Dainohara Forest, Asahigaoka Shinrin Koen, dan Nanakita Koen

Rencana untuk jalan-jalan akhir pekan sudah ada sejak pekan lalu, ternyata pagi ini hujan. Setelah melihat perkiraan cuaca (99% tepat), di atas jam 12 siang cuacanya berubah menjadi panas. Jadi-lah rencana keberangkatan diundur jam 12 biar hujan udah reda. 😀 Saya dan seorang teman biasanya ke sana menggunakan 地下鉄(subway), kali ini jiwa jelajah kami sedang muncul. Kami penasaran untuk menjelajahinya menggunakan sepeda. 😀 Jauh ato dekat?? belom tau kalo ga dicoba. 😉 Saya emang dasarnya suka jalan-jalan, jelajah alam, apalagi ke tempat-tempat baru yang belom pernah dilewati. Modal nyali dan pede dengan prinsip cari jalan lewat peta ipong, kalo nyasar tinggal tanya orang, kalo ga ketemu juga… tanya polisi. Ga ketemu polisi, pake feeling. 😀

Kami memulainya dari Kitayobancho kemudian bablas Amamiya, lanjuuuut sampai ketemu Dainohara. Nah di situlah rada bolak-balik liat peta buat cari Dainohara Forest. Ternyata dari jalan raya lumayan nanjak buat nyampe ke sana, sepeda pun kami dorong. Pastinya keringetan sowalnya luamayan panas. 😀 gapapa perjuangan! 😉

baca selanjutnya

Demam “Idol”: sebuah fenomena sosial

Berawal dari diskusi dengan seorang teman tentang fenomena “demam idol” yang akhir-akhir ini sedang hot di Indonesia. Demam ini menyerang mayoritas remaja di negeri kita. Sepertinya bukan hanya di Indonesia, di Jepang pun demikian namun saya belum pernah berdiskusi secara langsung dengan remaja Jepang. Oke, kembali ke topik demam idol di Indonesia. Berdasar penuturan seorang teman di Indonesia, fenomena demam idol (pada fenomena ini: demam Korea) sudah mencapai taraf yang perlu kita perhatikan. Kenapa?
baca selanjutnya

Belajar Bermasyarakat: hak tetangga

“ayo Dhe, IRT juga bisa berkarya sangat produktif.”

Setahun yang lalu suami mengatakan hal ini kepada saya. Tidak hanya tahun lalu, tiap waktu, hampir tiap detik *saking seringnya* dia selalu mengingatkan agar saya terus belajar. Belajar apapun! Saya memaknai ucapannya tak sekedar prestasi/karya yang selama ini dilihat banyak orang, seperti mempunyai posisi tertentu, mempunyai karir di luar rumah, popularitas, dan sebagainya. Saya lebih memaknainya bahwa saya harus terus belajar sepanjang hidup. Belajar berbagai hal yang ingin saya pelajari sehingga saya bisa memberi manfaat kepada orang lain selama hidup. Belajar tidak hanya terbatas pada dunia akademik formal, tetapi belajar pada universitas kehidupan tidak ada batasannya. Sekolah formal, of course! spirit untuk itu masih ada sampai sekarang. 😉 Namun belajar di kehidupan sehari-hari tidak kalah penting dan harus dilakukan. Saya berharap ilmu itu bermanfaat untuk banyak orang. Saat inilah, mulai dari hal-hal kecil belajar bagaimana memberdayakan diri sendiri dan tidak terikat dengan instansi.
baca selanjutnya