Pernikahan Tak Sekedar Cinta

Merpati tak pernah ingkar janji.

Pernikahan adalah sebuah ikatan suci yang menyatukan dua orang, sah secara agama dan hukum. Dalam penyatuan ini tentu saja memiliki berbagai konsekuensi, karena kita ketahui tidak ada satu pun manusia di dunia ini memiliki pemikiran yang sama. Setiap orang memiliki berbagai perbedaan: sifat, latar belakang, pola asuh, kebiasaan, lingkungan. Semua itu akan mempengaruhi bagaimana kepribadiannya. Sebelum menikah harus benar-benar disadari bahwa perbedaan pemikiran, minat, ego antara dua orang bukanlah hal yang sederhana. ;) 

Belajar dari pengalaman orang lain, banyak orang yang menikah kemudian bercerai. Tak hanya hitungan tahun, tetapi hitungan bulan, bahkan dalam hitungan hari pun bisa terjadi. Suksesnya sebuah ikatan pernikahan bukan dinilai dari jumlah tahun yang telah dilewati, tetapi bagaimana ikatan tersebut dapat membuat pelaku di dalamnya menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Pernikahan adalah dinamika, tak sekedar akad nikah kemudian selesai. Namun itu merupakan lembaran baru yang siap diisi dan dijalani. Ada naik turun perasaan, pasang surut masalah, dan semua kondisi yang bisa terus berubah. Kesiapan menghadapi perubahan dan menjalaninya, itulah yang mampu mengokohkan ikatan pernikahan.

Menikahi orang yang tidak dicintai lantas mencintainya setelah menikah, itu tidak menjadi masalah. Banyak kisah, menikahi orang yang dicintai kemudian bercerai karena sudah tidak saling mencintai lagi. Bukankan itu sangat ironis? Jadi, cinta bukan satu-satunya modal untuk menikah.

Berbagai kisah orang bercerai *terutama dunia selebritis* dengan alasan “sudah tidak ada kecocokan di antara kami”, “kami sudah tidak saling mencintai lagi”, “terlalu banyak perbedaan di antara kami”, dan lain sebagainya.

Bagaimana cara menghindarinya?

  1. Ilmu. Belajar dan mempersiapkan diri dengan ilmu sebanyak-banyaknya adalah salah satu bekal/modal awal untuk menikah. Tidak mengatakan: ah, belum waktunya!” karena bisa jadi saat pernikahan sudah di depan mata kita belum memiliki ilmunya sama sekali. Kapan dan dengan siapa menikah, tidak ada yang tahu, bukan? Jadi lebih baik dipersiapkan.🙂
  2. Doa. Hal sangat penting namun sering dilupakan.
  3. Persiapan mental. Kesiapan mental kedua-nya sangat dibutuhkan untuk menghadapi berbagai masalah dan pasang surutnya perrnikahan.
  4. Komitmen dan tanggung jawab. Jika masing-masing memahami arti komitmen yang telah dibuat dan memenuhi tanggung jawabnya masing-masing, maka ketimpangan/kesenjangan yang dapat memicu masalah bisa dihindari. Ingat semboyan merpati: “merpati tak pernah ingkar janji”, pasangannya hanya satu seumur hidup.😉
  5. Saling mendukung dan menguatkan. Pernikahan tidak bisa dibina hanya dengan kekuatan komitmen satu orang. Dukungan antara suami dan istri adalah hal yang sangat penting untuk menjalani pernikahan tersebut.
  6. Komunikasi aktif dan jujur. Membangun komunikasi dua arah bukan hal yang mudah, tetapi penting. Melalui komunikasi, setiap orang bisa saling memahami keadaan suami/istri-nya.
  7. Hindai superioritas. Menjadikan suami/istri sebagai mitra dan sahabat, bukan memposisikannya sebagai orang tingkat kedua yang bisa didominasi oleh salah satu pihak.
  8. Saling memahami dan mau berkompromi. Hal ini sangat berguna ketika dihadapkan pada perbedaan antar suami-istri.
  9. Hidupkan cinta. Saling mencintai bukan hal satu-satunya, tetapi mampu mengokohkan ikatan perasaan dalam pernikahan. Cinta kaitannya dengan emosi dan perasaan, bisa naik dan turun. Selalu merawatnya sepanjang hidup agar dia tidak layu dan menyiraminya agar tumbuh subur.
  10. Menyesuaikan bukan berarti mengalah. Karena berbagai perbedaan kepentingan, saling menyesuaikan adalah hal yang pokok. Jika tidak ada yang mau mendahulukan yang lain, pernikahan tidak akan berjalan dengan baik. Semua ingin ego/kepentingannya didahulukan. Sekali lagi, menyesuaikan bukan berarti kalah. Ada waktunya gantian berada diposisi menyesuaikan yang lain.🙂

Komitmen akan tujuan hidup yang sama mampu memberi kekuatan dalam perrnikahan. Jika sejak awal tidak memiliki visi/tujuan hidup yang sama, jangan pernah mencoba untuk menikah. Hal tersebut adalah kali pertama yang harus dirumuskan sebelum menikah. Akan sangat berat menjalaninya manakala tujuan hidup sudah berbeda. Satu ingin ke kanan, yang lain ingin ke kiri, akhirnya di persimpangan memutuskan untuk jalan sendiri-sendiri. Itulah visi yang tidak sama!

Jika sejak awal memiliki tujuan yang sama, kemudian ketika di jalan ada berbagai persimpangan maka kedua pihak (suami dan istri) bisa saling mengingatkan untuk fokus pada satu tujuan. Saling mengingatkan dan memperbaiki jika ada yang tidak sesuai.😉

Ikatan pernikahan adalah menyatukan perbedaan untuk seiring sejalan, bukan memisahkannya di tengah jalan.

-RN-

One thought on “Pernikahan Tak Sekedar Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s