Demam “Idol”: sebuah fenomena sosial

Berawal dari diskusi dengan seorang teman tentang fenomena “demam idol” yang akhir-akhir ini sedang hot di Indonesia. Demam ini menyerang mayoritas remaja di negeri kita. Sepertinya bukan hanya di Indonesia, di Jepang pun demikian namun saya belum pernah berdiskusi secara langsung dengan remaja Jepang. Oke, kembali ke topik demam idol di Indonesia. Berdasar penuturan seorang teman di Indonesia, fenomena demam idol (pada fenomena ini: demam Korea) sudah mencapai taraf yang perlu kita perhatikan. Kenapa?

Jadi begini:

Para remaja Indonesia sangat nge fans dengan artis/aktor/boyband/girlband asal Korea. Saking nge fans-nya (tidak hanya fans biasa), sampai mengikuti perkembangan si idol tadi, tidak sekedar histeris berteriak-teriak ketika si idol datang. Bahkan, sampe dibawa ke kehidupan sehari-hari. Mereka ikut menangis, begadang semalaman ketika si idol sedang mengalami masalah. Mereka merasakan benar-benar patah hati manakala si idol punya pacar/gandengan baru. Membuat blog dan akun youtube khusus untuk mengunggah perkembangan berita idol mereka, bahkan menjodoh-jodohkan si idol dengan idol yang lain. Bahkan gaya hidup si remaja perlahan-lahan berusaha mengikuti gaya hidup si idol. Sulit dipercaya? Ya, saya pun sulit mempercayainya. Tapi ini terjadi pada remaja di negeri kita. 

Mari kita coba mencermati dari fenomena ini:

  1. Peran media memberi sumbangsih besar di dalamnya. Adanya jejaring sosial seperti facebook, twitter di mana antara si idol dan fans-nya menjadi sangat dekat di dunia maya semakin mendukung fenomena di atas. Remaja jaman dulu mungkin sekedar membaca berita idol nya lewat majalah, mengumpulkan gambar mereka, ya sebatas itu. Namun sekarang, kehidupan pribadi si idol jadi terbawa-bawa di kehidupan nyata si fans.
  2. Masalah perkembangan remaja. Tugas perkembangan remaja secara lengkap ada di sini. Salah periode ramaja adalah periode mencari jati diri. Kepribadian remaja masih sangat labil, siapa dirinya, bagaimana dirinya, dan berbagai pertanyaan menyangkut “self” merupakan sebuah proses menuju pencarian kepribadian yang lebih matang di masa dewasa kelak. Dalam proses ini, remaja membutuhkan figur teladan dimana mereka bisa meng-imitasi (mencotoh) figur tersebut. Nah di sinilah, sosok idol dijadikan panutan oleh mereka.
  3. Idol sebagai trend yang sedang dibicarakan saat ini. Adanya kebutuhan konformitas dengan teman sebaya, menjadikan remaja bertingkah laku sesuai dengan tuntutan lingkungannya. Ga afdhal dong kalo ga punya idol, yang lain kan pada punya!😀 Kurang lebihnya seperti itu.
  4. DVD *bajakan* yang dijual bebas seharga 6000 perak semakin mempermudah untuk mengakses intensitas “pertemuan” dengan idol di layar kaca.

Selama perilaku yang muncul masih wajar, sebatas nge-fans tidak sampai dibawa ke kehidupan sehari-hari rasanya tidak ada masalah. Tetapi jika sampai menangis tersedu-sedu, begadang semalaman karena si idol sedang punya masalah; itulah yang harus kita cermati. Kita perlu aware dengan fenomena ini. Kepribadian remaja menjadi sangat rapuh, labil, dan sulit membedakan batasan antara dirinya dan idola-nya. Fenomena ini harus menjadi konsentrasi orangtua untuk memperhatikan perilaku anaknya (remaja) apakah masih berada dalam batasan wajar atau tidak.

Apa yang harus kita lakukan?

Keluarga sebagai elemen terkecil membentuk kepribadian individu yang kokoh sangat dibutuhkan perannya dalam mengatasi masalah ini. Orangtua perlu menanamkan nilai-nilai untuk mencegah terjadinya hal tersebut. Ketika figur orangtua bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya, maka si anak tidak perlu mencari figur lain di luar itu. Pemilihan idol yang salah akan berakibat fatal bagi perkembangan kepribadian remaja. Idol, dimana segala perilakunya, gaya hidup, pemikirannya akan diikuti remaja. Mudah-mudahan orangtua mulai mencermati hal ini *ketika sudah ada perilaku berlebihan dari si anak* dan tidak menganggapnya sebagai hal wajar sehingga perlu mengambil tindakan secepatnya.😉

  1. Bangun komunikasi dua arah dengan remaja
  2. Tingkatkan intensitas kedekatan psikologis
  3. Beri masukan tentang “idola” dan pandangan hidup

Mudah-mudahan bermanfaat.🙂

-RN-

5 thoughts on “Demam “Idol”: sebuah fenomena sosial

  1. Pingback: Majalah 1000 Guru Edisi ke-11 « Pojok Cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s