Sekilas Nepal: Bahagia dalam Hidup

Nepal *village* as a Tourism Destination. Gambar dari http://www.acetravels.com

Jam istirahat sebelum masuk kelas selanjutnya kami gunakan untuk makan siang dan ngobrol-ngobrol. Kali ini Reona bercerita tentang Nepal. Dia pernah tinggal di sana selama 1.5 tahun sebagai guru musik (*dia lulusan bidang musik klasik). Cukup lama tinggal di sana jadi lumayan ngerti bahasa Nepal, katanya lebih mudah daripada Nihongo. *ada yang mao belajar?😀 Okey! di Kathmandu (ibukota Nepal), menurut Reona keadaannya lumayan semrawut.

Jadi orang-orang bebas buang sampah sembarangan, di mana-mana ada pasar dadakan, banyak homeless dan di mana pun bebas tidur atau dukuk-duduk, macet, kotor, dan rame. Tapi jangan khawatir, di sisi hiruk-pikuk nya Kathmandu, di sana masih banyak tempat indah. Kontur negara tersebut adalah dataran tinggi, mayoritas pegunungan yang tertutup es. Mayoritas beragama Hindu dan Budha jadi banyak ditemui candi/pura. Ini salah satu hal yang menarik wisatawan asing untuk berkunjung ke sana. Kalau mau menemukan sisi Nepal yang original maka berkunjunglah ke desa-desa kecil di pedalaman. Penduduknya masih asli dan sederhana, bahkan mereka tidak mengerti apa itu “coca cola”. Saking polosnya, ketika orang asing bertanya tentang sesuatu, mereka balik bertanya dengan menggunakan kata “apa itu” tidak menggunakan “siapa, dimana, bagaimana, kapan”. Jadi mereka bertanya “apa itu orang, apa itu benda, apa itu tempat” mereka tidak tahu *something* yang dimaksud. Tentu saja daerah desa di pegunungan sangatlah indah dengan penduduk yang tidak materialistis seperti halnya penduduk kota.😉 Kehidupan mereka cukup dengan memenuhi kebutuhan sehari-hari, tidak muluk-muluk, sangat sederhana. Di sana mereka bahagia!😀

Kalau mendengar cerita semacam itu kemudian memikirkannya, memang benar kebahagiaan itu ada. Cukup makan, cukup minum, cukup ibadah, cukup kebutuhan sehari-hari, ga pake stres dengan tuntutan pekerjaan, memang bahagia!😀 Seperti halnya nonton acara Ethnic Runaway di mana menampilkan suku-suku pedalaman di Indonesia, mereka sangat sederhana menjalani hidup. Yap! memang kebahagiaan itu relatif, tiap orang berbeda dalam memaknai dan merasakannya. Bahagia tidak selalu dinilai dari jumlah materi yang dimiliki karena bahagia itu letaknya di hati.😉

Oya, pulang ke rumah ngayuh sepeda berat banget karena menerjang angin! Musim gugur anginnya kenceng, beberapa kali oleng karena angin. Suhu udara berubah cepat, jadi jangan coba-coba keluar rumah tanpa jaket, bisa jadi salah kostum. *berangkat panas, pulang kedinginan*😀 Hari ini udah pake jaket tebal tapi anginnya kenceng banget, tetep aja nembus ke badan. Betewe, kyo wa tanoshikatta ne… 😀😀😀

-RN-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s