Batasan Kritis dan Tidak Kritis dalam Perintah Agama

Terkait sikap “kritis” dan “ilmiah”, menurut saya kesannya kuat sekali bahwa “orang-orang pintar” harus terpuaskan dulu semua rasa penasarannya barulah bisa menjalankan sebuah perintah atau menjauhi apa yang dilarang agama kita. 

Begini… Saya menangkap dari hasil obrolan beberapa hari ini bahwa kita harus kritis terhadap agama sendiri, jangan percaya doktrin. Jadi batasan kritis seperti apa? Yuk mari kita belajar kritis dari kisah kritis-nya Nabi Ibrahim ‘alahissalam.

Kita tahu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah seorang yang sangat kritis. Berdasarkan apa yang saya tahu selama ini tentang kisah beliau, ketika masa kecilnya beliau mencari Allah dengan banyak bertanya. Mulai dari melihat bulan, dikiranya itu Tuhan yang pantas disembah, karena sinarnya begitu terang dan “membimbing” perjalanan manusia di malam hari. Kemudian ternyata bulan itu tidak bisa dilihatnya di siang hari. Lantas kesimpulannya adalah bulan tidaklah mungkin sebagai TuhanSelanjutnya beliau melihat matahari, dikiranya itu Tuhan, karena jauh lebih terang daripada bulan, dan juga memberi kehangatan di siang hari. Tapi kemudian matahari tidak ditemukannya di malam yang dingin. Beliau menyimpulkan bahwa matahari pun tidak mungkin bisa dianggap Tuhan. Begitulah seterusnya beliau bertanya, terhadap patung-patung sembahan yang tidak bisa bicara, terhadap orang-orang “pintar” di masa itu, dan semuanya tidak memuaskan hasrat pencariannya terhadap sosok Tuhan. Akhirnya sampailah beliau pada kesimpulan pastilah ada satu Tuhan di balik penciptaan alam semesta, yaitu Allah Ta’ala.

Sekarang… terkait dengan qurban yang kisahnya sudah kita tahu semua.

bagaimana sih (“kok bisa”) Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mau PERCAYA BEGITU SAJA bahwa ia telah diperintah Allah untuk menyembelih Isma’il ‘alaihissalam, putranya yang saat itu belum beranjak dewasa, yang justru sangat disayanginya? (yang dinantikan kehadirannya berpuluh tahun).

Kenapa beliau tidak bersikap kritis? Bayangkan, perintah ini datangnya hanya lewat mimpi.

Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar. Terjemah QS. As-Saffat 37: 102

Mengapa Nabi Ibrahim percaya begitu saja? Pun Isma’il, ia hanya menjawab, “Wahai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Kalau perintah menyembelih anak kita sendiri ini datang di masa kita dan kita menurutinya begitu saja, pastinya kita akan berkata, “Sungguh teganya!” Kisah Nabi Ibrahim dan Isma’il ‘alahimussalam ini untunglah berakhir dengan bahagia *alhamdulillah kita tidak terkena syari’at seperti halnya syari’at untuk nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Perintah itu datang sebagai ujian bagi keduanya, dan Allah “Meluluskan” mereka dalam ujian ini sehingga menggantinya dengan yang JAUH LEBIH BAIK.

Lantas… ketika kemudian kita bersikap kritis terhadap agama kita, ketika kita banyak bertanya hal-hal yang tak perlu, ketika kita memperdebatkan sesuatu yang bisa kita pikirkan sendiri jawabnya, sungguh kita TELAH JAUH DARI TELADAN Ibrahim dan Isma’il ‘alahimussalam. Bahkan, tidak perlu merujuk terlalu jauh ke kisah mereka yang tampak seperti dalam dongeng, kita pun SANGAT JAUH DARI TELADAN Rasulullah shallallahu’alahi wa sallam dan para shahabat radhiyallahu ‘anhum yang jaraknya masih lebih dekat ke zaman kita. Mereka adalah generasi yang ketika datang suatu perintah ataupun larangan dari Allah itu tidak lagi banyak bertanya, begitu dengar langsung sami’na wa atho’na: kami dengar dan kami taat, sehingga terwujud dalam amalan sehari-hari.

Salah satu contoh paling mudah dari luar biasanya sikap “tidak banyak bertanya” (alias “tidak kritis”) dari para shahabat adalah ketika turun perintah untuk berhijab (jilbab) bagi muslimah. Berdasarkan shirah (sejarah) di saat turunnya perintah wajib berhijab bagi muslimah, sekaligus larangan menampakkan aurat bagi para muslimah ini ketika itu beberapa shahabiyyah sedang berada di luar rumah, di pasar, atau di tempat-tempat umum lainnya. Begitu perintah tersebut sampai kepada mereka, spontan mereka berlarian mencari tempat sembunyi, atau sekadar mengambil kain apapun (termasuk tirai/gorden) di dekatnya untuk menutupi aurat mereka. Sekali lagi, bayangkan, dan saya balik bertanya, “Mengapa mereka tidak kritis?” dengan bertanya Kenapa sih harus berjilbab? dll. Hasrat wanita di manapun tentunya ingin terlihat cantik, ingin terlihat bagian-bagian indah dari tubuhnya, tetapi kok mau-maunya menerima perintah itu begitu saja? Kemudian jaman sekarang diketahui banyak manfaat dari berjilbab, tapi mereka berjilbab bukan karena tahu banyak manfaatnya tapi karena ketaatan menjalankan perintah Allah (tanpa kompromi dan banyak bertanya) yang baru saja turun.

Jadi, apakah kita harus kritis?

Ya, tentunya saya setuju bahwa kita harus kritis terhadap setiap perkataan yang tidak jelas dasarnya. Hadits, tafsir Al-Quran, atau perkataan ulama yang inkonsisten perlu dipertanyakan. Tetapi rasanya berlebihan jika kita kemudian banyak bertanya yang menjurus pada menanyakan hal-hal yang sudah jelas (dalil-dalil yang jelas keshahihannya dan jelas ada dalam Al Qur’an). Kritis boleh dan harus, tetapi ada hal yang perlu dikritisi dan tidak. Karena kritis pada semua hal, jangan sampai malah membuat kita menjauhi tuntunan dalam Al Qur’an dan hadits, itulah kritis yang sebaiknya kita hindari. Sudah begitu jelas dan banyak sekali “doktrin” agama kita yang ditelan mentah-mentah bahkan oleh selevel Nabi dan Rasul sekalipun. Lantas kenapa kita banyak bertanya terhadap suatu perintah atau larangan yang sudah jelas? Apalagi jika setelah diterangkan malah kemudian tidak diamalkan. Sebenarnya dengan banyak bertanya hal-hal tersebut akan semakin menyusahkan kita untuk mengamalkannya (belajar dari kisah bani Israil di jaman nabi Musa ‘alaihissalam).


Wallahu A’lam bish showab…

Saya mohon ampun pada Allah, atas kekeliruan penggunaan akal yang diberikan-Nya, yang tidak gunakan semestinya sehingga perlu banyak bertanya ataupun kritis terhadap perintah-perintah-Nya.

Selamat Idul Adha!😉

-RN-

3 thoughts on “Batasan Kritis dan Tidak Kritis dalam Perintah Agama

  1. Thanks for sharing. Aku jadi belajar sekaligus merenung. Soal komentar di milis KMIS kemarin, mungkin aku salah menyampaikan jadi membuat diskusi melebar ke mana-mana, untuk ini aku mohon maaf. Belakangan ini ada teman bercerita, dia yang dulunya memeluk agama Kristen namun saat ini sudah tidak beragama karena merasa “tidak boleh kritis” dan harus terima “doktrin”. Makanya kenapa aku tulis di milis, bahwa diperlukan sikap kritis juga, adalah untuk meningkatkan keyakinan dalam beribadah, tidak sekedar melaksanakan “karena wajib” tanpa tahu esensi ibadah tersebut.

    Mohon maaf sekali lagi, mari selalu saling mengingatkan dalam kebaikan.🙂

    • gapapa Raras, dengan berdiskusi meluaskan pemahaman.😉 Mungkin ada perbedaan “doktrin” di kita dan mereka. Kalo maksudnya untuk mengetahui esensi dan kita banyak berpikir kemudian menghayatinya, lantas mengerti bahwa kita berkebutuhan untuk taat kepada Allah, itu kritis yang diperbolehkan. Misalnya berpikir kritis tentang penciptaan langit dan bumi. Nah masalahnya ada banyak orang yang banyak bertanya dan “berpikir” kritis (misalnya: kenapa jilbab wajib, kenapa harus shalat, dll) lantas akhirnya membuat penyanggahan-penyanggahan dan menawar hadits/ayat Al Qur’an dengan sekehendak pikirannya, pada akhirnya tidak menjalankan *karena keterbatasan akalnya* barulah itu kritis yang tidak diperbolehkan. Atau pun meremehkan hadits-hadits Rasulullah, dengan alasan itu “kan bukan dari Al Quran, kan cuma sunnah”. Padahal sunnah di sini bukan dalam artian hukum nilai ibadah, tapi segala yang datang dari Rasul baik perkataan, perbuatan. Kadang apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya tidak terjangkau oleh akal kita, tapi pasti ada kebaikan besar di balik semua itu. Misalnya: kenapa babi haram? Karena Allah yang melarangnya. Perkara nanti ada pembuktian secara ilmiah tentang babi yang tidak baik, itu persoalan lain. Kita tidak makan babi bertolak dari taat atas perintah Allah bukan karena bertolak pada pembuktian ilmiah tadi. Jadi memang kritis di sini ada dua macam.🙂

  2. Pingback: Renungan: Menghindari Perdebatan « Pojok Cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s