Penyakit Jejaring Sosial

Berawal dari merenungi “apakah manfaat jejaring sosial”, saya mendapati beberapa manfaat di dalamnya sekaligus penyakit atau efek negatif dari jejaring sosial tersebut. Dibalik berbagai manfaat besar dari jejaring sosial, berbagai penyakit juga bisa muncul setelah adanya jejaring ini. Efek dari jejaring sosial, baik  facebook maupun twitter adalah membuat masyarakat tanpa tedeng aling-aling menjadi “buka-bukaan” di media tersebut. Buka-bukaan terhadap segala macam hal, baik hal yang masih wajar untuk dibuka maupun yang tidak sepantasnya diketahui oleh banyak orang. 

Saya memiliki akun di kedua jejaring sosial ini, namun akun di twitter sebatas untuk mengikuti berita, lebih banyak nongkrong di FB.😀 Sampai hari ini jumlah “teman” di FB sekitar 700 an orang, semuanya saya kenal secara langsung kecuali akun toko tertentu. Yang ga kenal secara langsung sekitar 1%. Selebihnya pernah bertemu langsung atau ada kaitan kepentingan yang jelas/pernah ngobrol. Saya memang sangat konsen terhadap hal ini, tidak akan menerima fren rikues jika tidak mengenal orang tersebut. Ruang di dunia maya pun perlu kita batasi, bukan?😀

Oke mari kita lanjutkan pembahasan tentang penyakit jejaring sosial. Dewasa ini, menurut saya ruang dunia maya menjadi ruang yang sangat sangat terbuka bagi pelaku di dalamnya. Dulu sebelum paham tentang jejaring sosial, saya menganggapnya sebagai hal yang biasa-biasa saja. Namun sekarang setelah mengerti bagaimana “sifat” jejaring sosial ini, jadi lebih “ngeeh” kalo hal ini tidak biasa-biasa saja. Nah terkait hal ini, kita *pelaku dunia maya* perlu menyortir dan membuat batasan hal-hal apa saja yang perlu kita “bagi” dan hal apa saya yang tidak semestinya kita buka di sana.

Memang ini urusan masing-masing individu, tapi kita perlu mencermati adanya penyakit jejaring sosial di dalamnya. Contoh penyakit itu antara lain:

  1. Drama percintaan yang diumbar di ruang publik. “In relationship with” baru saja pacaran, sedang anget-anget nya, wall penuh dengan ungkapan cinta dan kata-kata mesra, upload-an foto tak henti-hentinya diunggah sampai beralbum-album. Pas putus, semua foto di un-tag, semua album foto dihapus, juga tak henti-hentinya mengalir ungkapan patah hati di status FB, tentu saja di wall muncul “in relationship with” serta merta menjadi “single”. Tak ada lagi kata-kata mesra, malah saling memaki di antara keduanya.
  2. Drama rumah tangga (bagian 1). Ungkapan mesra, cinta, kasih, dan sayang yang dituangkan dalam percakapan di wall FB yang hanya melibatkan (saling komen dan nge wall) antara pasangan tersebut. Dengan demikian, semua orang menjadi tahu bahwa pasangan ini adalah pasangan mesra. Obrolan suami istri yang sebenarnya bisa disampaikan lewat belakang layar, apalagi kalo pasangan sedang duduk di samping *lebih gampang ngobrolnya* lewat fasilitas “pesan” di FB, email, sms, atau telepon secara langsung tentu saja lebih etis daripada kita mengumbarnya di ruang publik. Juga foto-foto yang sangat mesra antara pasangan suami istri yang sebenarnya menjadi koleksi pribadi, bisa diakses oleh siapapun.
  3. Drama rumah tangga (bagian 2). Ungkapan kekesalan, keluhan, kemarahan antar pasangan: suami yang selingkuh, istri yang ga cinta lagi, munculnya orang ketiga-keempat-dan seterusnya. Saling marah di antara komen-komen mereka, jangan lupa semua itu dibaca oleh khalayak ramai pelaku FB.
  4. Drama kehidupan. Pagi-pagi sudah update status keluhan hidup yang begini dan begitu. Kadang yang kita baca bisa mempengaruhi semangat kita. Kalo kita membaca kata-kata semangat/doa, minimalnya kita akan ikut bersemangat dengan aura positif di dalamnya. Kalo pagi hari sudah baca status keluhan kehidupan, secara ga langsung ikut terbawa suasana negatif dari keluhan tersebut.
Ditambah lagi jika jumlah teman sampai beribu-ribu *melebihi artis* entah itu kenal semuanya atau tidak. Beribu-ribu orang bisa membaca drama kehidupan kita di sana.

Entahlah, masih banyak hal-hal yang sangat-sangat pribadi urusan domestik (bisa dikatakan urusan 3×4, saking pribadi-nya) yang tidak sewajarnya kalo kita sampaikan di ruang publik, pun ruang dalam dunia maya. Ada hal-hal yang perlu dibagi namun ada juga yang tidak semestinya kita sampaikan di ruang itu *apalagi urusan domestik*.

Kalau butuh teman curhat, marilah kita cari teman-teman di dunia nyata. Meski tidak bertemu langsung dengan teman-teman itu, kita bisa tetap berkomunikasi dengan mereka lewat fasilitas pesan/chatting, tentu saja ini adalah obrolan di balik layar FB, yang tidak perlu menjadikan seluruh dunia tahu penderitaan kita.😉

Yuk ahh bersih-bersih FB, bersih-bersih wall kali aja ada postingan kita di masa lampau yang menjurus pada “drama kehidupan”. Oya kalo perlu, juga me-remove akun yang tidak berkepentingan dengan kita. Sebelum posting sesuatu tentu saja kita perlu berpikir ulang, apakah ini perlu di posting untuk khalayak ramai atau hanya untuk konsumsi pribadi. *setting private* Saya juga berpikir ulang, apakah tulisan ini perlu di posting di FB atau tidak.😀

Mari jadikan ruang maya menjadi lebih aman dan terkendali.😉

-RN-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s