Melatih Kemandirian pada Anak


Mandiri dan tidak banyak menggantungkan diri kepada orang lain adalah salah satu sikap mental yang perlu diajarkan sejak kecil. Masa kanak-kanak adalah periode emas di mana semua nilai/pengajaran dapat diserap dengan sangat baik. Kita sebagai orangtua harus mampu memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya, jangan sampai masa ini terlewat begitu saja lantas anak tumbuh menjadi “individu” yang manja dan egois di kemudian hari. Perilaku kemandirian adalah suatu keadaan dimana seseorang dapat berdiri sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Pun menjadi makhluk sosial, beda-kan antara mandiri dan individualis. ;) 

Sebelum membahas lebih lanjut, kita perlu mengetahui kriteria dan tolak ukur kemandirian pada anak yang disesuaikan dengan tahapan perkembangan usianya, antara lain:

  1. Bayi (usia 0-12 bulan) : Tahap mematangkan sensomotorik, mulai mengenal lingkungan, sehingga dapat dikatakan hidupnya sangat tergantung pada orang lain di sekitarnya.
  2. Usia 1 – 3 tahun : Anak mulai bisa diajak untuk mengontrol dirinya. Misalnya: toilet training, berbicara/belajar mengucapkan jika butuh sesuatu, dan berbicara dengan bahasa yang baik. Anak menunjukkan keinginan untuk mandiri dengan berusaha melakukan berbagai hal sendiri. Misalnya: mencoba makan sendiri (tidak disuapi), membereskan mainan, meminta ke toilet (tidak mau pipis di diapers), mengambil baju, mengancingkan baju, memakai sepatu, belajar mandi/gosok gigi, meskipun hasilnya belum memuaskan.
  3. Usia 3 – 5 tahun : Anak menunjukkan inisiatif yang besar untuk melakukan kegiatan berdasarkan keinginannya sendiri dan meniru perilaku orang dewasa. Perilaku mandiri sebaiknya terus dikembangkan dengan memberikan anak tanggung jawab. Misalnya: membereskan mainan, mengambil makan sendiri, menaruh piring/gelas kotor ke tempat cuci piring, dll.
  4. Usia sekolah : kemampuan anak untuk menunjukkan prestasi sangat penting. Jika kemandirian sudah ditanamkan sejak dini, akan mudah bagi anak untuk mengikuti berbagai aktivitas, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Anak mulai mengetahui bahwa mereka memiliki kemampuannya masing-masing. Misalnya: bagaimana ia harus mengatur waktunya, memiliki jadwal, bagaimana mengerjakan PR, kapan bermain, kapan belajar, bagaimana bergaul dengan teman-teman di sekolah, dan lain-lain.
  5. Usia remaja : Anak sudah memahami dirinya, meskipun ia akan mengalami “kebingungan peran” tidak mengapa. Anak sudah mulai memahami dan memiliki komitmen terhadap nilai-nilai sosial dan moral (misalnya: menentukan jurusan yang akan dipilih di sekolah).

Kemandirian tidak muncul begitu saja, perilaku ini perlu diajarkan sejak dini, meskipun pada awalnya anak belum bisa melakukan dengan sempurna.

Misalnya: anak usia 2 tahun belajar untuk makan sendiri, biarkan dia memegang sendok dan memasukkan makanan ke mulut, kita mengamatinya. Meskipun pada awalnya berantakan, kita bisa meletakkan terpal/plastik di bawah tempat duduknya, tidak mengapa biarkan dia belajar sendiri, jangan langsung dihentikan karena makanan berceceran/berantakan. Sisa makanan tadi bisa kita bersihkan setelahnya. Saat anak mulai besar kita ajarkan untuk makan tanpa tercecer, tentu saja sesuai dengan tahapan usianya.

Mengajarkan kemandirian perlu memperhatikan beberapa hal, antara lain:

  1. Perhatikan usia dan tahapan perkembangannya. Selama anak tumbuh normal dan bukan anak berkebutuhan khusus, maka tahapan di atas berlaku kepada semua anak.
  2. Konsisten dalam mengajarkan. Orangtua bersikap jangan sesuai mood, misalnya kalo orangtua sedang bahagia maka semuanya boleh, kalo sedang tidak bahagia maka dilarang. Tidak konsisten salah satu penyebab kegagalan mendidik.
  3. Adanya reward ketika anak mampu berperilaku mandiri, berupa penghargaan “wah, udah bisa ya beresin sendiri, dapat jempol deh!” dan punishment ketika dia tidak mandiri (misalnya: tidak boleh bermain ketika tidak mau membereskan mainannya). Tentu saja semua penghargaan dan hukuman berupa hal-hal yang mendidik.😉
  4. Dukungan dari ayah dan ibu.
  5. Adanya keteladanan dari orangtua. Anak mandiri bisa melihat bagaimana orangtuanya bersikap dalam keseharian, apakah menggantungkan semua urusan kepada asisten atau tetap berusaha mandiri mengerjakannya.

Jika kita melihat anak belum mau/susah mengerjakan hal-hal yang seharusnya bisa dia kerjakan, tetap berikan motivasi dan “tarik ulur” kapan harus tegas, kapan harus dikendorkan. Ketika tidak dibiasakan mandiri sejak kecil, maka ketika anak menjadi remaja akan semakin sulit untuk mengajarkan hal tersebut kepadanya.

Bisa-bisa ibunya jadi “upik abu” bagi anaknya. Ga mau donggg yaaaa!!😉

Semoga bermanfaat.😀

-RN-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s