Tak Sekedar Menikah

Mari menikah!

Marriage is a social union or legal contract between people that creates kinship. It is an institution in which interpersonal relationships, usually intimate and sexual, are acknowledged in a variety of ways, depending on the culture or subculture in which it is found. Such a union, often formalized via a wedding ceremony, may also be called matrimony. (Wikipedia, 2011)

Pernikahan adalah salah satu proses kehidupan, tentu menjadi dambaan banyak orang. Berdasarkan definisi pernikahan menurut wikipedia, pernikahan merupakan sebuah lembaga resmi. Menikah dan memiliki rumah tangga ideal tentu saja membutuhkan berbagai persiapan sebelumnya, tak sekedar menyatukan cinta dua hati anak manusia. Selama ini, kita cenderung mempersiapkan pernikahan (*ceremony) secara besar-besaran, namun melewatkan proses persiapan pernikahan itu sendiri. Menikah bukan sekedar ceremony karena di dalamnya terdapat banyak hal yang lebih besar daripada hal tersebut.

Sebuah kisah, seorang laki-laki memiliki konsep: akan menikah ketika sudah memiliki materi sebanyak-banyaknya. Hidup mudanya dihabiskan untuk mengumpulkan materi hingga tak terasa bilangan umurnya bertambah banyak. Teman-teman seusianya telah memiliki beberapa anak dan menikmati proses membesarkan anak. Saat itulah ia baru sadar bahwa waktunya banyak terlewat karena prinsip hidup tersebut. Akhirnya tidak ada pilihan lain, dia ingin memiliki pasangan, menikah dengan siapapun yang mau menikahinya. Sampai saat ini keinginannya belum terwujud.

Perencanaan dalam hidup memang sangat penting, perencanaan yang matang dengan mempertimbangkan segala konsekuensinya akan membantu mengarahkan hidup kita. Tentu saja menyiapkan beberapa alternatif yang digunakan sebagai pilihan lain jika satu rencana tidak bisa diwujudkan. Jangan sampai menyesal karena terlalu terpaku pada satu rencana. Demikian halnya dengan menikah, seseorang yang mempersiapkan diri dan memiliki perencanaan maka akan tahu bagaimana menjalaninya. Dalam proses tersebut dibutuhkan persiapan matang, tak sekedar mengikuti air mengalir. Maksudnya di sini “bukan menyiapkan dengan siapa kita menikah” tetapi “rumah tangga seperti apa yang kita inginkan.”

1. Tetapkan kriteria.

Rumah tangga terdiri atas suami, istri, dan anak. Di sana tidak hanya kepentingan kita yang harus dipenuhi, tetapi ada kepentingan dan hak anak. Kita ingin memiliki anak seperti apa/bagaimana, itu merupakan hal utama yang sangat penting dipersiapkan sebelum menikah. Dari sanalah kita bisa merumuskan bagaimana kriteria pendamping (suami/istri) yang kita harapkan agar mampu saling mendukung untuk mewujudkannya. Hak anak adalah memiliki orangtua (ayah dan ibu) yang baik baginya. Kita, sebagai calon orangtua harus mempersiapkannya sebaik mungkin dengan mencarikan ayah/ibu yang memenuhi hak tersebut. Urusan siapakah orangnya, itu bisa menyusul ketika konsep rumah tangga dan harapan memiliki anak seperti apa sudah jelas bagi kita.

Sebaik-baiknya kegagalan adalah perencanaan yang belum berhasil. 

2. Calon pasangan

Misalkan kita ingin memiliki anak yang cinta dengan ilmu pengetahuan, maka kita harus mempersiapkan calon orangtuanya yang bisa mendukung hal tersebut. Tidak peduli siapa dia/seseorang khusus (kita tidak tahu), yang terpenting/kita butuhkan adalah calon pasangan yang bisa mendukung cita-cita untuk memiliki anak seperti itu (cinta ilmu pengetahuan). Kalau mendasarkan ingin menikah dengan seseorang (sudah tersebut nama) tanpa peduli bagaimana orang itu apakah ia bisa mendukung cita-cita tadi, maka kita tidak bisa menuntut dia untuk mendukung rencana kita. Tetapi sebaliknya, kalau kriteria sudah ada maka kita tinggal mencari/menemukan orang yang cocok untuk mendukung cita-cita kita. Ibaratnya begini, mengusahakan anak untuk suka membaca akan lebih sulit ketika orangtuanya tidak berminat dengan bacaan.

3. Satu visi

Pasangan yang tidak satu visi akan sulit menyatukan perbedaan konsep dalam menjalani pernikahan. Oleh karena itu dibutuhkan visi yang sama untuk menjalani pernikahan. Pernikahan tidak hanya cinta, di dalamnya masih banyak hal yang harus dikerjakan. Dua orang yang berbeda latar belakang, pola asuh, kebiasaan, dan berbagai perbedaan lainnya akan mudah menyatu jika memiliki visi hidup yang sama. Ketika  ada benturan-benturan kecil akan menjadi sangat besar ketika sejak awal konsep visi hidupnya tidak sama. Sedangkan visi yang sama akan menyatukan perbedaan-perbedaan kecil menjadi kekuatan ketika menghadapi benturan/ujian besar dalam keberlangsungan rumah tangga.

4. Saling menerima dan jalin komunikasi efektif

Akan ada berbagai kejutan dari pasangan yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Nah, di sanalah dibutuhkan proses saling menerima, saling memahami kelebihan dan kekurangan pasangan. Hal-hal kecil bisa menjadi ribut besar kalau tidak saling memaklumi, lhoo… 😀 Saling maklum bukan berarti tidak mempedulikan/tidak mau membicarakan hal-hal yang tidak kita sukai dari pasangan. Dalam pernikahan, asertivitas di sini sangat dibutuhkan. Kita tidak boleh segan untuk saling berbicara apa saja hal-hal yang disukai dan tidak disukai dari pasangan. Jangan sampai memendam jengkel sendirian atau mengatakan: “kamu tuh ga pernah mau memahami aku!” Gimana bisa memahami, lhah ga pernah bilang?!😀

Stop di sini dulu ya.. Sudah pagi ternyata, harus mempersiapkan yang mao berangkat gakkai pagi ini.😉

-RN-

3 thoughts on “Tak Sekedar Menikah

  1. Pingback: Rangkaian Menanti Buah hati « Pojok Cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s