Perjuangan itu Bernama Melahirkan

Alhamdulillah, hari ini (Jum’at) tepat sepekan yang lalu momen “melahirkan” terlalui dalam hidup saya.🙂 Sebelum cerita lebih panjang, biar lengkap mao cerita dulu perkembangan janin uk 39 *nanggung sih kalo ga diceritain.😀

BBJ: sekitar 3000gr (normal)

BBI: 54.3kg (turun 0.1)

Hasil CTG bagus, akachan genki! belum ada kontraksi berarti. :)

Terakhir periksa pas uk 39w1d, tepatnya hari Rabu (22 Agustus 2012). Dari hasil pemeriksaan terakhir belum menunjukkan tanda-tanda akan segera melahirkan (due date 28 Agustus 2012). Jadi dokter pun membuatkan janji untuk periksa lagi pekan depan di uk 40w1d (29 Agustus 2012).

Wokey!! Setelah beres urusan di RS, siang itu saya pun melanjutkan jalan-jalan ke downtown daerah Sendai eki dan sekitarnya. Memang sudah diniatkan jauh-jauh hari sejak Ramadhan kalo harus nambah porsi jalan kaki agar gampang melahirkan.😀 Soalnya pas Ramadhan kan ceritanya penghematan energi, musim panas pula, jadi ngendhon aja di rumah.😛 Selesai Ramadhan sudah harus benar-benar meniatkan diri untuk buanyak-buanyaaak jalan.😀 Jadi deh, beres dari RS dilanjut ngukur jalan keliling downtown

Oya, beberapa hari sebelumnya pun saya dan suami ngobrol “pengennya lair kapan ya”.

Kami pun nego ke si akachan di dalam perut agar lairnya pas weekendJum’at gitu maksudnya, kan Sabtunya baba liong libur, trus pas Jum’at kan kerjaan baba ga terlalu padat. Ya pokoknya dinego-nego gitu. Ideal banget ya kalo akachan bisa lair Jum’at. Kami ngerayu kalo Jum’at itu adalah hari istimewa yang diberkahi oleh Allah. Gitu-gitu deh…😀 Namanya juga usaha nego ke janin, apapun hasilnya tetep harus siap dia mao lair kapanpun.😉

Lanjutin cerita tadi, karena meniatkan diri ngukur jalan maka saya dan teman pun *yang juga sudah jauh-jauh hari kami merencanakan* buat mampir ke penjual es krim ijo (es krim matcha). Saya suka banget dengan es krim itu. Terus juga niat makan udon dulu!😀 Saya bilang ke teman tadi “pokoknya setelah ramadhan, sebelum melahirkan saya mao makan es krim ijo dulu, plus udon”.😀 Alhamdulillah di hari Rabu itu semuanya kesampaian. Sempat juga belanja buah momo (peach) di asaichi ichiba. Pokoknya komplit agenda jalan-jalan hari itu.😀

Momen itu segera tiba!!

Sesampainya di rumah sore hari, puas jalan-jalan saatnya santai ngelurusin kaki. Sekitar jam 22.00 saya memaksa diri untuk tidur, padahal sebenernya belum ngantuk. Ga tau tuh biasanya juga begadang kok tumben pengen tidur cepet. Nah, sekitar jam 23.00 mulai kebangun karena perut terasa sakit. Saya pikir mules biasa, wajar. Dicuekin, balik lanjut tidur lagi! Loh kok muncul lagi, kebangun lagi. Saya pikir “aahh paling kontraksi palsu”. Cuekin lagi!! Wuaah ternyata mulai jam 1 dini hari (Kamis, 23 Agustus 2012) sakitnya mulai intens. Mulai ngebangunin suami buat ngitung datangnya kontraksi. “Apa ini kontraksi beneran?” ga tau deh pokoknya pegang hape sambil nyatet kapan saya mringis-mringis kesakitan. Loh… loh kok intervalnya teratur, dimulai dari 15 menit sekali, kok lama-lama jadi 10 menit sekali. Jangan-jangan beneran ini kontraksi! Suami pun langung ambil koper yang sudah siap sedia jauh-jauh hari. Dia tanya apa mau telp ke RS sekarang? Saya bilang, entar dulu nunggu subuh dulu, pengen shalat di rumah. Ok! saya berusaha nahan sakit sampe subuh. Jadi dari jam 1 tadi udah ga bisa tidur, mules, pegel, nyeri, ga tau lagi gimana posisi yang “pewe” buat duduk. Berbaring sakit, duduk sakit, berdiri sakit, pokoknya semua posisi udah dicoba.

Pas udah masuk waktu subuh, saya pun persiapan mau ambil wudhu. Sebelum wudhu ke WC dulu. Nah loh! Saat itu mulai keluar darah beberapa tetes. Untuk memastikan, saya panggil suami *apa mata saya salah lihat*. Iya bener, ternyata memang darah. Saya masih sempat nanya, ini masih boleh shalat enggak? Udah enggak, udah termasuk darah nifas. Yap, suami shalat, saya menyiapkan diri untuk ke rumah sakit. Sesegera menghubungi RS dan bilang kalo kontraksi udah datang rutin per 10 menit dan udah keluar darah. Pihak RS pun menyuruh kami datang. Segera panggil taksi dan alhamdulillah nyampe RS jam 04.15. Saya masih bisa jalan sendiri, ga pake kursi roda, naik ke lantai 6 menuju ke bagian maternity. Di sana sudah ditunggu beberapa perawat/bidan, langung cek pembukaan, ternyata sudah pembukaan 3. Saya pun diminta istirahat sambil nunggu pembukaan selanjutnya dan dipantau interval kontraksinya dengan CTG. Sampai sekitar jam 9.00 dokter datang, kebetulan dokter yang biasa memeriksa saya. Dicek lagi pembukaan, sekarang sudah pembukaan 4, juga di USG. Ok! Semua tidak ada masalah, tinggal nunggu pembukaan lengkap dan melahirkan secara normal.

Kontraksi makin sering, tentu saja makin sakit, seharian dicek masih stagnan di pembukaan 4.😦 Saya diminta banyak jalan keliling sekitar kamar agar pembukaan segera nambah, tiap kali kontraksi datang, langsung berhenti, pas ilang lanjut jalan lagi. Seharian plus malem, belum nambah juga. Memang katanya pembukaan 1-5 membutuhkan waktu sangat panjang. Rasa sakitnya luar biasa, intervalnya meningkat per 3-2 menit, namun pembukaan belum ada kemajuan juga. Saya sama sekali tidak bisa tidur sampai Jum’at pagi (sudah tidak tidur lebih dari 24 jam). Jadi udah sehari semalam menikmati kontraksi yang makin intens. Rasanya seperti pinggang mau lepas, sulit dideskripsikan, ini adalah sakit yang paling sakit selama hidup saya.😀 Saat kontraksi per 3 menit sekali, saya masih bisa makan dan mandi. Jadi saya berkejaran dengan si kontraksi tadi. Tiap kali reda dalam jangka 3 menit saya gunakan untuk nelan makanan, setelahnya meringis lagi. Tiga menit pula kejar-kejaran di kamar mandi dan WC. Pokoknya selama mereda, saya segera mandi, setelahnya meringis lagi, begitu seterusnya. Kontraksi puncaknya mencapai per 2-1 menit sekali. Itu udah ga bisa mikir apapun. Cuma terus berdoa sebisa dan seingat doa apapun saat itu. Sehari semalam pembukaan lama nambahnya.

Waktu itu akan segera tiba

Jum’at jam 9.00 pagi akan dicek pembukaan lagi, di ruang periksa saat itu saya bersama bidan. Saat akan diperiksa tiba-tiba keluar air. Saya pikir darah, ternyata itu air ketuban. Bidannya bilang “daijoubu”. Ketuban keluar tidak langsung “byuur” tapi sebagian sedikit. Dicek pembukaan, sudah pembukaan 7. Alhamdulillah! Saya diminta persiapan pindah ke ruang bersalin. InsyaAllah sebentar lagi akan melahirkan. Bidan menyiapkan semua perlengkapan persalinan, saya sudah berada di tempat tidur bersalin. Bidan bertanya nanti akan melahirkan dengan posisi seperti apa, bisa jongkok (disiapkan matras dan birthing ball), bisa di tempat tidur dengan duduk. Saya memilih di tempat tidur karena merasa tenaga sudah terkuras habis-habisan tidak tidur sehari semalam dan merasakan sakit kontraksi yang luar biasa! Dokter datang, langsung memeriksa, kembali cek pembukaan, sudah pembukaan 8. Dua lagi pembukaan lengkap!!😀

Serviks sudah lunak, sudah pembukaan 8; pas dicek, loh kok kepala akachan ga mau turun?! Oya, saat itu CTG dalam kondisi terpasang. Kontraksi makin hebat, mencapai 100 lebih, intervalnya per 2-1 menit!! Hiyaa… rasanya muantaabbb!! Karena kepala belum turun juga, langsung datang dokter yang lain. Dokter ini dokter kandungan spesialis fetal heart, di usg lagi. Saat itu si dokter berada di sebelah kanan saya, dokter yang akan membantu persalinan di dekat kaki saya, bidan di sebelah kiri saya, beberapa perawat ada di ruangan juga. Hiyaa.. muka dokter di kanan saya mulai panik, beberapa dokter langsung ngobrol singkat. Sesaat kemudian, dokter fetal heart membisikkan pelan di dekat telinga kanan saya bahwa harus caesarian, karena detak jantung akachan mulai tidak stabil. Saat mendengar kata-kata itu, saya tidak panik. Saya bilang OK! Saya tanya kapan? Katanya, segera setelah ini! Dokter bertanya, “siap? Ganbarimasyou!!” Saya tersenyum dan mantab bilang ganbarimasu!!

Saat ini saya berada dalam kepasrahan puncak, apapun yang terjadi tidak ada yang saya sesali, saya tidak ngotot untuk melahirkan secara normal. Meskipun sejak awal kehamilan sampai pembukaan delapan tadi tidak ada masalah pada kehamilan saya. Saya tidak menyesali sudah merasakan sakit yang teramat sangat hingga berada di pembukaan 8. Nyaris! 2 lagi pembukaan komplit 10 dan melahirkan normal seperti harapan semua. Namun qodarullah, di pembukaan delapan ternyata akachan punya rikues sendiri. Tidak mengapa, saya pikir selama ini akachan selalu menuruti kata-kata saya untuk dinego tidak lahir sebelum lebaran, dinego agar lahirnya pas weekend hari Jum’at (seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya), pokoknya banyak sekali rikues saya yang sudah dia turuti. Dan saat ini dia pun punya rikues sendiri yaitu tidak ingin dilahirkan secara proses normal spontan (dengan kepalanya yang tidak mau turun). “OK baiklah, sayang! Kini saatnya mommy menuruti rikues kamu, sebagaimana kamu menuruti rikues mommy selama ini!”😉 Saya benar-benar tenang, tidak panik, tidak takut, dan pasrah berdoa untuk semua yang terbaik. Alhamdulillah Allah memberikan semua ketenangan itu dalam hati saya.

Persiapan operasi

Saat itu di ruangan bersalin semakin bertambah orang. Yang saya lihat, semua mempersiapkan diri. Beberapa perawat langsung menyuntikkan jarum infus ke tangan kiri saya, yang lain memasangkan oksigen, yang lain mengganti baju saya dengan baju operasi, yang lain ngecek tekanan darah dan kontraksi, yang lain mengangkat badan saya ke bed baru yang nantinya akan membawa saya ke ruang operasi. Dokter dan bidan yang akan membantu saya melahirkan normal tadi juga sudah berganti baju dengan baju operasi. Di ruang bersalin pula, petugas rontgen datang untuk foto organ dalam. Semua prosesnya sangat cepat. Saya segera dipindahkan ke ruang operasi di lantai 3 (ruang bersalin ini di lantai 6). Dokter dan seluruh orang ada di dekat saya, kami bersama menuju ke ruang operasi. Saat keluar pintu ruang bersalin untuk menuju ruang operasi, suami saya bertanya “Dhe, siap?” Saya yang saat itu sudah menghirup oksigen, menjawab OK dengan jempol tangan. Bismillah, la hawla wa la quwwata illa billah… InsyaAllah, Allah akan memudahkan semuanya. Saya sangat yakin dengan hal itu. InsyaAllah, akachan pun tahu perjuangan ibunya.🙂

Sesampainya di ruang operasi, saya dipindahkan lagi ke bed operasi. Jumlah orang yang saya lihat di sana lebih banyak. Semua sudah dengan baju operasi, semua bekerja sangat cepat. ECG ditempel, dokter bius memperkenalkan diri dan berkata kepada saya bahwa dia akan menyuntikkan obat bius. Sesaat sebelum disuntik bius, saya masih merasakan kontraksi kuat per satu menit sampe saya bilang ke dokternya “cotto matte, kontraksiong kita!” sambil tetep menahan sakitnya. Dua orang dokter kandungan (entah yang satu dokter bedah, yang pasti bu dokter yang akan membantu persalinan normal tadi juga ada di sana lengkap dengan baju operasinya). Bismillah, operasi pun dimulai. Saya dibius lokal, mata menghadap ke atas melihat lampu-lampu operasi, di sekeliling saya semua orang bekerja. Di atas kepala saya ada dokter bius yang tetap berada di posisi itu selama operasi. Saya bisa melihat sayatan awal di perut saya melalui pantulan dari lampu di atas, namun kemudian ditutup jadi saya tidak bisa melihat lagi pantulan di atas.😀

Akachan umareru!

Prosesnya sangat cepat, sekitar 42 menit selama operasi berjalan, dokter bilang “akachan umareru!! Otokonoko!!” Dibarengi tangisan yang sangat keras dari si akachan. Alhamdulillah!! Saat dengar itu, rasanya “cleeessss” sulit diungkapkan. Dokter serta merta mengatakan “akachan totemo genki! Omedetou!” Saya bertanya kepada dokter bius yang berada di atas kepala saya, sekarang jam berapa? Ju ichi ji ni yon ju pun (11.40). Ga ada yang terpikir dalam diri saya selain terus menerus mengucapkan syukur kepada Allah. Saya melihat akachan langsung dicek di sebelah kiri saya oleh dokter anak, bidan, dan beberapa perawat. Setelahnya ia didekatkan ke saya. Karena tangan kiri saya dipasangi banyak alat dan sulit bergerak, saya hanya bisa menyentuhkan jari kelingking saya ke jari dia sambil memanggil namanya. Sesaat seketika itu, akachan langsung menghentikan tangisnya. Ajaib! Dia mengenali sentuhan dan suara saya. Dia pun langsung dibawa keluar dari ruang operasi dan melanjutkan tangisnya.😀

Oya, kata suami yang menunggu di lantai 6. Saat akachan keluar dari lift dan berhenti sejenak untuk dilihat ayahnya, suami saya menyempatkan mengambil foto dan memanggil namanya. Ajaib! Lagi-lagi dia menghentikan tangisnya seolah mengenali orang yang memanggilnya.😀 SubhanAllah!!

Proses operasi terus berjalan, semua cepat dan sigap. Alhamdulillah semua dimudahkan dan lancar. Saya kembali ke lantai 6 dan semua tim operasi mengucap “otsukaresamadeshita”. Alhamdulillahi Rabbil Alamin… Yang saya ingat, pada saat akhir diiringi “san gatsu kokonoka” OST. Ichi Ritoru No Namida (One Litre of Tears), makin mengharu biru dengan tangis akachan.

Sekarang si akachan sudah ada di samping saya, semua rasa sakit kontraksi lebih dari sehari semalam tidak berbekas sama sekali, luka operasi berangsur pulih, rasa lelah dan kesakitan semuanya tidak terasa berat. Allah memudahkan semuanya. Si akachan yang penurut itu, yang selalu menuruti rikues mommy-nya kami beri nama:

英治 ロイヤン ヌグラハ
“Eiji Royyan Nugraha” (eiji kun).

Sendai, 6 Syawwal 1433 / 24 Agustus 2012, 11:40 JST. Alhamdulillah dilahirkan dengan selamat di hari Jumat penuh barokah. Qodarullah lahir setelah bulan Ramadhan, sehingga kami mengambil kata “royyan”: nama pintu surga yang diperuntukkan bagi orang berpuasa.” Sedangkan arti nama selengkapnya: “Anugrah besar dan kedamaian pengantar surga.”

Semoga menjadi putra sholih yang mengantarkan kedua orangtuanya pada surga Allah. Aamiiin…🙂

Foto saat usia 3 hari. Lahir di uk 39w3d 2956gr 50cm

-RN-

Catatan:

Prosedur melahirkan di Jepang adalah kelahiran normal spontan, jadi tidak bisa meminta untuk melakukan proses kelahiran caesar jika tidak ada indikasi medis. Tidak bisa “rikues” melahirkan di hari/tanggal “cantik”. Dokter akan mengusahakan kelahiran normal semaksimal mungkin, misalnya dengan memberi tindakan induksi jika kehamilan melebihi HPL. Namun akan dilakukan tindakan penyelamatan jika ada kejadian tidak terduga seperti tindakan caesar jika mendadak tidak memungkinkan kelahiran secara normal (caesarian tanpa rencana). Sedangkan caesarian terencana akan dilakukan jika ada indikasi medis selama kehamilan, akan ditentukan tanggal kapan akan melahirkan sejak masih hamil.

12 thoughts on “Perjuangan itu Bernama Melahirkan

      • oh ya mbak afwan…
        mbak ane dkk. merintis pendidikan tafidz Qur’an dan alhamdulillah sdh berjalan hampir 11 bulan, ada 10 anak, usia TK-SD, mereka tinggal di ma’had dengan biaya gratis ( Pendidikan. peralatan, buku2, makan, asrama, kesehatan).
        Diantara 10 anak tersebut ada yang fokus tafidz (tidak sekolah di umum) dan ada yg sekolah umum,
        di ma’had anak yang tidak sekolah, kita tambahi materi bahasa arab, Indonesia, inggris dan matematika
        Mohon saran dan masukan sistem pendidikan yang ane rintis ini.
        jazakumulloh khoiron.

  1. subhanallah jadi terharu tyas baca ceritanya:) insya Allah semoga tante diberi kesempatan ketemu eiji kun sebelum eiji pulang ke indonesia:) by the way eiji artinya apa😀

  2. assalamu’alaikum…
    mba tyas masih ingat saya? adik tingkat di psi undip yang tinggal di wisma misykah
    entah kenapa tiba2 saya membuka blog mbak tyas dan membaca cerita ini.
    sudah telat ya…tapi saya ucapkan barakallah atas kelahiran putra pertamanya.
    sungguh terharu bacanya :’)

  3. Pingback: Perjuangan itu Bernama Melahirkan: bagian 2 | Pojok Cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s