Jika Anak Membantah

Perilaku anak yang manis tentunya diharapkan oleh semua orangtua. Namun, tidak semua anak dapat berperilaku demikian. Perilaku suka membantah adalah salah satunya. Terkadang kita “gemas” dengan perilaku tersebut dan tangan merasa gatal untuk mencubit (atau sejenisnya). Apalagi dibarengi mendengar terikan-teriakan si anak tentu saja membuat pusing kepala orangtuanya. Tidak hanya sekali-dua kali, perilaku ini kerap dilakukan dan anak nampak tidak menunjukkan tanda-tanda perubahan. Lantas muncullah pertanyaan:

Mengapa anak suka membantah?

Anak yang berada pada rentang usia 8 sampai 12 tahun, cenderung memunculkan perilaku ini. Anak sedang mengalami fase-fase peralihan fisik dan emosi dari rentang hidup sebagai anak-anak menuju masa remaja. Fase ini merupakan fase kritis, di mana anak sangat ingin menunjukkan identitas dirinya, sementara orientasi dirinya justru sedang bergeser. Dalam berbagai perbedaan kepentingan dan “rasa” anak pun memunculkan sikap membantah sebagai unjuk diri. Ada beberapa hal yang perlu dicermati ketika anak berperilaku demikian. Tidak adil jika kita menyalahkan semuanya kepada si anak, tentu saja sedikit banyak ada andil orangtua ketika anaknya berperilaku demikian. Alangkah baiknya kita sebagai orangtua melakukan introspeksi atas hal ini. Berbagai alasan munculnya perilaku membantah pada anak, antara lain:

1. Membantah adalah sebuah bentuk protes

Anak belum mampu menyatakan pendapatnya dengan baik sehingga ia mengeluarkan pendapatnya tanpa mempedulikan apakah pendapat itu sesuai dengan etika yang berlaku atau tidak.

2. Orangtua bersikap otoriter

Anak tidak memiliki kesempatan/pilihan sendiri maka ia berusaha untuk melawan kekangan tersebut.

3. Orangtua bersikap permisif

Sikap orangtua yang terlalu membebaskan anak tanpa kontrol membuat anak merasa benar sendiri dan tidak mau mendengarkan orangtuanya.

4. Mencontoh perilaku orang tua

Selama masa perkembangan dan pembentukan karakter, sosok yang paling dekat dengan anak adalah orangtuanya. Ketika orang tuanya berperilaku demikian (suka dengan perdebatan/berbicara keras) maka anak akan dengan cepat mengimitasi perilaku tersebut.

5. Tidak kompak antara orangtua

Salah satu hal krusial dalam perkembangan anak adalah kekompakkan orangtua menerapkan pola asuh. Ketika anak dididik dengan pola asuh yang berbeda antara ayah dan ibunya di dalam sebuah keluarga, maka anak akan mengalami kebingungan. Hal inilah yang menyebabkan kegagalan dalam pola asuh. Misalnya: Ibu menerapkan disiplin ketat pada anak sedangkan ayah membebaskan anak berperilaku semaunya. Ketika ibu mengingatkan agar anak disiplin, maka anak akan mencari pembelaan/kelonggaran/pembenaran dari ayahnya. Jika ayahnya mengijinkan apa mau anak (yang melanggar aturan disiplin ibu), maka wibawa ibu akan hilang di mata anak. Akhirnya anak berani untuk membantah orangtuanya karena merasa “mendapat dukungan/pembelaan” dari pihak lain.

JANGAN DIDIAMKAN

Anak yang suka membantah perlu ditangani. Jika dibiarkan maka perilaku ini akan terbawa sampai dewasa dan menjadi bagian dari kepribadiannya. Anak akan menganggap memang begitulah caranya menyikapi hidup (melalui mekanisme pertahanan diri). Agar dampak negatif seperti itu bisa dihindari, orangtua perlu melakukan tindakan/perubahan secepatnya. Berikut ini adalah hal-hal yang bisa dilakukan oleh orangtua, antara lain:

1. Membangun komunikasi aktif

Komunikasi dua arah antara orangtua harus terjalin dengan baik. Misalnya ketika orangtua menyuruh sesuatu, orangtua menjelaskan maksud perintah tersebut. Tidak hanya sekedar menyuruh tanpa anak ketahui maksud perintah tersebut.

2. Memilih kata-kata yang tepat

Tidak perlu berteriak karena ketika kita berteriak maka teriakan anak akan semakin keras. Jadi perlu menggunakan kata-kata penegasan atas perintah kita. Jika ia tetap ngotot untuk membantah, maka berikanlah pilihan yang tidak disukainya (hukuman yang membuat anak jera namun bersifat mendidik). Misal: tidak diperbolehkan main.

3. Memberikan penghargaan pada perilaku positif

Anak diberikan pujian ketika berperilaku baik, selain itu bisa dengan pelukan atau membelai si anak. Anak yang “keras” bisa jadi karena kurang mendapatkan/merasakan penghargaan dari orangtuanya.

4. Buat kesepakatan dengan anak tentang aturan yang akan diberlakukan

Mengajak anak berdiskusi tentang aturan untuk dirinya, sehingga anak memiliki pilihan untuk membuat aturannya sendiri. Misalnya: membuat jadwal sehari-hari kapan waktu bermain, kapan mengerjakan PR, kapan mandi. Termasuk dengan konsekwensi ketika anak melanggarnya.

5. Konsisten terhadap aturan yang telah dibuat

Ketika sudah menyepakati aturan tersebut, maka aturan ini berlaku sepanjang waktu sampai diperbarui (ada kesepakatan lain). Tidak ada tawar menawar lagi, ketika anak melanggar aturan maka konsekwensi (hukuman) yang telah disepakati harus dijalankan. Jika orangtua tidak tegas dan konsisten dengan aturan ini misalnya membiarkan ketika anak melanggar, maka anak akan menganggap orangtuanya remeh. Anak menjadi terbiasa melanggar aturan dan selanjutnya akan semakin sulit untuk dikendalikan.

6. Introspeksi

Masing-masing orangtua perlu introspeksi ketika anaknya membantah/berbicara keras. Anak adalah pencontoh paling ulung. Dia sangat mudah mengikuti perilaku orangtuanya. Jika anak berperilaku negatif yang tidak sesuai dengan aturan kita, maka kita perlu mengoreksi apa saja yang pernah kita lakukan selama ini.

7. Konsultasi dengan psikolog

Jika perilaku negativistik (membantah) anak masih terus berlanjut, tak ada salahnya menemui psikolog. Ada kemungkinan orang tua belum menyadari bahwa anak yang suka membantah karena kesalahan pola asuh. Jika anak masih membantah artinya pola didik selama ini tidak efektif/kurang tepat diterapkan kepada anak. Dengan demikian, perlu adanya perubahan pola asuh selama ini dan berkonsultasi dengan psikolog jika menginginkannya.

Mengajak anak berpikir panjang sebelum bertindak dan bertanggung jawab

Orangtua perlu menjelaskan sebab akibat ketika anak berperilaku tertentu. Tentu saja menggunakan bahasa yang dimengerti oleh anak. Anak perlu diberi kesempatan untuk mencoba dan memacu kreativitasnya sendiri, sehingga akhirnya ia belajar sendiri akibat baik dan buruknya tentang segala sesuatu, juga terbiasa untuk berfikir panjang sebelum melakukan sesuatu.

Pola ini akan melatih anak untuk bertanggung jawab terhadap apa yang telah ia lakukan. Jika orangtua perlu memberi hukuman (yang mendidik) ketika anak melanggar aturan, maka jangan ragu-ragu menghukumnya dan jangan ragu pula untuk memberikan penghargaan ketika anak mampu berperilaku positif.

Salah satu hal krusial dalam mendidik anak adalah kekompakan dalam menerapkan pola asuh. Ketika anak dididik dengan pola asuh yang berbeda antara ayah dan ibunya di dalam sebuah keluarga, maka anak akan mengalami kebingungan. Hal inilah yang menyebabkan kegagalan dalam pola asuh.

Semoga bermanfaat.🙂

-RN-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s