Belajar dari Anak-Anak

Bergaol dengan anak-anak ternyata memiliki banyak manfaat. Kesan pertama mungkin anak-anak membawa diri dengan heboh, rame, ribut; tapi setelah memahami pembawaan mereka masing-masing, ada berbagai pelajaran yang bisa kita ambil dari mereka.

Kali pertama kenalan dengan anak-anak Indonesia di Sendai adalah musim dingin dua tahun lalu. Nyaris semua super aktif *bukan hiperaktif lho yaaa* . So… ya begitulah! Saya hanya mengamati situasi😀 Eittss, jangan memberi penilainan ketika baru pertama “bergaol” dengan mereka. Soalnya ada banyak kejutan-kejutan yang mereka berikan kepada saya di perkenalan-perkenalan selanjutnya. Pokoknya kalo baru pertama ketemu langsung milih balik kanan mundur ke belakang, maka ga akan nemu kejutan selanjutnya.😀

Woshhh… cukup sekian edisi perkenalan. Selanjutnya adalah cerita inti.

Efek kebanyakan bergaol dengan anak-anak akhirnya saya mulai memahami bahasa anak-anak. Ceileee…

Musim gugur tahun lalu.

Ada yang tau?😀
OK baiklah! Berikut ini adalah daftar “keajaiban” dari anak-anak yang membuat kita orang dewasa seakan sulit menerka sebelumnya.

  1. Anak-anak mampu berkomunikasi dengan bahasa apapun di antara mereka. Dulu ada tiga batita yang saya kenal sedang bercengkerama, dari Mesir dan Indonesia. Batita Mesir pake bahasa Arab, batita Indonesia pake bahasa Jepang dan Indonesia. Nah loh? pegimane cuba?? Ajaibnya, obrolan mereka terlihat nyambung, saling menimpali, asyik gitu.. Saya yang mengamati  sampe dibuat terpana olehnya. Huehehehe… Beneran deh, misalnya yang satu lagi cerita pake Nihongo-Indonesia, yang lain memperhatikan dan menjawab pake bahasa Arab. Kebayang kan ya… Seru! Ada lagi, anak Indonesia baru datang jadi baru bisa pake bahasa Indonesia dan anak Bangladesh (pake bahasa Jepang dan Bangladesh). Saking seringnya lewat main di depan rumah saya, akhirnya saya memahami bahasa yang mereka gunakan. Yang satu pake Bangladesh-an yang lain Indonesia-an. Sejauh ini nyambung-nyambung aja tuh!😀 Keajaiban ini ditopang oleh adanya bahasa tubuh dan ekspresi. Tau sendiri kan ekspresi anak-anak sangat jujur dan tidak tertutup oleh persona apapun. Apa yang disampaikan, itulah keadaan mereka. Dengan demikian, bahasa tidak menjadi kendala bagi mereka untuk saling mengenal satu sama lain. Semuanya nampak bahagia, ga pake salah persepsi segala. Bedanya dengan orang dewasa, meski sudah menggunakan bahasa yang sama seringkali terjadi perbedaan persepsi ketika berkomunikasi. Akhirnya terjadilah salah paham. Kita bisa belajar dari anak-anak untuk selalu positif dan mampu menangkap segala informasi sesuai dengan isi dari informasi tersebut.😉
  2.  Anak-anak mampu memperbaiki hubungan dengan cepat. Suatu ketika ada tiga anak-anak saya yang terlibat keributan di antara mereka, akhirnya ketiga-tiganya menangis bersama. Saat itu saya menjadi satu-satunya orang tua, jadi masing-masing bicara berebutan untuk melaporkan apa yang terjadi. Kebayang kan… tiga anak, berebut ngomong, teriak, saling marah, dan saya kebingungan. Huehehe… Ga jelas apa yang mereka sampaikan.😀 Kalo udah begini mesti ngapain dong? Karena suara saya harus bersaing dengan mereka agar bisa kedengeran, saya pun ga mau rugi. Biar ga teriak-teriak dan hemat tenaga, saya bilang: “STOP!” sambil mengangkat tangan. Secara serentak ketiga anak yang terlibat pertikaian (walaaahhh bahasanyaaa…) menghentikan aktivitas perang mulutnya. Nah, saat itulah saya bisa bicara perlahan. Tentu ga ikutan pake teriak loh yaaa, hihihi.. Saya minta kepada mereka untuk angkat tangan kemudian menyampaikan keluhannya masing-masing *tentu saja ga pake teriak* dan yang lain tidak boleh menyanggah. Saya bilang, “semuanya ada kesempatan untuk berbicara, kalo berebut nanti ga akan ada yang mengerti maksudnya.” OK, mereka sepakat. Satu persatu mulai berbicara dengan versi masing-masing. Teranglah apa yang terjadi, saya mengerti pokok persoalannya. Biasa.. urusan anak-anak.😀 Kemudian saya meminta untuk saling meminta maaf dan memaafkan. Awalnya pada jual mahal gitu ga ada yang mau memulai, saya pun bilang “OK kalo ga ada yang mau, kita tetap saling diam-diaman.” *wuiihh ngancam!* Setelah semuanya diam, suasana mendadak hening. Anak-anak yang lain yang tidak terlibat ribut hanya saling berbicara lewat bahasa mata. Nah loh, apa lagi coba? Wah bisa-bisa diam semua nih, akhirnya saya mengawali dengan memulai meminta maaf kepada anak-anak. Nah barulah mereka saling meminta maaf dan memaafkan. Oalaaahhh… ternyata begitu. Kita harus memulai memberi contoh agar anak-anak tahu bagaimana menyelesaikan masalah. Beberapa menit kemudian, mereka sudah asik tertawa bersama, seolah ga terjadi apa-apa. Waaahhh… ga kebayang perang mulut sebelumnya, yang ada di situ pasti pusing dibuatnya!😀 Begitulah ending penyelesaian ala anak-anak, ada masalah: cepat selesai saat itu, hubungan kembali erat, ga pake dendam kesumat. Hahaha…
  3. Anak-anak selalu bahagia dengan musim apapun. Kita, orang dewasa seringkali mengeluh dengan musim panas, atau dingin. Kalau anak-anak sepanjang tahun bisa menikmati semua musim. Ga percaya? Coba tanya deh, pasti mereka punya agenda masing-masing yang sangat padat di setiap musim tersebut. Misalnya: “Tante, nanti musim aki (gugur) kita jadi jalan-jalan kan?” Saya telah menjanjikan jalan-jalan bersama mereka di musim gugur ini. Selanjutnya, “Kalo aki  nanti ada imonikai; kalo fuyu kita maen ski  ato bikin daruma (boneka salju); kalo haru  kita makan bersama di bawah sakura yaaa (hanami); kalo natsu 夏 nanti kita maen di pinggir sungai (BBQ-an maksudnya).” Agendamu padat sekali, Nak… di semua musim mereka bahagia, ada banyak agenda yang telah mereka siapkan untuk menikmati empat musim tersebut.😀

Tim ga komplit.

Ternyata sudah dini hari (2.41). Sudah dulu ahhh… kalo ga di stop, bisa keterusan sampe subuh. Gawat! Tadi tidur cepet jadi bisa bangun tengah malam dan begadang sampe dini hari. Okey… kapan-kapan dilanjut lagi. Masih banyak cerita lainnya.😀

-RN-

One thought on “Belajar dari Anak-Anak

  1. Pingback: Kenikmatan Menjadi Pendidik: Boleh Mengatakan Tidak kepada Anak « Pojok Cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s