Hinamatsuri 雛祭り 2011: Kimono dan Maccha 抹茶

Artikel ini ditulis tanggal 3 Maret 2011, delapan hari sebelum kejadian gempa dan tsunami 11 Maret 2011. Kenangan yang takkan terlupakan!

———————————————————————————————————-

Hinamatsuri 雛祭り adalah festival boneka yang diselenggaran setiap tanggal 3 Maret. Festival ini menampilkan panggung boneka dengan alas karpet merah dan digunakan untuk menampilkan satu set boneka hias 雛人形 (hina-ningyo), merepresentasikan: kaisar, permaisuri, pembantu, dan musisi dalam pakaian tradisional periode Heinan.

雛人形 hina-ningyō

Definisi kimono menurut wikipedia:

Kimonos are T-shaped, straight-lined robes worn so that the hem falls to the ankle, with attached collars and long, wide sleeves. Kimonos are wrapped around the body, always with the left side over the right (except when dressing the dead for burial),[4] and secured by a sash called anobi, which is tied at the back. Kimonos are generally worn with traditional footwear (especially zōri or geta) and split-toe socks (tabi).

Kimono biasa dikenakan pada acara perkawinan, upacara minum teh, dan acara-acara formal lainnya. Jenisnya pun ada beberapa macam. Meski sepintas mirip, namun kimono tidak sama dengan yukata. Yukata merupakan kimono yang dikenakan pada musim panas. Perbedaan antara kimono dengan yukata antara lain:

Kimono:

  1. berbahan sutera sehingga harganya sangat mahal (bisa mencapai ratusan ribu yen atau puluhan juta rupiah)
  2. cara pemakaiannya lebih rumit (membutuhkan bantuan orang lain, kecuali jika sudah terbiasa)
  3. tebal dan berlapis
  4. dikenakan pada acara-acara resmi.

Berdasarkan pemakainya, kimono terbagi atas dua jenis pemakai: untuk wanita yang belum menikah (ditandai dengan bagian tangan yang menjuntai panjang), dan wanita yang sudah menikah (dengan kimono yang tangannya tidak menjuntai). Pura-pura nya belum menikah. *gak diiiingggg*😀

Karena yang ada saat itu hanya kimono untuk para gadis, ya sudah jadinya saya pakai yang menjuntai (pura-pura belum menikah).😀

Kimono berlengan pendek, untuk yang sudah menikah.

Yukata:

  1. merupakan kimono musim panas
  2. berbahan katun
  3. harganya relatif terjangkau
  4. lebih tipis dan sederhana, dikenakan sehari-hari
  5. cara pemakaiannya sederhana (bisa dikenakan sendiri)

Setelah kita tahu perbedaan antara yukata dan kimono, mari kita bahas kimono dan maccha. ;) Salah satu kesempatan bagi saya mengenakan kimono adalah saat hinamatsuri. *mana sanggup beli sendiri*😀 Nah, karena merupakan baju formal, maka kimono tak sembarangan dipakai semau kita. Saya dan beberapa teman mempelajarinya saat itu.

Pada awalnya kami semua belum tahu bagaimana memperlakukan si kimono ini.

Kalau bersikap manis tentu saja! seperti halnya saat memakai kebaya, ga mungkin kan pake kebaya dengan gaya rock ‘n roll?😀

Namun ternyata tak sekedar bersikap manis, ada beberapa tata cara yang perlu kita ketahui. Duduk tidak benar dan duduk yang benar. :D Jadi, saat saya duduk “tidak benar” seorang ibu Jepang menjelaskan posisi duduk yang “benar” adalah:

Meletakkan juntaian kimono pada posisi ke depan dan simetris. Tangan dipangku dengan posisi tangan tangan di atas tangan kiri.

Kejadian lucu selanjutnya adalah saat kami akan minum maccha 抹茶 (teh hijau).

Di meja tersedia arare (snack khas hinamatsuri terbuat dari tepung beras rasanya manis, kami duduk berhadapan sambil berbincang-bincang. Saat ini adalah waktu jam makan siang, spontan saja kami menikmati arare dengan sangat santai sambil menunggu macha siap dihidangkan. Ketika si ibu Jepang datang dengan macha, si ibu tersenyum kepada kami dan menjelaskan bahwa arare dimakan setelah minum macha. Dooohh!!

Dengan muka tanpa dosa, kami saling berpandangan lantas tertawa dan mengatakan:

ooohhhh, ternyata nanti toh makannyaaa…😀

Kami berhenti mengunyah arare dan menyambut si maccha hangat itu. *pas banget udaranya lagi dingin* Maccha disajikan dalam sebuah cawan cantik yang memiliki sisi polos dan bergambar. Saat minum macha pun, santai pula meminumnya.. ehhhh, ternyata salah lagi!😀

Si ibu Jepang lantas mengajari kami bagaimana memperlakukan si cawan maccha. Jadi cawan diputar, kemudian bagian yang bergambar diletakkan ke bagian depan sedangkan yang polos berhadapan dengan kita. Baru deh diminum. Itu untuk menghormati teman yang minum teh bareng kita.😉

Nah, saat kami menikmati si macha dengan posisi cawan yang benar, ternyata posisi duduk kami salah. Hahaha… 😀

Saat itu kami duduk lesehan, ala posisi kaki pas lesehan di Indonesia gitu deh. Eh ternyata ada aturannya loh ga sekedar lesehan. :D Kami pun diajari bagaimana posisi kaki yang benar ala orang Jepang. Gimana ya bilangnya, susah diceritakan harus dipraktekkan langsung. :D Setelah minum maccha barulah dilanjutkan makan si arare tadi.

Kami belajar banyak hal tentang adat istiadat/budaya Jepang. Bagi orang asing mungkin ribet, tapi seru dan menyenangkan.😉

Sesuai pepatah:

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. 😀

-RN-


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s