Dua Tahun Pernikahan

Tidak ada yang istimewa pada hari itu, tidak ada perayaan khusus, tidak ada sesuatu yang sakral atau sejenisnya, karena setiap hari terasa istimewa bagi kami. ;) Berbagai hal menarik selama dua tahun lebih bersama *menuju tahun ketiga*. Senang, sedih, semua terasa indah untuk diingat. Alhamdulillah, saya terpilih untuk mendampinginya sejak kami sama-sama berusia 22 tahun, dia-lah setengah jiwa saya *wedeeew blushing*.😀 Semoga pernikahan ini semakin kokoh seiring perjalanan usia kami.

Tahun pertama penuh penyesuaian, ada suka duka, senang sedih bersama, alhamdulillah semuanya terlalui dengan baik dengan segala hikmahnya. Tahun kedua, semakin saling memahami, saling mengisi, dan memperbaiki. Secara umum, tidak ada perbedaan signifikan dengan status “menikah”. Kami merasa menjadi pasangan yang selalu pacaran *ceileee..*, jalan-jalan berdua (*juga bersepeda) sejak awal menikah sampe sekarang masih disangka orang pacaran😀, urusan domestik saling membantu, urusan luar dibagi bersama, dan berbagai hal yang tak kalah menyenangkan, alhamdulillah.🙂 Saya ingat kata-kata nikah itu ada sedihnya, tapi buanyaaak senengnya dan ternyata terbukti. Segala beban jika dilalui bersama maka semuanya terasa ringan, karena saling mengingatkan dan menguatkan. Iya! itulah kemudahan yang diberikan oleh Allah bagi mereka yang menikah.😉

Topik terakhir tentang buah hati.
Sampai hari ini belum ada tanda-tanda kehadirannya, tak mengapa. Alhamdulillah, tetap harus disyukuri.😉 Tak membuat bersedih hati apalagi menjadi tidak bersyukur. Kami tetap menunggu, demikian halnya menikmati masa-masa berdua lebih lama, juga sangat kami syukuri. Terbayang jika kami diberi buah hati langsung setelah menikah, inilah yang mungkin terjadi:

  1. empat bulan dalam keadaan hamil jauh dari suami
  2. beradaptasi dengan musim dingin di Sendai dengan perut besar
  3. sedikit pun belom bisa bahasa Jepang
  4. mempersiapkan kelahiran bayi tanpa tahu/memiliki informasi tempat-tempat penting (segala macam dokter, tempat belanja, tempat mengurus surat-surat, dan sebagainya)
  5. belom mengenal lingkungan
  6. belom kenal banyak tetangga
  7. belom sempat jalan-jalan menjelajahi medan perjuangan *apa tho?😀
  8. merawat bayi di tengah keadaan suami yang super duper sibuk dan banyak ke luar kota/ke luar negeri
  9. ga bisa nemenin teman-teman untuk ke dokter, belanja, jalan-jalan
  10. kehabisan waktu buat ngajar anak-anak *malah ga sempat kali yaaa*

Nah loh?? yang ada mungkin akan mengeluh, stres, kecapean, atau bahkan mengalami baby blues syndrome. Na’udzubillah min dzalik.

Alhamdulillah itu tidak terjadi. ;) Kami bahagia menghabiskan waktu berdua. Mengunjungi berbagai tempat di sini, merasakan nikmatnya backpacker-an, menjalani tanggung jawab sesuai usia kami, beradaptasi dengan baik di tempat tinggal baru *yang sangat berbeda dari Indonesia, mendapat banyak info untuk bertahan hidup. Tentunya lebih mempersiapkan segala sesuatu untuk kedatangan buah hati, insyaAllah.😀

Memang benar, takdir Allah adalah yang terbaik dan segalanya menjadi indah pada waktunya.

*Jika ditanya kapan menikah? maka kami katakan “baru kok… baru dua tahun”. Selamanya ingin merasa menjadi pasangan baru.😀

-RN-

2 thoughts on “Dua Tahun Pernikahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s