Pencitraan: Berpikir sebelum Bertindak

Sikap dan tindakan kita akan selalu mendapat penilaian dari orang lain, kapan pun, dan di manapun. Itu sebuah “keniscayaan” dalam hubungan sosial. Tergantung bagaimana masing-masing orang menyikapinya. Bersikap apapun itu, sebelum melakukan suatu tindakan hendaknya kita pikirkan segala konsekuensinya. Tentu saja yang dimaksud di sini adalah tindakan “benar” yang diharapkan berefek positif. Hal yang benar belum tentu dianggap baik, ini merupakan salah satu contoh konsekuensi. Ketika sudah siap dengan segala konsekuensinya, maka lakukanlah dengan penuh tanggung jawab. 

Kadang kala konsekuensi yang diterima akan terkait dengan pencitraan dan penilaian masyarakat/lingkungan sosial. Jika takut dengan pencitraan yang tidak sesuai dengan harapan, maka jangan sekali-kali mencoba tindakan yang merusak citra. Jika demikian, akhirnya kita pun sibuk dengan pencitraan dan “kata orang”, ingin selalu nampak baik di depan manusia. Lantas hanya akan bertindak jika tindakan tersebut memunculkan citra positif. Sedangkan sikap/tindakan tertentu (tentu saja diharapkan itu adalah tindakan positif) yang kemudian berujung (berkonsekuensi) pada pencitraan tidak positif, bisa dilakukan jika kita adalah orang yang tidak terlalu mementingkan “citra” di depan masyarakat dan siap menerima citra apapun.

Di mana pun kita berada, tidak semua orang akan menyukai kita. Kita pun tidak perlu mengharuskan orang lain untuk menyukai kita. Namun hal yang harus kita lakukan adalah berakhlak baik dan menyampaikan kebenaran se-mampu kita. Perkara akan diterima atau tidak, akan disukai atau tidak, itu tidak menjadi masalah.

Jangankan kita (manusia yang memiliki banyak kekurangan dan kesalahan), Rasulullah (seorang yang dijamin bebas dari dosa) pun tak semua orang suka dengan beliau. Beliau menyampaikan kebenaran dengan berbagai cara, dengan cara halus, tegas, maupun keras. Dan memang, dalam Islam tidak ada yang abu-abu. Rasulullah pun memperlakukan orang lain berbeda-beda sesuai dengan bagaimana orang tersebut bersikap. Ada banyak yang sangat mencintai Rasulullah, namun tak sedikit juga yang tidak suka dengan Rasulullah dan tidak menerima beliau. Generasi shahabat radhiyallahu’anhum pun menerima hal demikian. Lebih lengkapnya ada di sirah Nabawiyah. Jadi menjadi hal yang wajar, jika ada orang yang suka dan tidak suka dengan kita.

Tindakan yang kita ambil dengan segala konsekuensinya dan segala citra yang muncul setelahnya, harus kita pikirkan matang-matang sebelum melakukannya. Catatannya, tujuan dari tindakan itu adalah kebaikan dan menyampaikan kebenaran. Ketika kita asal bertindak (meski itu adalah tindakan benar), tanpa berpikir panjang, apalagi memikirkan konsekuensinya, di saat ada pencitraan tertentu muncul maka kita tidak akan siap menerimanya. Berbeda dengan hal yang sudah dipikirkan konsekuensinya, kita akan dapat menerima hal itu dengan baik. Jangan takut menjadi “berbeda” ketika mengatakan kebenaran di hadapan manusia.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Bersemangatlah untuk meraih segala hal yang bermanfaat bagimu. Mintalah pertolongan Alloh dan jangan lemah. Apabila engkau tertimpa sesuatu (yang tidak menyenangkan) janganlah berkata, ‘Seandainya aku dulu berbuat begini niscaya akan menjadi begini dan begitu’ Akan tetapi katakanlah, ‘QaddarAllohu wa maa syaa’a fa’ala, Alloh telah mentakdirkan, terserah apa yang diputuskan-Nya’. Karena perkataan “seandainya” dapat membuka celah perbuatan syaitan.” (HR. Muslim)

Kita tidak perlu pusing dengan penilaian orang dan “kata orang” tentang kita. Lakukan hal yang benar (menurut rujukan yang benar) dengan penuh tanggung jawab. Tidak menjadi ujub ketika dipuji dan tidak menjadi takut/rendah diri ketika tidak disukai.

Oya, satu hal yang tidak boleh dilupakan: kita harus senantiasa bermuhasabah, introspeksi diri, atas segala tindakan yang telah kita lakukan. Agar ke depan bisa menjadi lebih baik dan memperbaiki diri.

NB: “Baik” belum tentu “benar”, “benar” pasti mengandung “kebaikan” (meskipun kadang dianggap tidak baik).

-RN-

One thought on “Pencitraan: Berpikir sebelum Bertindak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s