Merindukan Sekolah

Setelah beberapa tahun tidak berurusan dengan dunia kampus, rasa rindu itu telah muncul. Tau kan gimana rasanya rindu? Obatnya adalah ketemu dengan yang dirindui.😀 Ya! Saya rindu dengan sekolah, dunia akademik, dan segala yang ada di dalamnya. Terakhir ketemu dengan perkuliahan saat saya melanjutkan jenjang magister profesi psikologi di Universitas Padjadjaran. Saat ini teman-teman seangkatan saya telah menjadi psikolog (berlisensi profesi), sebuah profesi yang saya inginkan ketika diterima di progran magister tersebut. Sebuah keputusan besar sudah saya ambil dan tidak boleh menyesalinya. ;) 

Oke, mencari sekolah seperti halnya menemukan jodoh!😀 Kalo bidangnya cocok, belum tentu profesor-nya cocok/mau menerima. Kalo bidangnya tidak terlalu “jleb” masuk ke hati, malah Sensei-nya baik banget memberi banyak kesempatan. Tapi daripada “terjebak” karena oportunis masuk apapun lab-nya ga peduli cocok ato enggak, lebih baik tidak. Itu prinsip saya, nampak idealis ya? Dari pada setengah-setengah mendalaminya, lebih baik tidak. Hasilnya pun akan berbeda antara sepenuh hati dan setengah hati.

Sesuatu yang sulit dan berat akan menjadi ringan ketika kita memiliki minat kepadanya. Namun sesuatu yang mudah dan ringan akan terasa berat jika kita tidak ada minat dengannya.

Berbagi cerita, petualangan saya mencari lab dan profesor selama di sini akan menjadi cerita tersendiri.😉 Berapa jumlah lab yang sudah saya lamar, berapa Sensei (profesor) yang saya hubungi, saya sudah tidak ingat lagi saking banyaknya. :D Proses yang saya jalani membutuhkan kesabaran lebih, yang terjadi adalah begini:

  1. Surat lamaran tidak dibalas
  2. Dibalas telat jauh dari waktu mengirimnya
  3. Dibalas cepat, tapi menggunakan bahasa Jepang yang full dengan kanji!
  4. Dibalas cepat dan ditawarkan alternatif, namun riset tidak terlalu sesuai dengan bidang saya.
Begitulah pengalaman saya mencari Sensei di Jepang.🙂 Bidang saya memang menuntut kefasihan berbahasa Jepang karena harus berurusan dengan subjek penelitian yaitu manusia, siapa lagi kalo bukan orang Jepang. Bagaimana bisa mengambil data kalo ga fasih bicara dengan subjeknya? Itu dia kendala besar.😦 Belum lagi berapa ribu kanji dan cara menulisnya, yang harus dihapal. Saya harus dari nol belajar kanji, menulisnya, dan menghapalnya, barulah bisa mengerti. Padahal ada ribuan kanji! Di saat orang lain sudah melaju ke depan dengan risetnya, menemukan konsep baru, saya masih berkutat belajar membaca kanji! Sesuatu yang menurut saya sangat mustahil untuk dilakukan. Kecuali mendadak ada kesempatan belajar psikologi di Jepang dengan menggunakan bahasa Inggris. Itu kayaknya hanya angan-angan saya!😀

Yasudah, diterima saja keterbatasan itu. Belajar kanji tetap harus dilakukan, tanpa target muluk-muluk yang penting bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.😉 Sayang juga sih, padahal minat riset saya banyak sekali “fenomena” nya di sini. Tapi mao gimana lagi?😀

Petualangan saya mencari sekolah tidak berhenti di situ. Saya pun mencoba melamar sekolah di luar negeri (luar Jepang). Tidak ada salahnya kan berusaha?😉 Singkat cerita, saya diterima di salah satu Universitas di Perancis, Universitas Paris Descartes (biasa disebut University of Paris V). Saya diberi beberapa pertanyaan kasus/tes dari profesor di sana, diberi paper-paper beliau kemudian kami mendiskusikannya, dll. Alhamdulillah, saya diterima di universitas tersebut. Bahkan, surat penerimaannya tidak hanya berupa file dikirim ke email, tetapi juga dikirimkan ke alamat rumah di Jepang.

Bidang psikologi di universitas ini sangat mapan, saya sangat tertarik dengan lab tersebut. Lebih lengkapnya ada di sini.

Kebimbangan kembali hadir! Izin suami sudah didapat, tapi hati tetap galau.😦 Kalau menindaklanjuti, profesor di sana akan mengusahakan beasiswa. Bimbang, ya ato tidak! Kalo iya, artinya berjauhan dengan suami. Namanya juga bingung, ragu, ga manteb kalo berjauhan dengan suami. Gambling apply beasiswa dari Indonesia, satu hari sebelum pulang kembali ke Jepang. *bingung kan?* Hati ga berharap banyak. Segala yang ragu-ragu itu tidak baik, akhirnya saya memutuskan untuk masih berada di sini.

Mikir sederhana, kalo akhirnya harus berpisah dengan suami karena sekolah kenapa itu tidak saya lakukan dari dulu? Mungkin sekarang saya sudah jadi psikolog (berlisensi profesi) seperti teman-teman saya. Saya harus konsisten!!

Saya bilang ke profesor di sana bahwa jika masih ada kesempatan saya ingin sekolah ke sana, setelah suami saya menyelesaikan studinya di sini. Ga tau apa yang terjadi ke depan, yang pasti ini bagian dari usaha.🙂 Saat ini memanfaatkan waktu untuk sekolah di masyarakat, sekolah kehidupan.😉

Bersabar sampai tiba kesempatan terbaik, yang seiring dan sejalan. Bahwa kami harus bersama!

-RN-

4 thoughts on “Merindukan Sekolah

  1. Walupun tidak belajar di kampus/lab resmi, yang penting terus belajar menimba ilmu Yas. Nasihat buat diri saya sendiri yang cuma mau sekolah resmi sampai master saja. Ganbarou!! ^o^

    • Prosesnya sama persis dengan yang sudah ditulis di atas, cari profesor yang pas, cari lab yang sesuai bidang, jangan lupa tetep sabar karena itu proses yang sangaaaat panjang (seperti cerita di atas).😉 Terus kalo negaranya ga pake bahasa Inggris, persiapkan untuk bisa berbahasa setempat. Itu memudahkan untuk beradaptasi dan kebutuhan sehari-hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s