韓国の文化 Budaya Korea

Kankoku no Bunka

Seharian bareng Reona, dari berangkat sampe pulang di situlah kami ngobrol banyak hal. Kalo kemaren tentang obrolan semenanjung Korea, sekarang ada cerita lain. Beberapa budaya/kebiasaan Korea yang baru saya ketahui:

  1. Umur di Korea ditambah 1 tahun, berbeda (selisih lebih banyak) dengan perhitungan umur menurut internasional. Bayi lahir dihitung sudah berusia 1 tahun. Jadi misalnya menurut umur internasional 26 tahun, maka umur-nya di Korea 27 tahun. Kehamilan di sana dihitung 10 bulan, sejak janin ada maka dia berusia 1 bulan.
  2. Orang Korea lebih suka style baju yang kirei, simpel, dan ga banyak ornamen. Sedangkan orang Jepang lebih suka style kawai (cute), seperti motif bunga-bunga, polkadot, rumbai-rumbai, semua yang banyak pernak-perniknya.
  3. Aktris Korea banyak yang bunuh diri karena kehilangan privasi. Setiap detik media mengunggah berita tentang mereka, bahkan mereka seolah tidak punya ruang untuk dirinya sendiri. Misalnya: si A dan si B nikah, tapi tidak terdengar hubungan antara mereka maka hal itu akan menjadi sangat heboh di media; adanya twitter semakin menambah jumlah bunuh diri para aktris di sana, karena setiap orang bebas menghujatnya di twitter secara langsung. Hal itulah salah satu stressor bagi mereka.
  4. Pakaian tradisional Korea (namanya hanbok), sangat indah namun tidak nyaman ketika dipake karena ribet banyak aturan ketika seseorang sedang mengenakannya. Tidak boleh ini, tidak boleh itu, harus begini-begitu…😀
  5. Orang yang ingin jadi artis dipersiapkan sejak dini, sejak mereka berusia dibawah 10 tahun. Calon-calon artis dibina untuk menghadapi tekanan media, bagaimana bersikap, dan sebagainya. Ada yang mau?😀
  6. Bagi sebagian besar orang Korea, status “menikah” membuat seseorang kehilangan komunitasnya karena status itu. Ada “gap” besar antara status single dan menikah. Mereka menjadi “otomatis” terpilah dari komunitasnya manakala sudah menikah. Jadi antara yang single dan yang nikah sulit untuk “gaul” bersama, meskipun berusia sebaya. Obrolan antara mereka dianggap menjadi “tidak saling nyambung”. Reona merasa kesepian karena hal itu.😦
  7. Bagi kebanyakan orang Korea, tinggal di rumah mertua dianggap sebagai “penjara”. Serem ya! Meskipun tidak semuanya.
Apalagi ya, sementara itu yang saya ingat.😀
Reona merasa kesepian karena di usianya yang masih muda (bagi orang Korea) dia menikah sehingga sulit menjalin hubungan akrab di komunitasnya (dengan teman-temannya yang masih single karena perbedaan status). Saya bilang ke Reona, meskipun banyak sekali perbedaan *beda budaya, beda bahasa, beda agama, dll* di antara kami tapi itu ga jadi masalah buat kami. “Kita bisa menjadi sahabat!” Dia pun setuju dengan hal itu.😉
-RN-

6 thoughts on “韓国の文化 Budaya Korea

  1. Kalo gitu enak jadi orang Indonesia ya. Kadang aku mikir apa negara kita itu negara liberal. Artis yang berlaku tidak baik aja masih dimaafkan dan jobnya masih ngalir. Trus gak ada gap antara yang nikah ama yang belum nikah.

  2. Pingback: Mertua VS Menantu « Pojok Cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s