Renungan tentang Orangtua

Cintanya tak pernah habis sepanjang waktu.

Pernahkah kita merenung sejenak, menghayati perjalanan hidup kita selama ini, semenjak tangis melengking kuat memecah ketegangan dan membuat orang-orang yang menanti tangisan itu tertawa penuh haru, hingga hari ini. Pernahkah kita memikirkan apa-apa yang telah kita jalani selama ini, apa yang kita perbuat, dan apa saja yang kita persembahkan untuk mereka, orang-orang yang mencintai kita dengan tulus dan apa adanya?
Pernahkah kita menghayati apa-apa yang mereka berikan untuk kebahagiaan kita, yang terkadang kita tidak sempat menyadarinya, bahkan menganggap segala upaya mereka selama ini tidak cukup membuat kita bahagia? Seorang wanita yang kini mulai nampak kerut keriput di wajahnya, yang telah membiarkan calon manusia menginap di rahimnya selama tidak kurang dari 9 bulan, dengan penuh kepayahan, merasakan badan yang tidak nyaman, membawa beban seberat itu, hanya demi seorang anak manusia yang akan melihat dunia. Ia membiarkan beban berat itu tetap hidup dan menginap gratis di rahimnya dalam kurun waktu yang tidak pendek.

Seorang wanita yang dulunya anggun dengan telapak tangan yang lembut, kini tiada lagi kelembutan telapak tangan karena tempaan waktu, keriput wajahnya menahan kantuk di malam hari, mengurus segala keperluan buah hatinya, merawat dengan penuh cinta, mendidik dan membesarkannya dengan penuh kasih, hingga bayi mungil itu kini telah beranjak dewasa. Berapa banyak peluh dan air mata yang telah mengalir hanya demi sebuah kebahagiaa buah hatinnya? Semua itu ia lakukan cuma-cuma, tidak ada serupiah pun yang harus kita bayar semenjak “kontrak gratis” di rahim beliau hingga hari ini. Semuanya diberikan secara gratis. Meski tak ada lagi telapak tangan yang lembut, namun kelembutan belaian cintanya tetap dapat kita rasakan hingga saat ini. Sosoknya yang anggun masih terpancar di wajahnya, meski wajah itu nampak keletihan dengan kerutan-kerutan lembut di sekitarnya.

Laki-laki yang dulunya kekar, kini mulai tua dan ringkih, rambutnya mulai memutih, wajah penuh dengan kerutan, dan tatapan mata yang sayu. Tiada lagi sosok kekar dengan tatapan yang tajam, kini yang ada hanyalah goresan-goresan keriput, dan badan yang telah melemah. Ia berikan hampir seluruh hidupnya untuk mengusahakan agar kebutuhan keluarga terpenuhi. Berapa banyak cucuran keringat yang keluar hanya demi sebuah kebahagiaan untuk buah hatinya? Lagi-lagi, semua itu cuma-cuma.

Kini tiada lagi kesempatan untuk menatap wajahnya yang sayu. Tiada tiada lagi hari-hari diskusi yang mengasah ilmu dan mempertajam pemikiran. Tak ada lagi! Tak ada lagi yang menanti kedatangan kita di teras rumah. Karena beliau telah tiada.

Pengorbanan yang melelahkan namun enggan mereka ungkapkan. Pengorbanan yang kadang tertutup oleh kesalahpahaman kecil yang entah kenapa selalu saja nampak besar.
Berapa banyak tetes peluh dan air mata yang mengalir hanya demi sebuah kebahagiaan sang anak tercinta, namun bulir-bulir peluh dan air mata itu kadang seakan tidak ternilai sedikit pun di mata kita (anak-anaknya). Pernahkah kita mengingat semua itu?

Kini bayi mungil telah dewasa, mencoba menggapai kehidupan dengan sejuta harapan. Bayi yang dulunya sangat lemah, yang dibiarkan hidup di rahim ibunya, yang dirawat dengan kesabaran, yang dibiarkan tumbuh dengan kebebasan, yang dididik penuh cinta. Dia berjalan tak lepas dari doa seorang ibu yang sangat mengasihinya. Ketulusan doa seorang ibu akan yang tak terbalas oleh apapun. Orangtua tak pernah jemu mengirimkan doa-doa yang mustajab demi kebahagiaan anak-anaknya. Tak ada kata bosan untuk selalu memohonkan yang terbaik bagi kita. Tak pernah letih untuk selalu mengusahakan apa yang kita minta. Lantas, dengan apakah kita akan membayar semua itu? Apakah kita mampu “melunasi” segala pengorbanan beliau? Apakah kita mampu menebus segala keletihan dan kepayahan yang beliau rasakan?

Berapa banyak luka yang telah kita goreskan di hati beliau dan obat apa yang akan kita berikan untuk menyembuhkan luka-luka itu? Sesungguhnya kita tidak akan pernah mampu membayar semua itu apalagi melunasinya. Membuat orangtua tersenyum bahagia melihat kita, itu cukup bagi mereka. Senantiasa mendoakannya agar diampuni dan dicintai Allah. Sesuatu sederhana namun kadang lupa untuk dilakukan.

Robbighfirlii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo.

Jadikan perjalanan umur ini sebagai perjalanan mencapai ridho Allah dengan cara mencari ridho orangtua.

-RN-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s