Renungan: Menghindari Perdebatan

Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: Aku adalah penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari pertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar; dan (penjamin) istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda. HR. Abu Daud

Berpangkal dari hadits di atas, hal ini merupakan petunjuk yang semestinya kita lakukan. Meski kita tidak melihat Rasulullah, tapi kita meyakini bahwa hadits-hadits yang jelas kesahihannya bersumber dari Rasulullah. Ulama-ulama dan para periwayat hadits di masa lampau hingga saat ini berusaha mengkaji tingkatan hadits dan kandungan Al Qur’an sehingga tercermin dalam akhlak mereka sehari-hari dan memudahkan kita untuk mengambil rujukan kemudian mengamalkannya. Dalam Al Qur’an disebutkan bahwa:

Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah. Terjemah QS. Al-Ahzab 33: 21

Kewajiban taat kepada Rasulullah:

Katakanlah (Muhammad),  “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Terjemah QS. Ali Imran 3: 31

Katakanlah (Muhammad): “Ta’atilah Allah dan Rasul. Jika kamu berpaling, ketahuilah bahwa Allah tidak menyukai orang-orang kafir.”  Terjemah QS. Ali Imran 3: 32

“… dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.” QS Al Anfaal 8: 1

Kewajiban umat muslim untuk taat kepada Allah dan Rasul merupakan satu paket, yang tidak bisa berdiri sendiri-sendiri.

Keterbatasan ilmu kita terhadap ilmu agama, sedikitnya amal kita, jangan sampai membuat kita meremehkan segala yang datang dari Rasulullah, perintahnya, larangannya, dan ajarannya. Yang di maksud sunnah Rasulullah di sini adalah segala perbuatan, perkataan, dan tingkah laku beliau; bukan nilai/hukum sunnah (tidak wajib) dalam ibadah. Kita memiliki banyak keterbatasan, baik ilmu maupun pemahaman, jika kita berada pada kondisi ini maka kewajiban kita adalah “mengikuti” petunjuk yang sudah ada (tentu saja petunjuk yang terpercaya keabsahannya). Jika merasa sudah “mumpuni” dengan ilmu dan amal, baik paham Al Qur’an dan paham ajaran Rasulullah juga tidak sepantasnya meremehkan ajaran tersebut.

Salah satu sifat manusia memang suka berdebat, kemudian mengupayakan segala cara untuk mencari kemenangan dalam perdebatan itu. Hal inilah yang “diwanti-wanti” oleh Rasulullah agar dihindari. Setan sangat suka nimbrung dalam perdebatan untuk membisikkan perpecahan di antara kedua belah pihak. Dalam Islam, Rasulullah mengajarkan kita bertanya untuk mencari kebenaran bukan berdebat untuk mencari kemenangan. Inilah yang banyak kita lupakan saat ini, dalam jaman yang sangat jauh dari generasi Rasulullah.

Dari Abu Hurairah radhiallohu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah bersabda: “Hentikanlah (menanyai) ku tentang apa yang aku abaikan untuk kalian. Sesungguhnya ummat yang sebelum kalian telah binasa karena mereka banyak bertanya dan mendebat para nabi mereka. Jika aku melarang kalian tentang sesuatu maka jauhilah dan jika aku memerintahkan kalian terhadap sesuatu maka lakukanlah semampu kalian.” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali engkau termasuk orang-orang yang ragu. Terjemah QS. Al Baqarah: 147

Rasulullah juga mewasiatkan kita agar senantiasa menghitung apa yang kita ucapkan, apakah itu ada manfaat kebaikan di dalamnya atau ucapan sia-sia, apalagi ucapan yang bernilai dosa di sisi Allah.

Aisyah radhiallohu ‘anha berkata: Sesungguhnya Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam apabila membicarakan suatu hal, dan ada orang yang mau menghitungnya, niscaya ia dapat menghitungnya. HR. Bukhari-Muslim

Dilarang pula seorang muslim mengolok-olok Allah, memperdebatkan ayat-ayat Nya, Rasul Nya, agama Islam, ajaran yang dibawa Rasul, dan segala sesuatu yang termasuk syariat islam.

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), niscaya mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja“. Katakanlah: “Mengapa kepada Allah, ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Terjemah QS. At Taubah 9: 66

Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya. Terjemah QS. Al Isra’ 17: 36

Jangan sampai kita mengikuti perbuatan bani Israil di jaman nabi Musa ‘alaihissalam dan perbuatan mereka sangat dimurkai Allah. Kisahnya diabadikan Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 67-74. Ketika itu mereka diperintahkan untuk menyembelih seekor sapi. Tetapi mereka sengaja mempermainkan Nabi, banyak bertanya, dan mempersulit diri mereka sendiri dengan pertanyaan yang dibuat-buat. Akhirnya mereka nyaris tidak menjalankan apa yang diperintahkan. Memang benar, sebenarnya dengan banyak bertanya hal-hal yang tidak perlu dipertanyakan akan semakin menyusahkan kita untuk mengamalkannya.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga diri kita, sehingga diri kita senantiasa berada dalam kebaikan, mengucapkan kebaikan, mengajak kebaikan, dan mengamalkan kebaikan.

Wallahu a’lam bish showab…

-RN-

One thought on “Renungan: Menghindari Perdebatan

  1. Pingback: Batasan Kritis dan Tidak Kritis dalam Perintah Agama « Pojok Cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s