Kenikmatan Menjadi Pendidik: Seni Mengatakan Tidak kepada Anak

Sensei tachi

Passion! Itulah kunci kebahagiaan ketika kita melakukan suatu hal. Jika kita memiliki passion di dalamnya, maka semua akan terasa menyenangkan. Saya barulah menyadari bahwa passion saya ada di dunia ini. Bertemu anak-anak, bermain, dan belajar bersama. Apapun kesulitan yang muncul di tengah jalan, menjadi sangat ringan dihadapi ketika itu adalah suatu passion dalam diri kita. :D 

Belajar bersama anak-anak membuat saya juga ikut belajar banyak hal. Ada banyak kejutan yang mereka berikan setiap ada kesempatan bertemu, baik dalam suasana belajar-mengajar maupun keseharian. Kejutan-kejutan kecil yang mereka berikan menjadi sangat berarti besar bagi saya! Mereka semua memiliki keunikannya masing-masing. Tidak ada yang lebih baik dan tidak ada yang lebih buruk. :) Ada banyak hal yang tak terduga dan sangat spontan, berupa penghargaan tulus yang sangat menyentuh hati. Bentuknya pun beragam, salah satunya berupa kiriman surat.🙂 Membacanya bisa sampai menitikkan air mata merasakan betapa tulusnya mereka.

Saya bukan tipe pendidik yang “permisif” melegalkan semua sikap atau pun perilaku anak-anak. Saya ingin menyampaikan bahwa di dunia ini terdapat tiga hal: sesuatu itu benar, sesuatu itu salah, dan abu-abu. Mereka berhak tahu untuk bekal di kemudian hari. Harapannya ketika dewasa nanti, mereka memiliki kepribadian kuat dan tidak bersikap abu-abu.

Bagi saya, filosofi “dilarang mengatakan tidak kepada anak” tidaklah berlaku. Tentu saja penyampaiannya tidak hanya sampai di situ, ada penjelasan lebih lanjut “mengapa ini tidak boleh dan itu diperintahkan.”🙂 Ketika kita tidak pernah menyampaikan hal mana saja yang boleh dan mana tidak boleh, anak-anak tidak akan mengerti batasan kedua hal tersebut. Ada pandangan bahwa mengatakan tidak akan menghambat kreativitas anak, namun tidak selalu demikan. Tergantung bagaimana kita bersikap dan menjelaskan hal tersebut kepada anak. Perlahan, anak-anak akan memahaminya.

Buku-buku psikologi barat (tentang perkembangan anak) mengajarkan bahwa orangtua dilarang mengatakan “tidak atau jangan” kepada anak mereka, karena hal tersebut dianggap dapat menghambat kreativitas anak. Pandangan ini kemudian kita serap secara perlahan dengan tujuan agar kreativitas anak tidak terhambat, padahal pandangan demikian bisa berdampak “buruk” manakala anak-anak sudah dewasa.

Kreativitas akan tetap berkembang manakala kita mendukung proses perkembangan tersebut. Anak-anak tetap harus diarahkan kepada hal-hal yang boleh dan tidak boleh. Jadi anggapan “jangan mengatakan tidak” kepada anak-anak, tidak selalu benar menghambat kreativitas. Bisa jadi itu terjadi ketika kita hanya berhenti mengatakan “tidak” tanpa menjelaskan lebih lanjut sampai anak benar-benar mengerti.😉

Yap! saya bahagia mengenal mereka.

Suatu saat nanti, ketika kami sudah tidak bertemu lagi… Terpisahkan jarak dan tempat, anak-anak sudah dewasa dan saya sudah tua, mudah-mudahan kenangan ini tetap ada dalam ingatan mereka. Mudah-mudahan ada doa yang terkirim dari kejauhan mengikat hati kami, saya dan anak-anak. Aamiiin…🙂

-RN-

One thought on “Kenikmatan Menjadi Pendidik: Seni Mengatakan Tidak kepada Anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s