Wanita Perlu Mandiri

Setiap wanita, siapapun dia pasti ingin dimanja baik oleh orangtuanya, jika sudah menikah maka oleh suaminya. Ini memang salah satu tabiat dasar wanita.๐Ÿ˜€ Manja? bolehlah sesekali manja, namun tetap harus bisa mandiri ketika keadaan membutuhkan. Suami kita tidak selalu ada untuk kita, sebagai laki-laki pasti dia memiliki segudang kesibukannya sendiri. Buat saya, rada aneh kalo punya suami yang berpangku tangan, diam di rumah, dan hidupnya santai.๐Ÿ˜€ Bisa-bisa saya ngomel karena tingkahnya itu, hahaha…๐Ÿ˜€ untunglah tidak! Kita, wanita harus mempersiapkan diri dalam keadaan apapun ketika suami sedang di luar rumah.ย Minimalnya, tahu apa yang harus dilakukan. Contoh ekstrimnya: pas kejadian gempa (ga tau kapan itu terjadi), suami lagi di tempat kerjanya, maka istri harus tahu kemana menyelamatkan diri (dan anak-anak). Panik? of course!ย tapi coba kita kendalikan diri sendiri dan percaya bahwa keluarga kita baik-baik saja. ๐Ÿ˜‰

Oya, laki-laki (suami) keberadaannya bukan hanya untuk kita saja, dia juga milik banyak orang, bekerja dengan *dan untuk* orang lain, dan masih banyak berbagai kewajiban yang harus dia tunaikan. Misalnya: suami milik masyarakat (apalagi kalo suaminya dokter)๐Ÿ˜€ harus siap menerima panggilan kapan saja, *kalo pun bukan dokter* suami adalah bagian dari masyarakat, di mana ketika dia dibutuhkan untuk kepentingan orang banyak, maka kita harus merelakan waktu kita bersamanya untuk kepentingan banyak orang. Di rumah, suami adalah milik kita. Ah tidak juga! masih ada banyak hal yang harus dia kerjakan meski di dalam rumah. Kita pun harus meminimalkan komplen dengan hal itu, pasti suami sudah mengerti apa yang harus dia kerjakan dan prioritaskan saat itu. Awalnya, apalagi pengantin baru pasti susah dong menerima keadaan “berbagi” dengan hal-hal tadi. hahaha *curcol*๐Ÿ˜€ Tapi perlahan harus kita sadari bahwa suami kita milik banyak orang dan punya banyak kesibukan, tak hanya ngurus istri.๐Ÿ˜‰

Dari yang sederhana, mulai mau mengerti, mau berbagi, dan percaya ketika dipoligami. Pekerjaan, masyarakat adalah istri-istrinya yang lain selain diri kita *poligami dengan kesibukan maksudnya*.๐Ÿ˜€ Kita harus berusaha menyelesaikan berbagai urusan saat suami tidak ada atau saat dia tidak punya waktu untuk itu. Pasutri, harus bisa saling mengisi dan melengkapi, sebagai subsitusi maupun komplementer. :Dย Yang penting komunikasi lancar, afeksi lancar, saling peduli dan memahami juga lancar. So, *wanita memang perlu mandiri.๐Ÿ˜‰

*sedang belajar mandiri

-RN-

2 thoughts on “Wanita Perlu Mandiri

  1. Tyas…saya suka dengan ungkapan “percaya ketika dipoligami”…Saya coba pahami surat an-nissa 4 yang sering dihujat orang karena menganjurkan para suami berpoligami. Tapi kalau kita lihat, surat An-Nissa turun di madinah, setelah tatanan kehidupan Islam sudah berdiri dan kehidupan umat sudah terjamin. Saat ini, kita jauh dari kehidupan seperti itu, dan kalau kita bicara poligami, yang keluar dari mulut kita adalah: waktu untuk keluarga saat ini saja sudah tidak ada, masa mau bangun kantor cabang…Tanpa sadar, kita saat ini sebenarnya juga sedang dipoligami oleh suami dengan kewajibannya mencari nafkah, berdakwah dan berinteraksi dengan masyarakat…Tulisan yang inspiratif…keep writing…

    • terima kasih bu Feril, proses “bisa” mandiri memang butuh waktu belajar yang kontinyu ya, apalagi menerima dipoligami dengan kesibukan seabreg.. lapangkan dada, mudah-mudahan ikut mendapat balasannya.๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s