Misteri Pernikahan

Berdasar kisah beberapa orang yang diceritakan kepada saya.
Cerita 1:
Sepasang kekasih memutuskan menikah siri yang sebelumnya telah menjalani hidup bersama tanpa ikatan pernikahan.Keduanya telah lulus kuliah dan telah mampu untuk menikah. Hubungan terjalin sejak masa kuliah. Mereka mengambil jalan itu dengan alasan tidak mendapat izin menikah dari orangtuanya. Pernikahan siri ini dilakukan tanpa sepengetahuan dari wali (ayah) si wanita dan ketika menikah konon katanya mengambil wali hakim. Kabar terakhir, di tengah mereka akan hadir seorang anak. Sayangnya, hingga saat ini orangtuanya belum mengetahui keadaan tersebut.
Cerita 2:
Dua sejoli melakukan pernikahan siri semasa kuliah. Hampir sama dengan cerita 1, tetapi mereka tidak pernah hidup bersama sebelum menikah. Keduanya juga tidak mendapat izin dari orangtua masing-masing, tapi mereka nekad dengan mengambil wali hakim. Pada awalnya mereka berpikir bahwa semua akan baik-baik saja. Beberapa bulan kemudian si istri dinyatakan hamil. Mereka kebingungan karena saat itu keduanya tengah sibuk dengan tugas kuliah masing-masing. Ketika itu orangtua pun belum tahu dan menganggap anaknya baik-baik saja. Hingga akhirnya melahirkan seorang anak, saat itulah mereka memberi tahu kepada orang tua masing-masing. Dengan cerita yang lebih kompleks, singkat cerita akhirnya mereka dinikahkan secara resmi oleh orangtuanya.

Cerita 3:
Pernikahan karena kecelakaan. Menikah karena hamil terlebih dahulu, demi menutup aib keluarga.
Cerita 4:
Menikah siri menjadi istri kedua dari seorang laki-laki. Tanpa sepengetahuan orangtuanya dan keluarga si laki-laki. Konon katanya “demi cinta…”
Cerita 5:
Memilih istri kedua dan sejak itulah hubungan dengan orangtuanya menjadi sangat buruk, terutama dengan sang ibu.

Ada beberapa yang menggelitik pikiran saya berdasar cerita-cerita di atas (sekedar merenungi) antara lain:
Kalau kita membahas tentang topik “pernikahan siri” nampaknya sah-sah saja apabila memenuhi syarat dan rukun pernikahan. Saya pun tak ada masalah tentang itu. Itu bagian dari pilihan hidup setiap orang.
Nah, ketika kita membahas “siri” dengan mengambil wali hakim bahkan tanpa sepengetahuan orangtua?
Kita tahu bahwa salah satu rukun nikah adalah wali yang sah, ketika dalam pernikahan tidak ada izin dari wali atau mengambil wali semau sendiri, semestinya kita harus mempertanyakan keabsahan pernikahan itu. Benarkah ini pernikahan siri yang benar-benar sah atau seolah-olah sah??

Ketika seorang anak gadis memutuskan untuk menikah tanpa izin dari keluarganya, saya merinding membayangkan bagaimana perasaan orangtuanya terutama si ayah ketika tahu hak menjadi wali dan menikahkan dari seorang ayah telah diambil “paksa” oleh orang lain tanpa sepengetahuannya. Ironis..
Kalau pun alasannya adalah menikah siri untuk menghindari dosa besar zina, saya sepakat. Namun tidak serta merta bebas menikah dengan mengambil wali semau sendiri. Bukankah hal tersebut akan menyakiti orang tua? Durhaka pada orangtua pun termasuk dosa besar. 
—————————————————————————————————————
Pernikahan karena hamil dahulu sebelumnya, dosa besar yang nampak dilazimi pun sangat disayangkan. Mereka tidak memikirkan bagaimana si anak itu, orangtuanya akan dimintai pertanggungjawaban di akherat dan keluarga juga yang mendapat malu. 
—————————————————————————————————————
 Saya tidak mengerti mengapa seseorang lebih memilih orang yang baru beberapa saat hadir di hidupnya ketimbang orangtua apalagi ibu yang selama umurnya senantiasa berbuat baik. Terlalu banyak yang tersakiti atas keputusan itu. 
————————————————————————————————————–
Mengapa kebaikan dan keberkahan sebuah pernikahan harus menyakiti orang lain?
Mengapa harus ada yang menangis getir karena sebuah pernikahan?
Bukankah pernikahan adalah amalan besar setengah agama yang membuat orang berbahagia karenanya?

Saya benar-benar tidak mengerti dengan pernikahan yang begini.😦

Jika ingin berpikir panjang, masih banyak jalan menuju pernikahan yang membahagiakan semua pihak. Mungkin kuncinya adalah kesabaran. Kita bersabar ketika belum mendapat izin orangtua, kita berusaha bersabar menjalani semua ujian hati, dan kita bersabar untuk senantiasa berhati-hati dalam hidup. Masih banyak jalan melobi orangtua, memilih yang terbaik, dan membuat kebahagiaan untuk semua orang. Ego harus diturunkan, setiap langkah kita semestinya untuk kebaikan semuanya. Jangan sampai keputusan hidup yang kita buat, mengakibatkan orang lain terluka. Kalau luka kulit mudah kering dengan obat, namun luka hati yang telah ditorehkan dapatkah sembuh tanpa bekas. Sabar untuk segalanya, insyaAllah akan dimudahkan setelahnya.

Kejadian lain, bukan cerita sinetron tapi kisah nyata:

  1. Acara lamaran sudah disiapkan oleh pihak wanita, namun si calon laki-laki (dan keluarganya) yang ditunggu tidak hadir dalam acara lamaran tersebut. Berita sudah tersebar, kerabat pihak wanita sudah berkumpul. Akhirnya lamaran dibatalkan, si laki-laki kabur tanpa kabar dan memutus hubungan tiba-tiba dengan mengganti nomor hp. Saat bertemu, tidak  ada permohonan maaf kepada si wanita dan keluarganya. Seolah tidak terjadi apa-apa.
  2. Acara pernikahan siap digelar, undangan sudah disebar, catering dan persiapan nyaris 98%, mendadak si calon pengantin pria memutuskan tidak jadi menikah beberapa hari sebelum hari akad.
  3. Acara pernikahan siap digelar, tamu undangan sudah hadir, calon pengantin wanita sudah dirias, petugas KUA sudah datang, satu jam sebelum akad nikah mempelai pria menelepon bahwa dia tidak siap menikah. Pernikahan gagal, calon pengantin wanita (dengan baju pernikahan) tetap datang ke gedung untuk menjelaskan kepada para tamu undangan bahwa pernikahan batal dilakukan.
Mengapa ada kejadian seperti itu? Wallahu a’lam bish showab… saya tidak bisa berkata apapun, reaksi pertama adalah merinding mendengarkan kisah-kisah itu.😦 Beberapa di antaranya diceritakan kepada saya secara langsung dari bibir orang yang mengalami kejadian tersebut.
-RN-

2 thoughts on “Misteri Pernikahan

  1. ‘Kejadian lain, bukan cerita sinetron tapi kisah nyata:

    Acara lamaran sudah disiapkan oleh pihak wanita, namun si calon laki-laki (dan keluarganya) yang ditunggu tidak hadir dalam acara lamaran tersebut. Berita sudah tersebar, kerabat pihak wanita sudah berkumpul. Akhirnya lamaran dibatalkan, si laki-laki kabur tanpa kabar dan memutus hubungan tiba-tiba dengan mengganti nomor hp. Saat bertemu, tidak ada permohonan maaf kepada si wanita dan keluarganya. Seolah tidak terjadi apa-apa.
    Acara pernikahan siap digelar, undangan sudah disebar, catering dan persiapan nyaris 98%, mendadak si calon pengantin pria memutuskan tidak jadi menikah beberapa hari sebelum hari akad.
    Acara pernikahan siap digelar, tamu undangan sudah hadir, calon pengantin wanita sudah dirias, petugas KUA sudah datang, satu jam sebelum akad nikah mempelai pria menelepon bahwa dia tidak siap menikah. Pernikahan gagal, calon pengantin wanita (dengan baju pernikahan) tetap datang ke gedung untuk menjelaskan kepada para tamu undangan bahwa pernikahan batal dilakukan.’

    ———————————
    komen:
    ckckck..
    lelaki pengecut:/
    di sisi lain, untung si mbak2nya gak jadi nikah sama laki2 itu ya..
    klo jd nikah, mungkin lebih buruk lg hidupnya nanti -_____-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s