Muslim di Sendai

Sendai, kota tempat tinggal kami terletak di pulau Honshu sebelah timur. Kota ini bukanlah kota industri seperti kota besar lainnya, secara umum bisa dikatakan cenderung しずか sehingga nyaman untuk belajar. Orang asing mayoritas sebagai pelajar dan peneliti, namun ada juga di antaranya bekerja sebagai pengusaha (kebanyakan saudagar Pakistan). Beberapa diantaranya adalah umat muslim. Kegiatan umat muslim di sini dipusatkan di masjid Sendai. Jika di Indonesia bertebaran banyak masjid dan kita tinggal pilih dimana mau shalat, maka di Miyagi hanya ada satu masjid yaitu masjid Sendai. Kegiatan di luar bulan Ramadhan ada kajian rutin sepekan sekali, untuk muslim dan muslimah internasional, tempatnya di masjid Sendai. Kami belajar tentang Islam dan tahsin. Nah, pengajian untuk muslim Indonesia juga biasa dilakukan intern komunitas Indonesia.🙂

Buka Bersama KMIS *foto by Pak Ardy

Kegiatan selama Ramadhan tentunya berbeda dengan hari-hari biasanya, sudah menjadi rutinitas bahwa setiap tahun masjid Sendai mengundang imam dari luar. Jika dua tahun lalu mengundang imam dari Mesir, satu tahun lalu di datangkan dari Indonesia, dan tahun ini imam dari Pakistan. Selama Ramadhan juga diadakan acara buka bersama/ifthar rutin di masjid. Kegiatan tersebut dilakukan setiap hari Ahad dan ada jadwal untuk masing-masing negara. Misalnya: pekan pertama diselengkarakan oleh Pakistan. Pekan kedua adalah kolaborasi Indonesia-Malaysia. Pekan ketiga Bangladesh dan pekan terakhir kolaborasi negara-negara Arab. Selain berkumpul meningkatkan tali persaudaraan, kami juga berkesempatan menikmati hidangan khas dari setiap negara. Masing-masing memiliki ciri dan cita rasa tersendiri. Pakistan menyajikan nasi briani-nya/kare kambing, Indonesia-Malaysia dengan hidangan khas negeri kita.😉 Sedangkan Bangladesh menyajikan yang mirip dengan hidangan Pakistan (entah apa namanya). Di hari yang lain biasanya menu Bangladesh adalah hidangan curry yang sangat berbumbu. Pokoknya menyenangkan!!😀 Selain tambah ilmu, tambah saudara, juga tambah pengalaman.😀

Selain itu, ada hal yang berbeda di masjid Sendai. Ketika tiba waktu sholat, maka adzan dilarang menggunakan pengeras suara keluar.😦 Prinsip orang Jepang adalah “tidak mengganggu orang lain“, maka umat muslim dilarang menggunakan pengeras suara karena dianggap mengganggu. Selama sholat malam di masjid pun lampu tidak boleh sepenuhnya menyala terang, lampu harus “dikecilkan”. Seringkali kami harus shalat di 公園 taman kota ketika sedang berada di luar rumah. Oke, tak mengapa! yang penting tetap bisa beribadah dengan baik.😉

Suatu ketika saya bertanya kepada seorang muslimah Jepang yang kebetulan masih SMA. Saya bertanya bagaimana ketika dia harus mengenakan jilbab di sekolah? Maka dia menceritakan bahwa jika sekolah di sekolah negeri, maka tidak boleh mengenakan jilbab. Oleh karena itu, dia dan saudara-saudaranya memilih sekolah di sekolah internasional agar bisa berjilbab dengan baik. Beginilah keadaan muslim di negeri ini, syi’ar tidak bisa bebas disyi’arkan. Kerinduan mendengar adzan dan masjid-masjid yang bertebaran tentunya tersimpan dalam hati. Dengan keadaan yang demikian, persaudaraan muslim (dari berbagai negara) di sini sangat terasa, saling menguatkan, mengukuhkan barisan, dan saling mengingatkan agar iman yang sudah ada tak luntur karena keadaan. InsyaAllah…🙂

Beruntunglah para muslim di Indonesia yang bebas menemukan masjid, mudah mendengar adzan, bebas mengenakan jilbab syar’i, dan bebas beribadah di mana pun. Semoga segala kemudahan tersebut disyukuri dan semakin meningkatkan kualitas ibadah.🙂

-RN-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s