Obrolan Semenanjung Korea

Berdasar pelajaran geografi jaman SMP dan SMA, saya teringat kisah perang Korea. Kebetulan tadi saya berangkat les bareng teman Korea *Korsel* kemaren (namanya Reona), kami pun ngobrol sejarah perang Korea. Saya melihat dia sangat open minded. Jadi saya tak sungkan untuk bertanya tentang sejarah negaranya.😀 Reona pun menceritakan cukup detail dan gamblang tentang kisah konflik di semenanjung Korea. Katanya, mereka (Korut dan Korsel) memiliki historis sama, budaya sama, bahasa sama, namun ideologi yang berbeda. Itulah yang membuat konflik berkepanjangan sampai sekarang. Cerita Reona ga jauh beda dengan cerita di sini. Namun dia lebih menjelaskan bagaimana pengalamannya dengan orang-orang Korut.

Reona pernah bekerja di Nepal selama satu tahun sebagai volunteer, jadinya dia bisa berbahasa Inggris dengan baik, dan bahasa Nepal. Pikirannya pun terbuka karena mengenal berbagai budaya selama di Nepal. Terkait Korut, berdasar pengalamannya di Nepal, Reona bertemu dengan beberapa perawat wanita asal Korut. Mereka tidak bisa bahasa Inggris maupun bahasa Nepal, sehingga menjadi kendala dalam aktifitas sehari-hari. Suatu hari dia bertemu mereka di pusat perbelanjaan Nepal, mereka ingin membeli beberapa kebutuhan pokok namun ga bisa bilang ke penjualnya.

Reona mendatangi mereka kemudian mengajak mereka berbicara dengan bahasa Korea dan menawarkan bantuannya. Tak satupun menjawab tawaran Reona *karena Reona orang Korsel*.😦 Mereka tidak ada yang berani ngobrol dengan Reona, karena kemanapun mereka pergi harus berkelompok (saat itu ada 4 orang Korut). Jika ketahuan berbicara dengan orang Korsel, katanya akan mendapat hukuman *meskipun itu di luar Korea*. Saya tanya bagaimana perasaannya saat diperlakukan seperti itu? Reona bilang “I don’t know what should I do.” Sedih pastinya!😦 Akhirnya Reona bilang ke penjualnya (dengan bahasa Nepal) bahwa mereka akan membeli beberapa kebutuhan pokok. Sedikit pun mereka tidak mau berbicara kepada Reona.

Saking mendarahdagingnya konflik di semenanjung Korea, ada ancaman jika ada orang Korut melarikan diri/pergi ke Korsel, maka seluruh keluarganya akan dibunuh. Demikian halnya orang Korsel, mereka tidak bisa masuk wilayah Korut. Di Korsel ada pangkalan militer Amerika Serikat *musuh bebuyutan Korut* makanya konflik makin panas hingga saat ini. Ideologi Korut adalah komunis, sehingga negara mengatur seluruh urusan rakyatnya sampai hal sekecil-kecilnya. Rakyat Korut tidak bisa menentukan pilihan hidupnya untuk tinggal dan menetap di mana, tidak bisa bebas menentukan pilihan pekerjaan, karena semua diatur negara. Mereka tidak boleh sekolah ke luar negeri, mereka bisa keluar jika ada tugas negara seperti perawat tadi.

Perang saudara selama puluhan tahun belum berhenti sampai sekarang. Rakyat yang menjadi korban, pun sekedar berteman baik antara orang Korut dan Korsel, mereka tidak bisa melakukannya. Kesian…😦 Jangan sampe deh Indonesia dan Malaysia ga saling sapa, repot dong nanti ga bisa kolaborasi bikin ifthar di Masjid Sendai. Biarlah antar negara yang mengurusi masalah wilayah di Borneo yang baru-baru ini jadi sengketa, yang penting partner Indonesia tetap Malaysia di acara Masjid Sendai!😉

-RN-

3 thoughts on “Obrolan Semenanjung Korea

  1. Pingback: 韓国の文化 Budaya Korea « Pojok Cerita

  2. Aduh segitunya ya…kasian amat jadi orang Korut. Coba bayangkan kalau duo korea itu bersatu pasti kedua negara jauh lebih maju.
    Titip salam buat Reona, saya penggemar berat drama korea…he..he..nggak nyambung ya ?!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s