Belajar Bermasyarakat: hak tetangga

“ayo Dhe, IRT juga bisa berkarya sangat produktif.”

Setahun yang lalu suami mengatakan hal ini kepada saya. Tidak hanya tahun lalu, tiap waktu, hampir tiap detik *saking seringnya* dia selalu mengingatkan agar saya terus belajar. Belajar apapun! Saya memaknai ucapannya tak sekedar prestasi/karya yang selama ini dilihat banyak orang, seperti mempunyai posisi tertentu, mempunyai karir di luar rumah, popularitas, dan sebagainya. Saya lebih memaknainya bahwa saya harus terus belajar sepanjang hidup. Belajar berbagai hal yang ingin saya pelajari sehingga saya bisa memberi manfaat kepada orang lain selama hidup. Belajar tidak hanya terbatas pada dunia akademik formal, tetapi belajar pada universitas kehidupan tidak ada batasannya. Sekolah formal, of course! spirit untuk itu masih ada sampai sekarang.😉 Namun belajar di kehidupan sehari-hari tidak kalah penting dan harus dilakukan. Saya berharap ilmu itu bermanfaat untuk banyak orang. Saat inilah, mulai dari hal-hal kecil belajar bagaimana memberdayakan diri sendiri dan tidak terikat dengan instansi.

Intermezo: Saya mencoba belajar dari anak-anak, bagaimana memperlakukan mereka sebagaimana anak-anak ingin diperlakukan, tentu saja di dalamnya ada muatan pendidikan. Misalnya: tidak sekedar melarang ini dan itu, tetapi menjelaskan bagaimana ini dan itu, apa saja yang boleh dan tidak boleh. Dari sanalah saya belajar bagaimana manusia ingin diterima utuh, pun sebagai anak-anak. Selama ini yang nempel di kepala anak-anak ketika mereka dilarang melakukan suatu hal, kita (yang melarangnya) dianggap sedang “marah”. Padahal tidak demikian, saya ingin memberi pemahaman baru bahwa kita melarang bukan berarti marah kepada mereka, tapi itu merupakan hal yang tidak semestinya dilakukan oleh mereka. Tidak mudah mengubah paradigma anak-anak, pemikiran mereka masih sangat sederhana. Marah atau tidak marah, suka atau tidak suka; itulah yang mereka pahami. Saya ingin perlahan-lahan mereka mengerti bahwa “marah” dan “mendidik” adalah dua hal yang berbeda. “Melarang” ketika mendidik adalah sesuatu hal yang boleh dilakukan, sehingga mereka mengerti apa yang boleh dan tidak boleh. Saya akan terus belajar untuk hal itu. 

Belajar menjadi anggota masyarakat juga tidak mudah. Bagaimana harus bersikap, saling menghargai, saling membantu, dan menempatkan diri sebagai anggota masyarakat. Saya mempelajarinya di sini, Sendai. Saat masih di Indonesia, segala urusan kemasyarakatan rasanya menjadi urusan orangtua. Namun ketika di sini, sudah berumah tangga, kita pun otomatis menjadi anggota masyarakat. Perlahan saya terus mempelajarinya, tentu saja antara kami (suami dan istri) harus saling mendukung. Apalagi kami tergolong keluarga muda yang harus banyak belajar dari senior-senior kami. Kita bermasyarakat tidak sekedar tinggal di suatu tempat dan mencukupkan diri dengannya. Tetapi di dalamnya ada berbagai kewajiban yang harus kita tunaikan dan itu sebagai hak untuk tetangga kita. Saudara terdekat kita di sini bukanlah saudara sekandung/karib kerabat, melainkan tetangga kita. Mereka-lah keluarga besar kita di perantauan, di saat tidak ada saudara sekandung. Mereka-lah yang ada bersama kita saat terjadi kejadian tak terduga, misalnya gempa.

Berikut ini panduan Islam mengenai bermasyarakat/bertetangga:

“… Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu…” (Terjemah QS. An Nisaa’: 36)

“Jadilah engkau orang yang wara’, niscaya akan menjadi manusia yang paling ahli beribadah. Jadilah orang yang qana’ah, niscaya akan menjadi manusia yang paling bersyukur. Cintailah manusia sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri, niscaya akan menjadi seorang mukmin. Dan bertetanggalah dengan baik terhadap tetanggamu, niscaya akan menjadi seorang muslim.”  (HR. Ibnu Majah)

“Sebaik-baik teman di sisi Allah adalah orang yang paling baik di antara mereka terhadap temannya. Dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah orang yang paling baik di antara mereka terhadap tetangganya.” (HR. Tirmidzi)

Di antara hak-hak tetangga terhadap tetangganya adalah berlaku baik kepadanya semampu dia, saling membantu, dan memberi manfaat. Mudah-mudahan kita bisa menjadi anggota masyarakat dan tetangga yang baik bagi orang-orang di sekitar kita.🙂

-RN-

2 thoughts on “Belajar Bermasyarakat: hak tetangga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s