Toleransi-nya Orang Jepang

Sejak tinggal di Jepang, dari sanalah berinteraksi dengan orang Jepang. Mulai belajar bahasa, budaya, dan kebiasaan mereka. Kebetulan saya tinggal di Sendai, mulai mengenal orang Jepang di sini, di mana tatanan masyarakatnya tidak se-individualis di Tokyo (maklum, ibu kota). Orang Jepang (khususnya di Sendai) yang saya lihat, mereka menghargai orang asing. Ya! Mereka menyenangkan!😀

Meskipun ada juga yang tidak ramah, tapi itu sangat minoritas dibandingkan orang Jepang secara umum di sini. Berinteraksi dengan mereka, saling bertukar budaya, dan belajar kebiasaan masing-masing membuat kami saling memahami. Beberapa orang Jepang yang saya kenal, semuanya sangat menghargai perbedaan yang ada. Tentu saja, kami berasal dari negara dan budaya yang berbeda, juga agama yang berbeda. Terkait hal itu, saya ada beberapa cerita.

Awalnya sensei-sensei kelas nihongo tidak tahu bahwa orang muslim melakukan ibadah/shalat 祈り pada saat tertentu, yang terikat waktu. Kami pun berbicara kepada mereka bahwa kami meminta izin penggunaan tempat untuk shalat.

Susah sih ya, kita ga boleh sembarang pake tempat tanpa izin (kecuali di taman kota). Kalo ga bilang, bisa dianggap melakukan sesuatu yang membahayakan. Bahkan sampe diperingatkan “dame!” (ga boleh).

  1. Kami bilang bahwa pada waktu tertentu, kami membutuhkan tempat kecil sekitar 10-15 menit di sana, alhamdulillah diizinkan memakai ruangan sensei untuk shalat. Sensei lain yang tidak tahu hal ini, kebingungan saat melihat “shalat”. Tapi tidak mengapa.😉
  2. Selain itu, kami juga menjelaskan bahwa tidak semua makanan dan minuman bisa kami konsumsi. Mereka pun mulai mengerti dan memahami hal tersebut.😀
  3. Hal lain yang juga menarik adalah jilbab. Kalo musim dingin, hal ini tidak akan dipertanyakan karena orang Jepang pun banyak yang memakai syal ditutupkan ke kepala menyerupai jilbab.😀 Namun ketika musim panas tiba, jilbab menjadi hal yang sering ditanyakan oleh orang Jepang. Misalnya di halte bus, biasanya nenek-nenek/ibu tengah baya yang kerap bertanya:

“asalnya dari mana?”

“ini namanya apa?”

“ga panas pake itu?” (sambil memegang kain jilbab)

Dari sanalah menjelaskan bahwa ini jilbab, dipakai oleh muslimah, kami memakainya bukan karena kami berasal dari Indonesia, dll. Beberapa hal kadang menjadi “sangat menarik” bagi mereka.😉

Secara umum, sikap orang Jepang terhadap hal ini adalah apatis, tidak peduli orang mau ngapain asal tidak mengganggu mereka. Kalo penasaran, barulah mereka bertanya. Jadi tidak seperti di negara barat yang katanya banyak diskriminasi dengan muslim. Orang Jepang cenderung tidak peduli hal-hal tersebut (agama/kepercayaan).😀

Kuncinya ada di komunikasi. Semua bisa saling menghargai ketika kita mengkomunikasikan hal tersebut kepada mereka.😉

-RN-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s