Komitmen Mandiri dan Disiplin Ibu Jepang

Saya akan cerita bagaimana mandiri dan disiplin-nya para ibu Jepang. Mayoritas ibu Jepang mengerjakan semua pekerjaannya tanpa bantuan pembantu rumah tangga, meskipun dia adalah wanita karir. Mereka menggunakan jasa tenaga ketika mengalami kejadian khusus, misalnya sakit setelah melahirkan. Itu pun hanya beberapa jam, karena tenaga kerja di sini digaji per jam. Jadi ga ada beda profesi di rumah tangga maupun profesi pramuniaga, kurang lebihnya seperti itu. Tentu saja biaya/gajinya sangat amat mahal. Soalnya gaji pekerjaan mereka dihitung tiap jam.

Terkait dengan mandiri, ibu-ibu Jepang terbiasa mengerjakan segala pekerjaannya sendiri. Pun, meski punya anak-anak kecil yang jaraknya sangat dekat. Kerap kali saya melihat mereka mendorong stroller, di dalamnya ada balita, sembari menggendong bayi dan menggandeng balita yang lain, menggantungkan belanjaan di kereta dorong tersebut, mengangkat stroller ke dalam bus, memboncengkan dua anak dengan sepeda (depan-belakang), dll. Waktu mereka sangat efektif.

Kebanyakan orang Jepang masak sehari 3x agar semuanya segar. Sejak pagi menyiapkan bento (bekal makan siang), menyiapkan anak-anak, menata/membersihkan rumah, kalo dia wanita karir dia juga menyiapkan dirinya sendiri. Namun kebanyakan mereka memutuskan berhenti bekerja ketika sudah memiliki anak. Ya, waktu mereka sangat efektif! Menyiapkan semuanya di pagi hari, memasak, mengantar anak sekolah, belanja, ngajak main anak ke taman kota, ke dokter, masak lagi, ngurus macem-macem, pokoknya semua terselesaikan dengan baik.

Selain itu para suami (orang Jepang) sibuknya luar biasa, jadi kebanyakan urusan rumah dipegang oleh sang istri. Meskipun juga ada bapak-bapak yang ngasuh anak, itu hanya kelihatan di hari libur atau akhir pekan. Hebatnya mereka (ibu-ibu), mereka tidak mengeluh dengan semua pekerjaan yang tidak ada habisnya. Saat ada kesempatan ngobrol dengan mereka, tidak nampak ada wajah kelelahan dengan semua itu. Saya mencoba belajar dari mereka. Betapa berharganya waktu bagi mereka. Hebatnya, kok bisa sih rumah terjaga kerapiannya padahal ada anak-anak kecil di dalamnya. Semua pekerjaan selesai, rumah rapi, sempat merawat diri, sempat jalan-jalan ke taman, sempat antar jemput anak, sempat ngumpul dengan kawan-kawannya.

Dari obrolan-obrolan tersebut saya menangkap bahwa adanya komitmen terhadap diri sendiri adalah kunci utama. Semua terjadwal dan dikerjakan sesuai jadwal tersebut. Jangan heran jika mereka hanya menerima tamu ketika sudah ada janji sebelumnya.😀

Oya, kata teman-teman Korea saya malah lebih ekstrim lagi, dalam 30 menit mereka bisa menyelesaikan semua pekerjaan rumah. 30 menit doang!! Saya tanya apa ga kecapean, mereka bilang di Korea sudah terbiasa dengan hal ini. Sejam bersih-bersih, masak, cuci baju, bagi mereka itu terlalu lama. Ehhh… Saya coba dalam 30 menit beresin semua, beres sih… tapi setelahnya ngos-ngosan!😀

Yap, intinya kita harus punya komitmen untuk mandiri/disiplin di manapun kita berada. Kita coba belajar dari mereka, dimulai dari hal yang kecil, mendisiplinkan yang ada di dalam rumah. Sampe akhirnya terbentuk tatanan negara yang maju dan berdisiplin.😉

-RN-

One thought on “Komitmen Mandiri dan Disiplin Ibu Jepang

  1. Pingback: Dedikasi Ibu Jepang « Pojok Cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s