Kualitas Waktu: Romantisme Pernikahan

Sering mendapat sms dari bapak mertua bahwa “abah-mama” (panggilan untuk bapak-ibu) lagi jalan-jalan buat belanja ato sekedar menghabiskan waktu malam berdua. Apalagi jalan-jalan berdua di malam hari, duuuhhh romantis banget! Seneng dengernya!😀 Tau kan Ciwalk Bandung? abah-mama juga jalan-jalan ke sana di malam hari, tentu sangat romantis!😀 Di rumah tinggal berdua, semua anak sudah menikah, dan semua tinggal jauh dari orangtua, baik di luar kota maupun luar negeri. Saat ini beliau berdua sudah pensiun, tinggal menikmati masa-masa romantisme tersebut.😉

Mama cerita bahwa barulah saat ini bisa jalan berdua, setelah puluhan tahun semua disibukkan oleh pekerjaan dan urusan anak-anak. Sekarang tiba waktunya untuk menikmati masa-masa bersama yang benar-benar berdua.😀 Ketika sudah menjadi kakek-nenek, betapa romantisnya saat-saat itu!😉

Kami, usia pernikahan baru hitungan jari, masih jauh dari hitungan puluhan tahun, jauh banget dari episode kakek-nenek. Memang benar, di usia produktif memang sangat susah menemukan waktu bersama karena kesibukan masing-masing. Suami sangat sibuk *kebetulan punya Sensei Jepang yang sangat Jepang banget* romusha meski saya tidak bekerja, namun entah kenapa ada ajaaaa kerjaan yang mesti diselesaikan.😀  Jadi-lah waktu pertemuan kami sangat minim, padahal keluarga kami baru berisi 2 orang (suami dan istri). Bagaimana menyiasatinya? kami mengusahakan waktu pertemuan yang berkualitas. Ini baru dua orang, belom lagi kalo nanti ada anak-anak, cucu-cucu, tentu rumah makin rame, makin seru!😀

Waktu akhir pekan juga tidak ada jaminan benar-benar libur, di hari itu seringnya digunakan untuk berbagai macam kegiatan. Jadi memang harus mengupayakan pertemuan keluarga yang berkualitas di tengah sempitnya waktu yang ada. :D Bahkan saking pengennya mengupayakan agar bisa jalan bareng berdua, sengaja jalan-jalan malam di sekitar rumah, makan di luar, ato jalan kaki berdua hanya untuk ngobrol dan cari suasana baru.

Kalo jalan kaki kan waktu ngobrolnya makin panjang tuh, ga berasa jauh, dan ga berasa cape’.😀 Itu beberapa cara mengupayakan waktu pertemuan agar berkualitas.

Saya paham banget kalo suami sangat sibuk dan saya juga tidak menuntut dia ada di samping saya kapan pun saya mau. Saya juga harus bisa menyelesaikan urusan tanpa harus “mengganggu” waktunya. Saya mengerti kalo hidupnya bukan hanya untuk saya, ada banyak kewajiban yang harus dia tunaikan, ada banyak hal yang harus dia urusi, pekerjaan harus dia selesaikan, yang juga menyita waktunya. Alhamdulillah sejauh ini ga ada masalah, yang penting komunikasi lancar dan waktu pertemuan efektif. Di sanalah ada romantisme.😉

Mungkin saat ini belum bisa untuk terus berdua sepanjang waktu, mudah-mudahan di usia menjadi “kakek-nenek” kelak, seperti abah-mama.😉

-RN-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s