil tawaran helper tersebut.

—————————————————————————————-

Melanjutkan cerita sebelumnya, saking besar tanggung jawabnya seorang ibu dalam mengurus anak bahkan ekstrimnya ada yang bunuh diri karena prestasi anaknya turun.😦 Selain berdedikasi, tinggak stres ibu juga tinggi karena beban kerja yang tinggi tersebut. Kalau di Indonesia, budaya kekeluargaan masih sangat kental. Ada bantuan dari keluarga, tetangga, dll saat membesarkan anak. Hal tersebut juga menjadi salah satu pertimbangan orang Jepang untuk memiliki sedikit anak. Jumlah bayi yang lahir semakin sedikit, menimbulkan permasalahan baru bagi negara. Yang ini kapan-kapan dilanjutin lagi ceritanya. *biar nyempatin ngetik*😉

Intinya:

Mari-mari kita ambil sisi positif dedikasi para wanita Jepang untuk keluarganya.

-RN-

One thought on “Dedikasi Ibu Jepang

  1. Pingback: Pemeriksaan Bayi Usia 3-4 bulan dan Penyuluhan Diet « Pojok Cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s