Perkembangan Anak Lintas Budaya

dari film "Babies"

Ringkasan Seminar We are different but we are the same! child rearing in a foreign country. Pemateri: Hiroko SAKURAI.

1. Keterbukaan pada budaya yang berbeda (Pengalaman di tempat belajar anak cacat di Sri Lanka).

Pengalaman 1: bertemu penderita hidrocephalus

Keadaan di Sri Lanka sangatlah berbeda dengan di Jepang. Sebuah kondisi di mana terdapat banyak keterbatasan dan setelah menyaksikan keadaan yang demikian maka beliau ingin mempraktekkan segala ilmu dalam buku yang dipelajari selama di Jepang. Setiap orang memiliki opini masing-masing, beliau mencoba mengkombinasikan opini pribadi dengan keadaan di sekitar. Meski selama di Sri Lanka menggunakan bahasa Jepang, namun ternyata tidak ada masalah dalam berkomunikasi dengan anak-anak di sana.

Pengalaman 2: Pertemuan dengan Tusharney, seorang anak yang mengalami buta dan tuli.

Anak ini tidak dapat melihat dan mendengar, ia hanya mau makan dengan kare dan nasi. Ia dapat mengenali keduanya dengan cara menciumnya. Suatu ketika ia ingin makan, namun kare dan nasi tidak segera diberikan kepadanya. Ia pun tidak bisa menunggu lama, lantas berteriak, menarik-narik rambutnya, bahkan sampai membenturkan kepalanya di dinding hingga berdarah. Beliau (pemateri) berpikir bagaimana caranya bisa membuat ia agar mau menunggu sebentar?

Lantas beliau menyentuh tangan si anak dan kemudian si anak mencium kulit beliau. Sembari itu beliau menyanyikan lagu dalam bahasa Jepang beberapa saat, si anak tersebut nampak sangat senang dan menghentikan perilaku sebelumnya. Padahal kita ketahui bahwa ia tidak bisa mendengar. Ternyata si anak ini memahami dan mengerti makna sentuhan yang diberikan kepadanya, akhirnya ia mau menunggu sampai makanan siap disajikan. Bahkan ketika namanya dipanggil, ia mampu mendekatkan wajahnya ke arah yang memanggil juga mampu merasakan makanan dari bau (dengan cara menciumnya). Ia tahu jika bertemu dinding maka ia akan menghentikan langkahnya dan melompat ketika dipanggil. Sampai akhirnya  ia mengalami banyak perubahan, mulai bisa menikmati “listening” dan bisa mencari sesuatu dengan tangannya.🙂

Poin penting: Kita dapat melakukan banyak hal meski kita tidak bisa berkomunikasi dalam bahasa yang sama. Meski berbeda namun setiap anak memiliki kekuatan spiritual untuk memahami yang ada di sekitarnya.

2. Setiap anak memiliki budayanya sendiri-sendiri

Pengalaman di TK:

Hiroki (3 tahun) adalah seorang anak yang jika menginginkan sesuatu tidak mau datang mendekat. Suatu ketika diadakan permainan “playing tag”. Hiroki chan menginginkan “tag” namun ia tidak mau ikut berlari mencarinya. Ia hanya berjalan berputar-putar dan tidak berusaha untuk mendapatkannya. Setelah beberapa saat, Hiroki chan berteriak-teriak dan menangis kencang. Sensei (guru) ingin menghentikan tangisnya dengan cara memberikan tag tersebut kepada Hiroki chan. Tiba-tiba datanglah Ayako chan dengan marah memanggil nama gurunya tanpa menggunakan kata “sensei” (langsung memanggil nama pendek adalah perilaku tidak sopan di sini). Ayako chan mengatakan bahwa senseinya tidak adil, tidak asik, dan tidak bagus. Orang dewasa lainnya langsung mengatakan kepada Ayako chan bahwa perilaku itu tidak boleh ia lakukan kepada sensei. Lantas sensei mengatakan tak mengapa, Ayako chan hanya mengekspresikan perasaannya bahwa ia tidak suka dengan sikap sensei yang demikian. Akhirnya Hiroki chan mendapatkan tag dari sensei lantas Ayako chan mengatakan kepada Hiroki bahwa ia akan mengajari Hiroki aturan berain tag yang benar.  Hiroki chan kemudian mau berlari dan bermain sesuai aturan permainan.

Poin penting: sensei belajar dari Ayako chan. Tidak semua anak mau diperlakukan demikian, ia berani menunjukkan perbedaannya. Setiap anak memiliki kemampuan dan bakat masing-masing. Mereka dapat berkembang dengan baik dan orang dewasa yang mengontrol perilakunya.

Setiap “nilai/value” yang ada dikombinasikan dengan nilai orang lain, kemudian berpikir bersama. Akhirnya semuanya menjadi sadar atas keberadaan orang lain dan memperoleh kemampuan untuk mengontrol perilakunya masing-masing.

Kisah tidur siang Takashi dan Taku:

Takashi adalah seorang anak yang cerdas. Taku adalah seorang penderita down syndrom. Suatu ketika sensei menyuruh Takashi untuk tidur siang bersama Taku. Takashi nampak sedih dan tidak suka dengan hal tersebut, sedangkan Taku terlihat sangat senang. Sensei pun bertanya kepada Takashi mengapa nampak sedih, Takashi mengatakan bahwa ia tidak suka dengan Taku. “Taku itu suka ngacay (keluar ludah di mulutnya), bau, dan kotor”, kata Takashi kepada Sensei. Sensei pun mengijinkan Takashi untuk tidur dengan futon (alas tidur) terpisah dari Taku. Di lain hari, ternyata futon yang tersedia tinggal satu. Mau tidak mau Takashi harus tidur siang bersama Taku. Taku nampak senang sedangkan Takashi sebaliknya. Sensei pun menyelimuti keduanya lantas memeluk keduanya secara bersamaan di atas futon. Mereka pun tertawa dan bermain bersama sebelum tidur. Hari berikutnya, tiba-tiba Takashi datang ke kelas langsung mencari Taku. “Taku chan wa doko ni ???”(Taku di mana? sambil mencari-cari di dalam kelas). Saat menemukan Taku, Takashi langsung mengajak Taku bermain bersama. Mereka pun nampak bahagia. Ibu Takashi terheran-heran dengan perilaku anaknya yang mengalami banyak perubahan.

Poin penting: tidak mengatakan “jangan membenci Taku….” tetapi membuat Takashi mengerti bahwa Taku adalah anak yang baik dan tidak seperti yang ia kira sebelumnya.

Menemukan perbedaan kemudian menjernihkan perbedaan itu dan berempati pada setiap keadaan sangat penting dalam kehidupan sosial. Menerima orang lain dengan baik, mengikuti aturan sosial akan menciptakan suasana hidup nyaman bagi semua.

3. Pertukaran lintas budaya

Kisah:

Di Jepang ada tendensi pandangan bahwa sulit berinteraksi dengan budaya lain. Jika hal itu terjadi maka katakanlah opini tersebut dengan orang Jepang dan kita akan mengkombinasikan masing-masing opini kemudian kita dapat mengubah opini itu. Misalnya: Jika di TK para sensei nampak sibuk, sebenarnya tidak sesibuk yang kita pikirkan. Jadi tolong katakan apa yang kita pikirkan, kemudian berkonsultasi, dan jangan memikirkannya sendiri.

Di Nepal ada kisah anak yang mengalami cacat fisik hingga menyebabkan ia sangat bergantung kepada orang lain selama 24 jam. Selama ini selalu berpikir sendirian, berpikir dan terus berpikir, namun ia tidak bisa mengatakan apa yang ada dalam pikirannya. Ada banyak hal yang ada di kepalanya namun ia tidak tahu bagaimana menyampaikannya. Ia hanya bisa menggerakkan telunjuk tangannya. Selama bertahun-tahun tidak ada yang paham perasaannya. Suatu ketika ia mampu menulis, ia menjadi tahu bagaimana mengkomunikasikan perasaan dan pikirannya. Akhirnya ia pun tahu bahwa orang-orang di sekirarnya menerima dia dengan baik dan ia puas dengan penerimaan tersebut.

Pelajari budaya orang lain -> sampaikan budaya masing-masing -> kombinasikan budaya satu sama lain dan temukan persamaan yang memuaskan kedua belah pihak.

Jadikan satu sama lain mentor yang luar biasa hingga akhirnya kita percaya pada satu sama lain.

How people can become so humanly?  To understand and accept others.

Kesimpulan:

  1. People make people humanly.
  2. Anak-anak tumbuh dengan sendirinya jika mereka paham situasi dan menyesuaikan diri dengan baik.
  3. Guru tidak pantas untuk menunjuk poin jelek anak-anak, kecuali mampu menemukan karakteristik yang baik dari anak-anak.
  4. Terima setiap opini orang lain dengan segala kekurangannya.
  5. Jangan pernah berselisih terhadap opini seseorang sampai kita menerima kekurangannya.
  6. (ini sangat penting untuk membuat perubahan) Kita perlu belajar dari orang lain.

Semoga bermanfaat.🙂

-RN-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s