Wanita Malam *bukan konotasi

Berbagi pengalaman dan cerita melalui ngobrol dengan orang lain ada banyak manfaatnya. Seringkali saya mendapat ilmu baru, diingatkan banyak hal tanpa harus diceramahi panjang lebar. Dari pengalaman orang lain, saya belajar banyak tentang kehidupan. Berawal duduk bersama saat makan siang menunggu kelas berikutnya, saya dan teman-teman (semuanya beda negara) ngobrol ringan tentang kegiatan sehari-hari, sekaligus untuk memperlancar bahasa Jepang kami. Kami mengambil satu meja di tengah, sembari makan cemilan, dibarengi ngobrol ngalor ngidul cuap-cuap bahasa Jepang ga jelas yang penting saling memahami.😀 *karena ga semua bisa bahasa Inggris*

Saya ditanya ngapain aja kalo di rumah, saya bilang ngerjain ini dan itu. Apakah pernah bekerja sebelumnya? belom pernah, beres kuliah langsung nikah, terus pindah ke sini. Daannn… semuanya kaget! Hontou?!😀 Yang lain gantian menceritakan berbagai pengalamannya, bla bla bla… Sampe akhirnya kami menyimak cerita seorang teman.

Dia tinggal di Sendai bersama kakak perempuannya, saya tidak tahu berapa usianya yang pasti masih muda. Keduanya bekerja di tempat hiburan Kokubuncho, juga menemani pelanggan minum sake. Jam kerjanya dimulai pukul 6.30 malam sampai pulang dini hari. Apalagi akhir pekan/hari libur lebih sibuk lagi, kadang dari pagi sampe pagi. Siang hari dia gunakan untuk les bahasa, ngerjain urusan rumah, dan tidur. Malamnya kembali bekerja, nyaris tak ada libur. Dia bilang gajinya tidak seberapa, meskipun tidak bilang berapa nominalnya tapi katanya tidak banyak. Setiap hari seperti itu, lelah katanya. Tapi karena sudah terbiasa, tidak tidur semalaman tidak jadi masalah.

Dia bertanya kenapa saya menutup rambut dan semuanya tertutup? saya jelaskan karena saya muslim, dan ini adalah baju orang muslim *bukan baju orang Indonesia. Kalo keluar dari Indonesia apa boleh dibuka? saya bilang ga boleh, karena ini perintah agama, tapi di dalam rumah boleh dibuka hanya untuk suami dan keluarga. Apa kalo dibuka, suami bakal marah? bukan karena suami marah, tapi saya yang ga mau membukanya di luar rumah. Katanya: taihen nee… rambutnya ga kelihatan, bijin wa minai yo neee… pake baju bagus ga keliatan dari luar, atsuii. Kata dia, kok kamu bisa sih? Saya jawab: karena saya muslim🙂

Saya menyimak sebaik-baiknya, sebuah pengalaman yang belum pernah saya ketahui sebelumnya. Lantas saya berpikir, berkata kepada diri sendiri: tak harus bekerja sampe pagi, tetap di rumah merawat suami, bisa beribadah, bebas menutup aurat, tak sanggup menghitung berbagai nikmat Allah yang telah diberikan kepada kami. Tidak perlu menuntut untuk ini dan itu, bersikeras untuk bekerja, untuk kelelahan di luar rumah, dan sebagainya. Semua yang kami butuhkan saat ini telah Allah berikan. Alhamdulillah… Apalagi yang kurang? saya benar-benar “jleb” mendengar ceritanya, rasanya sangat kurang dalam mengingat karunia Allah.😦

Tak harus mengalaminya, tapi belajar dari pengalaman orang lain adalah guru terbaik bagi kita.

-RN-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s