18 Kippu: Tokyo, Matsumoto, dan perniknya

Bus kota di Asakusa

Rencana liburan musim dingin alhamdulillah terlaksana, meskipun sehari sebelumnya masih ragu-ragu “berangkat enggak ya” akhirnya nyampe juga ke Matsumoto.๐Ÿ˜€ Lebih lengkapnya, yuk mari kita cerita lebih detail! ;)ย 

29 Desember 2011 – 30 Desember 2011

Berangkat sekitar jam 11 dari Sendai eki, tujuan awal kami ke Tokyo. Di kereta ga banyak poto-poto, banyakan tidur soalnya!๐Ÿ˜€ Lancar sampai Tokyo di malam hari, kemudian menginap di sana. Tokyo sangat hangat! Ini cocok bagi hidung saya.๐Ÿ˜€ Pagi harinya melanjutkan perjalanan muter-muter Asakusa. Di sana ada Senso-ji temple (salah satu temple tua yang terkenal di Jepang) tapi kami ga masuk ke temple-nya, lebih banyak menjelajah ke Asakusa Nakamise. Nakamise adalah salah satu pusat perbelanjaan tertua di Jepang, sekitar tahun 1688. Didirikan pada jaman Shogun Tokugawa di Edo (Tokyo jaman dulu). Nakamise (yang di depan Senso-ji temple) merupakan tempat penjualan pernak-pernik unik yang cocok dengan dompet wisatawan karena dijual dengan harga miring.๐Ÿ˜‰

Kawasan Asakusa Nakamise

Rame dengan turis dari dalam dan luar negeri.

Mirip Clissroad di Sendai.

Di daerah Asakusa, Tokyo Sky Tree juga terlihat jelas. Lebih keren dari Tokyo Tower! hehehe… Silakan foto-foto di sana.๐Ÿ˜€

Tokyo Sky Tree

Beres singgah ke sana, kami pun melanjutkan perjalanan ke selatan. Sebelumnya shalat Jum’at di masjid Camii, masjid megah Turki di daerah Yoyogiuehara, Tokyo.

Umat Islam dari berbagai negara.

Tujuan utama 18 kippu tahun ini adalah ikut daurah ke daerah Matsumoto, di dekat Nagano. Sampe di sana sudah malam jadi ga sempat lihat pemandangan yang dilewati kereta.

Matsumoto-shi

Di sana bertemu dengan banyak teman baru dari seluruh Jepang. Alhamdulillah nambah jumlah sodara, nambah pengalaman, dan nambah ilmu baru.๐Ÿ˜€

Sedikit cerita tentang perjalanan di daurah. Materi paling mengena di daurah ini salah satunya tentang hakikat kehidupan dunia. Kondisi umat Islam saat ini seperti sampah yang diterpa air bah. Jumlah yang banyak tidak menjadi jaminan kejayaan umat. Penyebab utamanya ternyata adalah penyakit “al-wahn”, yaitu cinta dunia dan takut mati. Karena cinta dunia, kita lebih banyak memikirkan urusan perut sendiri. Karena takut mati, kita tidak berani berjuang melawan kedzholiman.ย Ada baiknya belajar dari para salafusshalih, mereka hanya menjadikan dunia di tangannya saja, tetapi tidak masuk ke hatinya. Ketika dunia merasuk ke hati untuk dimiliki sepenuhnya, akhirnya dunia menjadi sebab perpecahan. Para salafusshalih bukanlah orang-orang yang miskin; sungguh mereka itu kaya, tetapi saat memiliki harta mereka langsung menyedekahkannya di jalan Allah. Apa yang ada di hati mereka hanyalah urusan akhirat sehingga mereka pun tidak ragu untuk mati berjuang di jalan Allah karena ingin segera berjumpa dengan-Nya.

Daurah diselenggarakan selama 4 hari, kami hanya mengikuti selama 2 hari karena harus segera kembali ke Sendai. Jadwal liburan sudah habis!!๐Ÿ˜€

Matsumoto dikelilingi gunung bersalju, di sana banyak area ski. Salah satu yang terkenal ada di daerah Nagano. Di Matsumoto juga banyak lahan pertanian.

Jangan salah, semua petani di Jepang sangat kaya!! Awalnya saya membayangkan petani seperti gambaran yang ada di Indonesia. Ternyata saya salah! Petani di sini sangat kaya, mobil milyaran rupiah minimal 1 biji pasti parkir di rumahnya.๐Ÿ˜€ Di Matsumoto, traktor-traktor canggih parkir di tengah sawah, dibiarkan begitu saja. Ini sekilas tentang petani Jepang.

Areal pertanian di Matsumoto dan rumah petani di bawah gunung bersalju.

Saat pulang menuju Tokyo barulah bisa menikmati pemandangan alam di perjalanan. Gunung-gunung berselimut salju itu nampak sangat indah, beberapa kali masuk terowongan kereta yang membelah gunung/bukit. Nampak juga rumah penduduk yang unik-unik. Sawah, gunung bersalju, lahan pertanian, juga pernak-pernik petani.ย Ini yang tidak kami jumpai di pusat kota seperti Sendai maupun Tokyo.

Tokyo

Mengoptimalkan waktu dengan singgah ke Imperial Palace. Ternyata belum beruntung! Saat kami datang, banyak polisi yang siaga di sana karena jam berkunjung sudah habis. Seluruh wisatawan harus keluar padahal kami baru akan masuk. Yasudah, tidak terlalu menyesal karena beberapa kali sudah ke sana.๐Ÿ˜€

Kami pun memutuskan untuk pulang. Dari Ueno menggunakan kereta tujuan Utsunomiya, sesampainya di stasiun Omiya (masih daerah Tokyo) mendadak kereta diberhentikan. Berhenti yang cukup lama, ada banyak kemungkinan: di jalur itu tertutup salju, ada badai, atau ada orang bunuh diri. Entahlah yang pasti jalur menuju Utsunomiya mengalami keterlambatan. Beberapa orang Jepang keluar dan mencari kereta yang lain, mayoritas masih bertahan menunggu di dalam. Kalo kami tetap menunggu bisa dipastikan sudah kehabisan kereta selanjutnya. Parah-parahnya jika harus menginap di Fukushima.๐Ÿ˜€ Setelah 1.5 jam menunggu, hari semakin malam, kami pun memutuskan keluar kereta dan mencari alternatif untuk pulang ke Sendai.

Nge-cek tiket bus di internet ternyata sudah habis terjual. Akhirnya kami pulang dengan naik shinkansen! 18 kippu berakhir dengan cerita ber-shinkansen- ria. 1.5 jam kemudian sudah sampai di Sendai. Dasyatnya shinkansen! Alhamdulillah…๐Ÿ˜€

Semua sudah tersimpan rapi di memori, pengalaman seru dari 18 kippu yang tidak akan pernah dilupakan.๐Ÿ˜€ Bagi yang akan 18 kippu-an, siapkan berbagai rencana jika mendadak ada kejadian seperti yang kami alami.๐Ÿ˜‰

-RN-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s